Kulihat mama menaburkan garam ke sekitar kursi membentuk lingkaran, setelah itu mama menyalakan lilin juga disusun membentuk lingkaran juga. Selanjutnya mama menaburkan bunga yang wanginya sangat tidak aku sukai dan aku tidak tau bunga apa itu.
Tidak hanya itu saja mama juga meletakkan piring yang disusun keliling sama seperti yang tadi, piring itu terbuat dari tanah liat dan setiap piring mempunyai isi yang berbeda ada yang isinya bunga berwarna-warni, kopi, rokok, garam dan gula, juga benda yang mirip seperti papa buatkan untukku.
"Apa ini, Ma?" tanyaku.
"Ini untuk menahannya untuk keluar, Sayang. Penjara yang tidak terlihat," jawab mama.
Aku menelan slavinaku, hal-hal gaib terasa lebih menyeramkan saat ini padahal dulunya aku tidak terlalu percaya akan hal itu. Kali ini mama duduk bersila sambil memejamkan matanya, mulutnya komat-kamit seperti membaca sesuatu tapi aku tidak bisa mendengarnya.
Tidak lama dari itu muncul sebuah cahaya hijau muda di sekeliling si kerdil, kemudian cahaya itu menghilang. Mama kembali membuka matanya.
"Sayang, sebaiknya kamu tidur karena ini sudah larut. Besok kan kamu sekolah," ujar mama sembari berdiri.
"Tapi, Ma ...."
"Sayang sekolah kamu itu penting biar Mama yang jaga dia malam ini, ya."
Aku tidak yakin akan menjawab iya, aku melihat ke arah manusia kerdil yang tidak lagi tersenyum itu sekarang dia malah menatapku dengan mata tajam dan seperti penuh amarah.
"Gak, Ma. Genta gak bisa tenang kalau tidur sendirian di kamar, Genta tidur di sini aja ya pakai kasur lipet," kataku pada mama.
"Yaudah kalau gitu sana kamu ambil kasur lipetnya di kamar Mama sama Papa, terus kamu tidur di sini ya." Mama mengelus rambutku. Aku mengangguk kemudian meletakkan pisau itu walau tidak lama mama mengambilnya kembali, aku segera menuju kamar dan mencari pisau lipat itu.
Tentu aku akan merasa jauh lebih baik jika begini, kalau di kamar pikiranku tidak akan bisa tenang, tentu saja. Aku takut, dan khawatir pada mama dan juga papa.
Secepat mungkin aku mengambil semua perlatan tidur selain kasur lipat itu, guling dan juga bantal tidak lupa aku bawa. Aku juga membawa selimut dari kamar mama dan papa untuk menyelimuti papa yang sedari tadi belum juga terbangun dari sofa.
Jujur cemas mulai melanda, pikiran negatif mulai menyerang. Aku menempelkan kupingku ke d**a papa dan ternyata masih ada detak jantung di sana, belum merasa yakin aku merasakan apakah papa masih bernapas dan ternyata masih. Kuembuskan napas lega. Aku tidur di sebelah sofa dekat dengan papa, sedangkan mama masih setia menunggu di ruang makan. Aku menyetel alarm ponselku agar bisa bergantian berjaga bersama mama, kasian mama kalau tidak tidur semalaman.
Ketika alarm itu berbunyi aku segera bangun, ternyata mama sudah tertidur di sana. Aku kembali ke ruang tamu dan mengambil selimut kemudian menyelimutinya ke mama. Kulihat si kerdil yang tidak kunjung tidur juga, dia masih saja menatap dengan mata tajamnya itu.
"Apakah kamu tidak lelah?" tanyaku walau aku tidak yakin dia mau menjawabnya.
"Aku ini tidak tidur saat malam dan hanya tidur saat pagi sampai sore saja," jawabnya di luar dugaanku.
"Jadi kamu ini seperti kelelawar ya?"
"Enak saja, jangan samakan aku dengan makhluk yang tidak mempunyai otak!" marahnya.
"Lagipula kenapa pula kamu harus terus mengejarku, memangnya Ibumu tidak mencarimu?"
"Jangan sebut dia dengan mulut kotormu itu!" Dia mencoba berontak dengan menggoyangkan kursi, aku segera mengambil pisau yang tergeletak tapi sepertinya dia tidak berhasil untuk melonggarkan tali itu. Sampai dia berhenti barulah aku menurunkan pisau itu juga.
"Memang apa salahku!? Bukannya dia yang meminta tolong aku untuk menyelamatkanmu!?" tanyaku mulai emosi.
"Harusnya kamu tidak perlu melakukan itu jika nyawanya harus ditukar dengan nyawaku!"
"Apa maksudnya itu!? Jangan berputar-putar jelaskan saja, aku sudah muak!" Aku tidak bisa lagi menahan emosiku, tidak pernah aku semarah ini sebelumnya. Aku menggebrak meja yang sukses membuatnya sedikit terkejut, mungkin dia pikir aku ini tidak bisa marah.
"Baiklah, mari aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya tujuanku mengerjarku!" ungkapnya.
Aku tidak menyela maupun menyahut hanya mendengarkan dan menanti apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Tujuanku mengejarmu selama ini adalah ingin membunuhmu, menuntut kematian Ibuku! Aku ingi kamu mati, mati, mati, mati!" jelasnya, benar-benar jelas.
"Heh, apa-apaan itu kamu yang salah kamu yang menyebabkan Ibumu sendiri meninggal bukan aku!" geramku.
"Tidak! Itu salahmu, kamu yang bilang kalau kamu menolong dia kan?"
"Iya, aku memang menolongnya untuk memohon kepada Nenek agar kamu bebas atau setidaknya diberikan hukuman yang ringan. Nenek setuju dan hanya akan memotong lenganmu saja sebagai hukuman karena kamu menculikku, tidak ada yang mengatakan nyawamu akan digantikan oleh Ibumu," jelasku berharap dia mengerti dan tidak salah paham lagi.
"Kamu pikir Nyai akan semudah itu bernegosiasi, semua perkataannya adalah mutlak tidak bisa dibatalkan atau pun ditentang!"
Aku melotot, jika memang itu benar berarti nenek berbohong padaku untuk mengampuni mereka. "Jadi ... jadi, yang aku temui waktu itu adalah arwah Ibumu!" Seketika aku teringat saat ibu si kerdil ini menemuiku untuk menjelaskan sesuatu tentang nenek, tapi sayangnya itu tidaklah berhasil karena nenek sudah masuk ke kamar lebih dulu sebelum aku mendengarkan apa yang dia ketahui.
Aku lihat si kerdil terperanjat kaget "Kamu bertemu arwah Ibu!?"
"Iya, waktu itu dia menemuiku di kamar ingin menceritakan soal Nenek. Tapi, sebelum aku mendengarkan yang ingin dia sampaikan Nenek masuk ke kamar," jawabku. "mungkin yang ingin disampaikan Ibumu adalah hal yang kamu sampaikan sekarang ini." Aku menurunkan pisau itu karena mulai lelah menodongnya.
"Tetap saja aku tidak terima, kamu yang salah!" teriaknya.
"Enak saja! Kamu yang salah, siapa suruh kamu salah menculikku, hah!?" geramku tidak ingin disalahkan.
Dia hanya tertunduk lesu dengan air mata yang mengalir, sejujurnya aku tidak tega melihatnya. Benar dia memang jahat karena mau membunuhku tapi ada yang bilang 'yang baik menjadi jahat karena luka'. Itu juga berlaku untuknya.
"Sudahlah, aku tidak akan menyalahkanmu lagi kita lupakan saja semuanya. Lagi pula, kita juga sudah meluruskan kesalahpahaman ini, pulang saja sana," kataku mengusirnya.
"Aku tidak punya lagi tempat yang namanya rumah, mereka sudah tidak menganggap aku karena dianggap pengkhianat. Aku terlalu memikirkan dendamku sampai meninggalkan semua orang yang peduli padaku." Di tertunduk semakin dalam.
Aku hanya terdiam, bingung harus menjawab apa. Aku mungkin tidak mengerti kesedihan yang dia alami karena aku masih punya banyak orang yang menyayangiku, dan juga yang terpenting aku masih punya sesuatu yang disebut rumah. Tempat pulang dan penuh kehangatan ketika lelah.
"Kalau begitu kami tawarkan rumah baru untukmu dengan peraturan hang tidak sederhana tentu saja." Suara itu membuat aku berpaling. Papa sudah berdiri di depannya sambil menatapnya tajam. "Jujur saja aku tidak menyukaimu, tentu karena kamu mencoba mencelakai anakku. Tapi, mendengar penjelasanmu jelas yang salah adalah Ibuku."
Aku melihat ke arah si kerdil, dia masih tertunduk mungkin malu dengan air mata yang tersisa di pipinya.
"Benarkah? Aku jadi tambah merasa bersalah," ujarnya.
"Itu yang aku mau, renungkan saja semua kesalahanmu sepuas yang kamu mau."