Aku hanya menggaruk rambut yang tidak gatal, sepertinya mama benar-benar semangat untuk mengumpulkan informasi perihal tetangga baru itu atau mungkin juga mama memang senang bergosip di WA bersama ibu-ibu lainnya dan bertemu mereka saat mama senggang. Yang pasti aku tidak terlalu paham bagaimana ibu-ibu bisa mencari informasi sampai sedetail itu, mungkin harus menjadi ibu-ibu dulu untuk mengetahuinya.
"Oh, iya Mama masak apa hari ini?" tanyaku mengalihkan topik.
"Ntar lihat aja sendiri," jawab mama.
"Ma, Dek, Papa pergi dulu ya sebentar lagi jam makan siang udah habis."
"Eh, eh, Pa sebentar. Papa udah makan bekal buatan Mama kan untuk makan siang? Supaya Papa gak cari tempat makan lagi dan ribet," tanya mama mencegah langkah papa saat akan keluar rumah.
Aku melihat adegan perhatian mereka sambil bertompang dagu.
"Udah kok, Ma. Sebelum jemput Adek tadi udah Papa makan duluan," jawab papa.
"Oh, jadi Papa dua hari ini lama jeput Genta karena makan bekal cinta dulu," celetukku menyela.
"Iya dong, Dek," jawab papa tanpa ragu, malah tersenyum bahagia.
Aku mengangguk-ngangguk "Genta juga mau don, Ma dibuatin bekal cinta," kataku sambil cengengesan.
"Ih, kamu ya Genta bisanya ngeledek aja," jawab mama dengan wajah sok galak. Aku hanya tertawa.
"Yaudah, Papa berangkat, ya."
"Hati-hati, Pa!" seruku dan mama bersamaan.
Aku kemudian ke kamar untuk berganti pakaian sedangkan mama sepertinya akan mulai menyiapkan makan siang. Teringat lagi perkataan mama tentang tetangga baru itu, katanya dia adalah seorang guru. Mungkin jika aku bisa akrab dan dekat dengannya dia bisa menjadi guru privatku agar aku bisa mengalahkan Febi dan juga bisa lebih leluasa karena rumah yang dekat, tapi aku juga yakin kalau Febi akan menyewa guru yang jauh lebih baik juga lebih mahal. Untuk pendidikan orangtua kami, juga anak-anaknya ini bersaing menjadi yang terbaik agar sukses nantinya.
Selesai berganti pakaian aku turun ke bawah, melihat mama yang sedang asyik bersenandung lagu ynag tidak aku tau sambil mencuci sayuran.
"Kamu udah laper, Ta?" tanya mama.
"Belum kok, Ma," jawabku "mau Genta bantui gak?" tawarku pada mama.
"Gak usah. Oh, iya kenapa kamu gak cari tau soal tetangga baru kita itu sambil jalan-jalan gitu lihat lingkungan sekitar sini," usul mama.
"Bener, Ma. Ide yang bagus," jawabku setuju. Aku langsung menuju ke depan rumah dan melihat sekitar baru aku sadari bahwa di sini sangat tenang. Dengan banyak pepohonan di sisi kiri dan kanan menuju ke wilayah ini, dan butuh waktu tiga puluh menit untuk ke jalan raya.
Tidak hanya itu perumahan di sini juga berjejer rapi berbaris tiga dengan jarak yang cukup jauh, entahlah karena memang agar tidak ada keberisikan dari tetangga kiri-kanan makannya dibuat seperti itu atau karena memang lahannya yang luas. Dari tempatku berdiri saat ini tepatnya di belakang pintu pagar aku lihat mobil besar putih yang merupakan mobil pindahan rumah itu agak jauh di depan sana.
Beberapa pekerja mobil itu menurunkan barang-barang dan memasukkannya ke dalam rumah, aku menyipitkan mata berusaha melihat satu per satu sosok yang ada di sana. Aku mengucek mata karena terasa pandanganku kabur, tidak hanya itu mataku juga terasa sedikit perih.
"Kebanyakan liat papan tulis kali ya," gumamku pada diri sendiri. Aku kemudian menarik napas, memejamkan mata sejenak dan mencoba melihat ke arah sana lagi. Masih agak buram tapi tidak terlalu, akhirnya aku memutuskan untuk pura-pura berjalan-jalan saja sambil melihat mereka karena penasaran.
"Ma, Genta mau jalan-jalan dulu, ya!" teriakku pada mama agar terdengar sampai ke dalam.
"Iya, Sayang," jawab mama ikut berteriak juga.
Setelah mendapatkan jawaban aku membuka pintu pagar yang sudah diperbarui dan dicat lebi rapi itu, aku jadi teringat saat kami pindah dulu kami tidak menggunakan mobil putih seperti itu karena beberapa alasan. Pertama, mengurangi biaya untuk jasa mobil pindahan. Kedua, karena barang kami tidak terlalu banyak dan juga cukup di bagasi mobil yang kecil walay harus berdesak-desakan anataran satu barang dengan barang lainnya, karena semua perbotan adalah milik perusahaan papa yang dulu dan merupakan fasilitas dengan rumah itu. Ketiga, tentu saja karena kami belum membeli rumah saat itu.
Aku berjalan-jalan sambil menikmati sejuknya angin siang yang menerpa wajah, cuaca hari ini mendung dan tidak terik sama sekali sangat cocok. Karena kejadian yang membuatku pusing ahir-akhir ini sampai tidak bisa menikmati lingkungan yang begitu menenangkan ini, untunglah semua orang yang menyayangiku mampu menghilangkan bayangan kejadian buruk yang ada sehingga tidak menghantui walaupun sesekali di momen tertentu pasti aku teringat hal itu.
Sampai juga akhirnya aku di depan rumah itu, kondisi rumahnya tidak jauh berbeda dengan rumah kami waktu itu. Yang anehnya adalah rumah di pinggiran kota ini atau entahlah hanya rumah kami mendapatkan perabotan yang ada di sana beserta rumahnya saat membeli dan menguntungkan pembelinya, mungkin karena di sini wilayahnya terlalu jauh dari pusat kota.
Aku memicingkan mata seperti tau siapa yang berdiri di depan pintu pagar rumah itu, dia melihat ke arah para pekerja yang masih menurunkan barang-barangnya.
"Pak, Sya," panggilku yang menurutku tidak terlalu kencang tapi Pak Sya langsung menoleh ke arahku.
"Kamu?" Pak Sya menuju ke arahku, aku hanya berani diam membeku di tempat. "Eh, kamu salah satu murid saya ya? Sebentar saya ingat-ingat dulu ya nama kamu." Seperti biasa beliau mulai berpikir tanpa memikirkan sekitar cukup lama.
"Oh, iya kalau tidak salah nama kamu Genta Anstara bukan?" tanyanya membuat aku terkejut karena bisa mengingat nama panjangku.
"Iya, Pak saya Genta Ansatara," jawabku terkesan bebelit-belit.
"Syukurlah kalau benar karena saya memang sedang berusaha mengingat nama para siswa saya walau tidak mudah," sahutnya lagi terkesan curhat di telingaku "oh, iya ngomong-ngomong kenapa kamu bisa sampai di sini? Main ke rumah temankah atau hal lainnya?"
"Oh, itu Pak rumah saya ada di seberang sana. Paling pinggir dan paling terakhir." Aku menunjuk ke arah rumahku yang ada di depan sana.
"Wah, berarti kita tetangga. Kalau begitu mohon bantuannya sebagai tetangga baru kalian, maling saling menolong jika ada kesulitan," kata Pak Sya dengan senyum lebar. Pak Sya memang benar-benar ramah dan ceria, serta sangat suka bicara menurutku.
"Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak," pamitku yang diangguki oleh Pak Sya dengan senyuman yang belum hilang dari bibirnya. Segera aku pergi tanpa melihat ke belakang sedikit pun.
"Gimana, Dek dah tau belum siapa tetangganya?" tanya mama saat aku masuk.
"Guru di sekolah Genta, Ma," jawabku.
"Wah, bagus dong itu. Siapa namanya?" tanya mama terlihat kegirangan sambil terus mengaduk masakan di wajan.
"Pak Syawalhudin panggilannya Pak Sya."
"Kalau gitu siap makan siang nanti kita anterin masakan Mama ke Pak Sya, yuk," ajak mama.
"Mama sendiri aja deh," tolakku.
"Ih, gak mau pokoknya kamu juga harus ikut kan guru kamu."
Dengan terpaksa aku mengangguk dengan wajah cemberut.
"Nah, ini buat Pak Sya," kata mama. Aku melihat sayuran yang telah mama masak diletakkan ke dalam toples bening yang bisa disusun.
"Niat amat," cicitku.
Setelah makan siang mama langsung menarik tanganku menuju ke tempat Pak Sya, mama benar-benar bersemangat entahlah apa sebabnya. Kebetulan Pak Sya ada di depan pintu pagar, mobil pindahan itu sudah tidak lagi ada di sana. Melihatku dan mama, Pak Sya langsung menghampiri kami.
"Halo, Pak perkenalan saya Sarah Mamanya Genta."
"Oh, iya Bu senang berkenalan dengan Ibu."
"Ini, Pak tadi saya masaknya kelebihan tolong diterima, ya Pak." Mama menyodorkan masakan yang dia buat.
"Wah, dengan senang hati, Bu. Terimakasih," jawab Pak Sya sambil menerima pemberian mama itu. Aku hanya melihat mereka.
"Jangan salah tanggap ya, Pak. Ini hanyalah sambutan untuk Bapak sebagai tetangga baru kami. Tapi kalau tidak keberatan tolong diawasi lebih si Genta ini, Pak."
Aku melotot saat mama berkata demikian ternyata ada udang di balik bakwah, eh batu. Mama begitu bersemangat karena hak ini, pantas saja.
"Tentu, Bu. Semua murid akan saya perhatian selalu," jawab Pak Sya membuatku senang, tapi tidak dengan wajah mama.
"Iya, Pak. Kalau begitu kami permisi ya, Pak. Piring belum dicuci soalnya," pamit mama.
"Permisi, Pak," timpalku.