34. Penjelasan

1106 Kata
"Mama gak boleh gitu, ih. Maksudnya Mama kenapa gitu sih?" "Ya, gak apa-apa cuma ngetes aja dia guru jujur apa mudah disogok," jawab mama sambil tertawa. "Mama aneh-aneh aja, deh," sewotku. "Ya gak mungkinlah Mama punya maksud gitu, Ta ada-ada aja kamu. Mama itu maunya kamu usaha sendiri bukan malah orangtua yang nyogok gurunya gak jujur dong namanya." "Lha, tapi tadi Mama udah bilang gitu bukannya nanti Pak Sya mikir Mama ada maksud tertentu?" "Kalau itu mah beres, aman pokoknya," jawab mama. "Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti. "Di dalam sayuran itu udah Mama masukin catatan permintaan maaf," jawab mama. "Lha, kapan Mama nyiapinnya? Genta gak liat, tuh." "Ih, kepo deh." Mama terkekeh. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mama itu, aku hanya berharap Pak Sya tidak berpikir macam-macam soal perkataan mama tadi. Kedatangan Pak Sya sebagai tetangga sangat tidak terduga, membuat aku bingung harus bersikap bagaimana nantinya di sekolah. Apalagi kalau sampai yang lain tau bisa dikira keluargaku mendekati Pak Sya dan spekulasi lainnya dari mereka. Aku menggelengkan kepala, mungkin aku berpikir terlalu jauh. Yang penting aku tidak melakukan hal itu. *** Waktu makan malam telah tiba, aku langsung turun ke bawah untuk melihat mama atau membantunya. Karena pekerjaan rumah belum terlalu menumpuk jadi aku ingin menikmati waktu membantu mama lebih lama karena banyak kejadian yang tidak terduga dan entah apa yang akan terjadi pada hari esok, walau pasti berharap semua baik-baik saja tidak ada salahnya menikmati setiap detik yang ada malah itu bagus sekali. "Mama, ada yang bisa Genta bantu?" "Kamu susun piring sama peralatan makan lainnya," jawab mama. "Siap." Segera aku mengangkat piring dan menyusunnya satu persatu disusul oleh perlatan makan yang lain. "Papa belum pupang ya, Ma?" "Iya, belum. Mungkin kerjanya udah mulai sibuk." "Iya, ya. Kalau gitu nantu pas Papa lembur kita makan malam berdua aja dong, Ma," ucapku sedih. "Ya gak juga dong, Sayang. Pasti Papa mau dan akan sempetin waktu buat makan bareng kita." Aku hanya mengangguk, seketika aku teringat ingin meminta penjelasan dari kedua orangtuaku terkait peristiwa malam itu. Jika papa tidak bisa menjelaskan malam ini karena lelah bekerja mama pasti tau sesuatu, sambil terus menyusun peralatan makan aku mencoba kata yang tepat untuk memulai percakapan lagi. "Ma, kan Papa agak lama nih kita mau tunggu aja gak?" "Mama sih mau aja, Ta. Tapi nanti kamunya gimana, emang gak ada tugas sekolah?" Aku menggelengkan kepala "Gak ada, Ma. Kan belum terlalu padet jadwlanya jadi masih aman." "Yaudah, kalau gitu kita tungu aja." "Sambil ngobrol bareng Mama, ya? Kalau dipikir-pikir kan udah lama, Ma kita gak ngobrol berdua gini," bujukku. Mama mengangguk kemudian duduk di salah satu meja makan. Aku merasa senang karena mama termakan pancinganku, setelah ini mama pasti tidak akan bisa mengelak. Aku kemudian ikut duduk di depan mama, kami duduk berhadap-hadapan. "Ma, Genta mau nanya deh," kataku memulai pembicaraan. "Oh, Mama tau pasti kamu mau nanyai soal yang tadi malam, kan?" tanya mama yang tepat sasaran. "Nah, itu Mama tau," jawabku sambil tersenyum. "Jadi ...." "Papa pulang!" seru papa memotong perkataanku sambil membuka pintu. Aku mengepalkan tangan sambil menghela napas frustrasi, ada saja yang menghalangi saat rasa pemasaranku telah memuncak. "Selamat datang, Pa. Papa mandi dulu sana udah Mama siapkan air hangat terus kita makan sama-sama ya." "Iya, Ma. Adek sabar dong nanti Papa jelasin semuanya Papa bersih-bersih dulu ya." Papa tersenyum kemudian pergi ke menuju ke atas. Wajahku seketika cerah, akhirnya papa mengerti juga apa yang aku inginkan. Dengan tidak sabar aku menunggu papa sambil mengetuk-ngetuk meja makan dengan jari telunjuk. "Cepet dong, Pa!" seruku saat papa terlihat menuruni anak tangga. "Iya, iya," jawab papa. Kami akhirnya makan, aku makan dengan cepat karena benar-benar tidak sabaran. "Makannya pelan-pelan dong, Sayang. Nanti keselek, lho." Aku hanya mengangguk mendengar perkataan mama itu, tapi sebenarnya tetap saja aku makan dengan cepat. "Jadi-jadi gimana penjelasannya, Pa, Ma? " rengekku. "Sebentar dong, Dek. Papa dan Mama masih makan," jawab papa sambil meminum air putih. Aku hanya memasang wajah cemberut sambil menunggu mama dan papa menyelesaikan makan mereka. Setelah mereka selesai dengan bersemangat kuangkat semua piring menuju wastafel, dan kembali duduk di meja makan. "Udah, kan? Cepetan!" seruku sudah tidak sabar. Papa dan mama hanya geleng-geleng kepala saja. "Oke, oke. Jadi, gini Sayang Papa dan Mama ini bukan seperti yang kamu pikirkan," kata papa mulai menjelaskan. Aku mengerutkan dahi tidak paham, tapi tidak ada pertanyaan yang terlontar aku tidak mau menyela papa agar lebih jelas. "Kami ini punya suatu rahasia," tambah mama. "Sebenarnya sudah lama kami menyembunyikan ini, tapi karena kami lihat kamu sudah cukup umur untuk mengetahui ini semua jadi akan kami ceritakan." Papa terlihat menatap mama sekilas, dan mama mengangguk kecil. "Kami bingung harus mulai dari mana, tapi kami ini punya ilmu rahasia dari turun-temurun. Kami belum bisa ceritakan semuanya, Sayang yang perlu kamu ingat adalah kami akan selalu menjaga kamu," jelas mama sambil mengelus tambutku. "Hah, hah? Maksudnya, maksudnya punya ilmu turun temurun itu gimana?" tanyaku tambah bingung "perasaan Genta gak pernah punya ilmu apapun." "Papa dan Mama gak bisa jelaskan semuanya sekarang, Nak. Soalnya ini ada hubungannya sama cerita zaman dulu saat desa Nenek masih dijajah. Tentang kenapa kamu gak punya ilmu itu juga adalah karena itu belum diturunkan ke kamu, harusnya Nenek menurukannya ke Papa dan Papa turunkan ke kamu saat waktunya tadi. Namun, ada satu benda yang menyimbolkan hal itu." "Tapi, Pa dikasus sekarang sudah beda cerita. Kemarin Mama cari tau ternyata itu simbol untuk menjadi bagian dari mereka dan pemimpinnya bukan lagi jadi simbol penurunan kekuatan." Mama menatap papa. "Untuk yang itu nanti saja, Ma. Genta gak perlu tau dan terjerat dalam hal itu." "Tunggu-tunggu, Genta jadi tambah bingung, nih." "Intinya, Sayang jangan kamu cari tau semuanya atau kamu akan menyesal. Kami melakukan ini demi kamu, kami sudah membatasi kamu dengan diri kami sendiri agar kamu tidak terlibat. Percaya sama Mama dan Papa bisa kan?" tanya mama sambil memegangi tanganku. "Papa juga menyarankan bendung rasa penasaran kamu itu, karena kamu itu kalau udah penasaran pasti dicari tau sampai ke akar-akarnya," timpal papa. "Iya, iya, Genta gak kepo lagi deh," jawabku. "Jawabnya sih iya, Pa. Tapi mukanya cemberut." Mama mencubit pipiku. "Ya gitu, Ma si Adek." Papa tertawa. "Ih, Mama sama Papa," ujarku sebal tapi kemudian ikut tertawa, selalu saja mereka kompak kalau mengejekku. "Bentar, kita lanjut ngobrol-ngobrol lagi ya. Bentar Mama ambil camilan yang tadi Mama buat." Mama berdiri dan menuju ke arah dapur membuka lemari bagian atas dan mengambil sebuah toples, aku ikut ke dapur membawa tiga minuman rasa buah dari kulkas beserta gelasnya. Kami kemudian melanjutkan obrolan kami dengan camilan dan minuman. Sampai bunyi kursi terjatuh terdengar, dan ternyata kursi yang jatuh adalah di sebelahku. Sontak aku menoleh, dan dia tersenyum sangat menyeramkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN