32. Tetangga

1211 Kata
Baru saja aku hendak menyahuti perkataan mama ponselku terasa bergetar dari saku rok. Ternyata panggilan itu berasal dari Febi, segera aku angkat. "Halo, kenapa Feb?" "Gak apa-apa cuma mau nanya kamu udah berangkat belum?" "Bentar lagi kok, kenapa emang?" "Yaudah nanti kalau udah di jalan kirim WA ya." "Iya." Sambungan telepon diakhiri, aku menatap ponselku yang sudah mati itu dengan dahi berkerut karena tidak biasanya Febi bertanya demikiean padaku. Aneh sekali, mungkin itu karena kejadian di perpustakaan yang tidak bisa dia lupakan atau mungkin tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. "Anak sultan?" tanya mama aku mengangguk. "Ngapain, tumben banget?" tanya papa. "Gak tau aneh, Pa. Masa dia nanya Genta udah berangkat apa belum, kalau udah di jalan suruh kirim WA gitu." "Kenapa gitu? Gak biasanya dia gitu setau Mama." "Itu karena ... rahasia deh, soalnya Mama dan Papa gak mau kasih tau yang tadi malem. Jadi, biar adil Genta gak ceritain masalah ini dulu sebelum Papa dan Mama ceritain juga yang tadi malem," jawabku dengan senyum kemenangan. Ternyata ada gunanya juga Febi menelepon pagi ini. Aku langsung melangkahkan kaki menuju mobil duluan, disusul mama dan papa di belakangku. Mama mengunci pintu rumah dan kami berangkat seperti biasa tidak lupa aku mengirimkan pesan kepada Febi bahwa aku sudah akan berangkat. Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Febi sangat rewel karena selaku ingin diberitahukan sudah sampai mana aku dan minta difotokan juga buktinya. *** Saat aku sampai di gerbang depan aku lihat mobil Febi juga menyusul di belakang, setelah cipika-cipiki seperti biasa aku turun dan berpamitan. Setelahnya aku menghampiri mobil Febi dan menunggunya turun. "Febi, Febi pagi-pagi dah makan camilan aja," komentarku ketika melihat Febi sibuk dengan loliponya dan cokelat batang di tangan lainnya. Febi mencopot lolipop yang dia makan "Ngapa si emang gak usah komen-komen kayak netizen, deh," sewotnya Aku hanya tertawa kecil mendengat itu "Oke, oke aku gak akan jadi netizen deh. Oh, iya ngapain kamu pagi tadi telepon aku tumbenan banget, sampai minta _chatan_ sepanjang jalan ke sekolah lagi. Kamu masih takut ya sama kejadian tempo hari, ahai takut nie." Kami mulai berjalan menuju ke dalam kelas bersama anak-anak yang lainnya. "Lha, kapan aku telepon kamu ngelindur ya?" tanya Febi. "Dih, sok ngeles lagi," kataku. Aku kemudian mengeluarkan ponselku dan mencari riwayat panggilan pagi ini, dahiku berkerut saat melakukannya karena tidak ada riwayat panggilan apapun pagi tadi. "Bukannya kamu ya yang inisiatif kirim pesan sepanjang jalan, pakai difoto-foto lagi udah sampai mana," ujar Febi lagi. Aku mengecek ponsel lagi kali ini adalah bagian _chatan_ dan benar saja apa yang Febi katakan bahwa aku mengirimkan banyak pesan kepadanya juga berupa foto saat diperjalanan, ini jadi semakin membingungkan karena tidak ada balasan yang tadi pagi Febi kirimkan. "Kok bisa gini?" gumamku. "Kamu masih ngantuk kali makannya ngelantur," jawab Febi sambil memakan cokelat batangannya. Dia sepertinya mendengarkan gumamanku. "Jangan-jangan kamu ya yang masih takut sama kejadian tempo hari? Ngaku deh." Febi menunjuk wajahku dengan wajah usil juga pipi tembamnya itu. "Gaklah, ngapain juga takut sama kejadian tempo hari kalau ada kejadian yang lebih serem lagi," jawabku keceplosan, aku refleks menutup mulutku. "Ha, kejadian yang lebih serem emang apaan?" tanya Febi mulai kepo. Karena asyik mengobrol dan tidak memperhatikan jalan membuatku menabrak seseorang dari arah yang berlawanan. Daratan mulus yang menyebabkan nyeri di bagian kaki terasa, aku belum menyadari siapa yang aku tabrak karena sibuk meringis. Akhirnya aku berdiri dan ingin meminta maaf karena kesalahanku itu, kutatap orang yang tertabrkak itu dan ternyata itu adalah Pak Sya wali kelas kami. "Maaf ya, Pak. Saya gak sengaja karena keasyikan ngobrol maaf, Pak." "Iya, gak apa-apa kok, Nak. Lain kali hati-hati ya." Pak Sya tersenyum ke arahku, kemudian membereskan semua kertas yang dia bawa. Aku ikat membantu, sedangkan Febi hanya melihat sambil memakan cokelatnya yang tinggal setengah itu. "Terimakasih," ujar Pak Sya sambil menerima kertas yang sudah aku pungut dan bereskan. Setelahnya Pak Sya langsung pergi dari sana. "Makan mulu bukannya bantuin," omelku pada Febi. Dia hanya yengir kuda. *** Pelajaran pertama dimulai, akhirnya kesibukan sebagai pelajar akan dimulai kembali. Dengan semangat kulihat wajah teman-temanku yang tersenyum lebar seperti tidak sabar untuk menerima pelajaran hari ini, maklum semangat semester dan sekolah baru memang begitu. Ngomong-ngomong soal kelasku, aku belum mengetahui semua murid yang ada di sini hanya beberapa saja pertama yang pernah aku wawancarai saat pertama kali sekolah, kedua anak-anak yang memang mempunyai aura menjadi famous di sekolah sejak dini, dan ketiga adalah anak yang punya cirikhas tertentu seperti anak yang jahil misalnya. Pelajaran berjalan lancar sampai jam istirahat berbunyi, baru hendak aku berdiri dari kursiku sekelompok murid perempuan yang juga merupakan teman sekelasku menghampiri mejaku. "Genta, Febi, kita ikut bareng kalian ya ke kantin," kata salah seorang dari mereka yang rambutnya hitam panjang berkilau, aku melihat nama di bajunya. Namanya unik, yaitu Kilau Hana. Aku ingin tertawa sebenarnya melihat namanya yang menurutku lucu itu tapi aku tahankan, namanya benar-benar cocok dengan rambutnya itu. "Boleh aja, kok," jawab Febi sambil membuka makanan ringan rasa cokelat. "Iya, kita gak keberatan kok, ayo aja." "Makasih," ucap Sanua Andrana yang biasa dipanggil si Anu, aku juga tidak paham kenapa dia dipanggil begitu. Akhirnya kami berjalan beriringan berlima menuju ke kantin. Beberapa mata mengarah kepada kami saat itu, entah karena kami rombongan atau memang karena rambut berkilau milik Hana. *** "Genta, sahabatmu yang imut ini duluan ya udah dijemput, tuh," kata Febi sambil menunjuk mobil hitamnya yang sudah dekat. "Sip." "Oh, iya lupa nanti hari minggu aku jemput kita main ke rumahku atau kalau gak kita jalan-jalan dan makan gitu buat nebus yang waktu kamu sakit itu." "Boleh, dong. Oke deh, hati-hati di jalan," sahutku. Febi mengangguk kemudian masuk ke dalam mobilnya. Aku menunggu papa menjemput hari ini karena katanya papa pulang cepat, karena masih trauma dengan kejadian kemarin aku dan Febi menunggu di depan gerbang kedua bukan di halte. Tidak lama papa menjemputku. "Wah, ada mobil pindahan ya, Pa?" tanyaku saat aku melihat mobil putih besar yang melintas di depan kami dengan bacaan besar sebagai mobil pindahan. "Papa juga gak tau, Dek. Tanya Mama aja nanti," jawab papa. "Habis ini Papa gak kerja lagi kan? Jadi bisa dong ceritain yang kemarin," rengekku. "Ini Papa jemput kamu karena makan siang Dek di kantor bukan karena Papa pulang cepat," jawabnya. "Lho, jadi yang tadi?" "Itu, gak bisa Dek tiba-tiba ada jadwal dadakn suruh lembur sama Bos. Tadi Papa baru dapat telepon gak lama sebelum kamu kirim pesan ke Papa," jelas papa. Aku hanya mengangguk mencoba mengerti dan mencoba tidak ada sama sekali wajah cemberut yang tercetak di wajahku. "Ma, itu tadi ada mobil pindahan mau pindah ke mana ya, Ma? Mama tau gak?" tanyaku sambil mencium tangan mama. "Oh, itu. Iya, Ta mau pindah ke sebelah," jawab mama. Wah, informasi para mama-mama emang keren, udah tau lebih dulu. "Mama tau gak orangnya siapa Ma, atau kerja apa gitu?" tanyaku iseng kepada mama hanya ingin mencari tau seberapa hebat informasi para mama-mama ini. "Katanya si guru, Ta." Aku tercengang bagaimana mama bisa tau juga secara bersamaan kagum akan informasi pro para ibu-ibu. "Mama, tau informasi dari mana?" "Ya dari Ibu-ibu lain, Sayang. Walaupun rumah kita berjarak satu meter per rumah tapi gak menghalangi Mama buat gosip dong, Genta. Apa gunanya WA saat ini, juga kan Mama punya waktu luang jadi bisa kenalan sama mereka sekalian jalan-jalan, liat-liat," jawab mama dengan senyuman mengembang lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN