Sontak aku berdiri ketika melihat wajah yang tidak asing itu, ternyata si kerdil kembali kini dia ada di sampingku sangat dekat. Dia tersenyum dengan pisau di tangan kanannya, badanku seperti tidak bisa digerakkan walau mataku menatapnya dengan takut. Detik berikutnya dia terkapar ketika ada sebuah benda yang tidak lain adalah kursi menimpa tubunya yang kecil itu.
Terasa seperti tangan menarikku, saat ditarik aku seperti tersadar kembali. Aku langsung melihat siapa yang menarikku dan ternyata orang itu adalah mama, mama langsung memelukku sambil mundur ke arah dapur mama juga perlahan mengambil pisau dari tempatnya.
Aku bisa melihat yang mama lakukan dengan sedikit melirikkan mataku. Suara mengeram mengalihkan perhatianku ke arah si kerdil lagi, dia terlihat sudah berdiri kembali dengan serpihan kayu yang berserakan di sekitarnya.
"Kalian satu keluarga sama saja!" teriaknya dengan mata memerah. "Dan kamu jangan kamu pikir karena kamu anak Nyai aku takut padamu, kamu tidak sebanding dengannya!" Dia mengacuhkan pisau ke arah papa menunjuk wajah papa yang sudah mulai berubah seperti malam itu.
"Memang, aku hanya mewarisi sebagiannya saja karena terlahir dari keluarga itu. Tapi, jangan kamu pikir aku akan biarkan kamu menyakiti keluargaku!" Mata papa sudah terlihat merah dengan kulit yang awalnya cokelat perlahan menjadi legam. Aku berbalik badan karena merasa tangaku dicengkam terlalu kuat, saat aku lihat mama juga sudah berubah.
Berusaha aku lepaskan tanganku dan berhasil sebelum kuku panjang mama berhasil menembus kulitku walau sudah ada goresan di sana untungnya tidak terlalu parah.
Perhatianku teralihkan lagi ke arah depan kali ini si kerdil melompat dan berusaha menusuk papa, untungnya papa dengan sigap menghindar. Si kerdil tidak menyerah dia terus-menerus menyerang papa sampai keduanya kelelahan dengan napas yang tidak teratur. Aku yang melihat hal itu benar-benar sangat cemas.
Mama kemudian mendorongku ke belakang sedangkan dia menuju ke arah papa, sekarang si kerdil dihadapkan oleh dua orang yaitu mama dan papaku. Mereka seperti memberikan isyarat ke masing-masing dengan saling menatap kemudian mengangguk kecil, mulai menyerang si kerdil tapi dia juga dengan lincah bisa menghindari serangan pisau dari mama dan cakaran dari papa.
Aku juga baru sadar kalau kuku papa menjadi panjang hitam kali ini, tidak mau terpojok aku rasa si kerdil berusaha melawan mereka berdua dengan melompat ke sana dan ke sini sambil mengacuhkan pisaunya. Nyaris pisau itu mengenai wajah mama kalau saja tidak papa tarik tanggannya, alhasil pisau itu hanya memotong sedikit rambut mama.
Mama berteriak kemudian dengan membabi buta melancarkan serangan lebih ganas dari sebelumnya. "Beraninya kamu!" marahnya. Serangan mama mampu membuat si kerdil kewalahan dan papa bersiap di belakang si kerdip untuk menangkapnya kemudian berhasil, mereka berhasil menangkap makhluk itu.
Papa mengambil pisau yang tidak sesuai dengan badan si kerdil alias lebih besar dari tangan kecilnya itu, kemudian meletakkannya di atas meja. Mama mengambil pisau itu menggenggamnya erat dan perlahan pisau itu menjadi abu dengan warna merah seperti bekas nyala api yang menyelimuti.
"Mama dan Papa gak apa-apa?" tanyaku yang sama sekali tidak mereka jawab, mereka hanya menatapku dengan mata merahnya membuat aku mundur kembali dan ketakutan.
Air mataku mengalir tanpa diminta, mereka seperti bukan mama dan papa yang aku kenal. Aku terduduk di lantai sambil menangis. Tidak lama kemudian aku merasakan ada yang memelukku sambil terisak.
Aku kenal betul suara ini, kulihat siapa yang memelukku dan benar saja itu adalah mama. Perlahan kulit mama yang hitam legam berubah menjadi seperti semula.
"Mama," lirihku, aku pun membalas pelukan mama. Pisau yang mama pegang sekarang berada di sampingku, saat kubalas pelukan mama dia memelukku dengan lebih erat lagi.
"Ah, lepaskan!" Seruan dari si kerdil mengalihkan perhatianku sejenak, kulihat papa belum berubah kali ini papa juga mencengkram si kerdil sama seperti kedua makhluk kemarin.
Aku melepaskan pelukan mama dan kemudian berdiri menghampiri papa. Aku memegang lengan papa yang uratnya sudah menonjol itu, rasanya lengan papa sangat panas.
"Papa, jangan bunuh dia berikan dia kesempatan bicara dan kita tanyai apa maunya. Lagipula sebelum ini Genta udah maafin dia, Pa karena waktu itu dia nyulik Genta dan hampir jadiin Genta persembahan," ujarku. Namun, sepertinya aku salah bicara karena aku lihat otot papa menonjol semakin keluar dan kurasakan cengkraman papa juga ikut mengeras.
"Papa dengarkan Genta!" seru mama yang tiba-tiba juga sudah ada di sebelahku, mama juga memegang lengan papa. "Genta, Sayang ambilkan tali di gudang belakang ya, cepet!" pinta mama, aku mengangguk dan gelagapan langsung menuju ke belakang.
Dengan panik aku membuka pintu gudang yang ada di taman belakang, dan mencari tali memberantaki semua benda yang ada di sana. Aku takut papa dan mama berubah lagi, takut kalau si kerdil diapa-apakan oleh mereka, takut hal buruk lainnya juga terjadi. Cemasku semakin menjadi membuat tangan gemetar dan sulit sekali, sampai akhirnya aku menemukan tali tambang yang digulung rapi.
Akhirnya aku bawa tali itu dengan cepat, tapi semakin aku ingin cepat entah kenapa malah gerakanku menjadi terasa lambat.
"Ini, Ma," kataku sambil menyodorkan tali itu ke arah mama, saat melihat semua masih dalam posisi semula rasanya aku lega.
Mama mengambil tali itu, papa melepas cengkramannya membuat si kerdil jatuh ke lantai. Aku bisa merasakan ngilunya juga sampai aku ikut meringis, mama kemudian dengan mudahnya mengangkat si kerdil dan meletakkannya di kursi yang masih utuh kemudian dengan cekatan mengikat seluruh tubuh dan tangannya ke kursi itu.
Perlahan aku lihat papa kembali seperti semula ketika mama selesai mengikat si kerdil.
"Papa!" seruku kemudian dengan cepat memegangi tubuh papa yang hampir saja terjatuh begitu juga dengan mama.
"Papa kecapean kayaknya, Ta," jelas mama. Kami kemudian perlahan menuntun papa menuju ke sofa, dan menidurkannya tidak lama suara dengkuran terdengar bersamaan dengan napas papa yang teratur membuat perutnya naik-turun secara perlahan tanda papa sudah tidur.
"Kamu jagai Si kerdil dulu ya, Sayang. Mama mau ambil sesuatu biar dia gak bisa kabur," kata mama, belum ada aku memberikan jawaban mama sudah langsung naik ke atas.
Aku melihat papa sekali lagi, sebelum akhirnya menuju ke ruang makan dan melihat si kerdil. Di sana ternyata dia berusaha melepaskan ikatannya dari kursi dengan menggerak-gerakkan badannya.
"Diam, jangan bergerak!" anmcamku menggunakan pisau yang ada di atas meja dan mengacungkan kepadanya.
Dia tertawa sumbang "Memangnya kamu pikir tangan gemetarmu memegang pisau itu bisa membuatku takut?" tanyanya. Benar juga baru pertama kali dalam hidupku aku mendodong seseorang seperti bukan, dia bukan seseorang tapi makhluk mirip manusia.
Aku melihat ke arah tangga yang ada di depan sana berharap mama segera turun, aku melihat kearahnya tapi dia seperti sudah berhenti bergerak untuk melepaskan tali itu. Dia hanya tersenyum miring ke arahku.
"Jangan berusaha mendiskriminasiku atau menakutiku dengan senyum jelekmu itu!" seru dengan suara bergetar.
Tidak lama mama turun dari tangga membawa beberapa barang.
"Terus awasi dia, Sayang jangan sampai lengah," kata mama ketika aku mau meletakkan pisau itu dan berniat membantunya, aku mengangguk kemudian terus melihatnya dan menodongkan pisau tidak peduli tangan yang sudah mulai pegal. Tanganku tidak lagi gemetar seperti tadi mungkin karena ada mama.