"Papa serius!?" tanyaku.
Papa menatapku kemudian tersenyum "Kalau Adek sama Mama gak keberatan tentunya," jawab papa.
"Genta gak keberatan, Pa. Genta sayang Papa." Aku berdiri dan memeluk papa sampai tanpa sadar menyenggol mama dan membuat mama terjatuh, untungnya dengan cepat papa menangkap kelapa mama sehingga tidak terbentur ke lantai.
"Adek!" marah papa dengan suara tertahan, aku menyatukan kedua telapak tanganku.
Setelah itu papa mengangkat mama dan membawanya ke sofa, adegan yang begitu romantis jika saja aku tidak mengingat situasi saat ini. Setelah itu aku hanya duduk diam di depan Si kerdil, sedangkan papa masih sibuk menyelimuti mama dan membenarkan posisi tidurnya.
Papa kemudian menuju ke arahku dan duduk di kursi setelah sampai. "Jadi, bisa ceritakan apa tujuanmu datang ke sini dan ingin mencelakai anakku?" tanya papa dengan mata menyelidik.
Si kerdil kemudian menjawab pertanyaan papa persis seperti jawabannya padaku, papa tidak emosi dia terlihat mendengarkan dengan baik dan sesekali mengangguk. Aku menjadi penyimak diantara mereka berdua.
"Pertanyaan terakhir, ini untuk kalian berdua, bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya papa menatapku dan Si kerdil secara bergantian.
"Bukannya kebalik ya, Pa pertanyaannya?" tanyaku kembali mengintrupsi.
"Gak usah protes, jawab aja."
Aku menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan, hal itu aku lakukan karena berat rasanya mengingat kejadian yang sebenarnya ingin aku lupakan itu. "Jadi, waktu itu Genta mau pipis, Pa. Nah, karena jauh jadi kan harus jalan, sehabis pipis Genta denger suara gamelan gitu terus ...." Aku meneruskan ceritaku sampai akhirnya ditemukan oleh nenek, aku menatap papa sebentar ada kilatan marah di matanya walau hanya seprerkian detik saja.
"Bukannya kamu sudah tau itu? Kenapa harus ditanyakan lagi?" tanya si kerdil membuat kami mengalihkan perhatian.
"Nah, iya kenapa Papa nanyak memang Papa gak tau?" tanyaku juga, setelah dipikir-pikir jika papa tidak bertanya selama ini aku pikir papa sudah tau.
"Tidak, tidak ada yang kasih tau Papa soal ini. Waktu itu Nenek bilang kamu tersesat di hutan karet dan cuma Nenek yang tau tempat itu karena sudah diubah, awalnya Papa gak yakin tapi kebohongan Nenek sulit dibaca akhirnya Papa percaya. Setelah itu Papa dan Mam disuruh mencari bantuan ke warga, dan kami melakukannya," jelas papa panjang lebar.
"Jelas sekali bahwa dia ingin mengalihkan perhatian kalian, lagi pula kamu sudah tau begitu juga dengan istrimu dan kalian tidak menyadarinya sungguh menyedihkan. Apakah anakmu ini juga tau?"
"Dia tidak perlu tau dan tidak akan tau, kami sudah bersusah payah menjauhkannya dari hal itu!"
Baiklah sekarang aku mulai tidak mengerti arah pembicaraan mereka, tau apa, sesuatu apa? Aku sungguh penasaran. Namun, seperti jawaban papa aku tidak boleh tau akan hal itu karena mereka sudah payah mencegahku jadi sebisa mungkin rasa kepo ini aku tahan.
"Kalian yang membuat garis kalian sendiri, tapi siapa yang tau apakah garis itu akan bertahan," gumamnya yang masih jelas terdengar, papa terlihat menatap si kerdil dengan tajam.
Sunyi melanda kembali, aku melihat mama sebentar dan mama masih terlelap.
"Dek, kamu tidur aja kan besok sekolah," kata papa.
"Kalian semua tidur saja, aku juga tidak akan lari," sahut si kerdil.
"Siapa yang akan percaya dengan orang yang berulang kali mencoba mencelakai anakku!?"
"Ya, ya, terserah kamu mau percaya atau tidak!"
"Cukup! Jangan bertengkar lagi, hari ini begitu melelahkan untuk semua orang. Genta setuju sama Si kerdil, Pa. Kita tidur aja semua di sini, Papa'kan juga besok harus ke kantor," bujukku.
"Si kerdil? Panggilan untukku?"
"Iya, kenapa tidak suka!?"
"Tidak menurutku itu cukup keren." Dia tersenyum. "Baru kali ini ada yang memberikanku julukan," tambahnya lagi.
Aku tidak habis pikir dengan si kerdil satu ini, itu kan bukan julukan tapi penghinaan kalau memang dia suka aku sih tidak masalah. Tapi, jujur saja dia sangat aneh, saat diajak ngomong baik-baik dia malah marah saat dihina dia malah suka sudahlah memikirkannya membuat kepalaku sakit saja.
"Jadi gimana, Pa? Kalau Papa gak tidur Genta juga gak bisa tidur." Aku bertanya sekali lagi kepada papa karena belum juga mendapatkan jawaban.
"Yaudah, kita tidur. Papa tidur di sofa satu lagi kamu tidur di kasur lipet," jawab papa akhirnya, inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu sedari tadi. Jujur saja aku sudah mengantuk tapi tentu harus aku tahankan mana bisa aku tidur enak sendirian sedangkan papa dan mama menjaga si kerdil yang bisa berbuat macam-macam itu, dalam artian mau mencelakai mereka.
Setelah itu papa menyimpan pisau di dapur dan berjalan ke arah sofa, aku mengikuti papa dari belakang dan kami tidur walau tidak nyenyak sama sekali karena sesekali pasti aku terbangun melihat si kerdil yang memandangi sekitar sambil tersenyum dan begitu seterusnya sampai pagi menjelang.
***
Kulihat mata panda yang terlihat saat bercermin, aku terlihat begitu berantakan tapi aku bersyukur malam itu bisa kami lewati tanpa ada satu pun yang terluka.
Segera aku bersiap untuk pergi ke sekolah, saat terbangun aku sudah ada di kamarku mungkin papa yang mengangkat ke sini saat benar-benar sudah terlelap. Papa mungkin tidak bisa tidur semalaman karena khawatir terhadap kami.
Saat selesai aku menuju ke bawah, mama sudah menyajikan sarapan di meja makan. Papa tidak terlihat yang aku yakini masih tidur, tapi beberapa menit kemudian papa turun dari atas dengan penampilan seperti biasa.
"Papa bisa tidur?" tanyaku yang sama sekali tidak melihat adanya kantung mata di bawah mata papa. Sedangkan aku saja mempunyai mata panda sekarang.
"Papa tidur dengan sangat nyenyak," jawabnya.
"Bohong, banget sih, Pa," ujarku.
"Maafin Mama ya malah Mama yang tidur paling nyenyak semalam," kata mama dengan nada merasa bersalah.
"Gak masalah, Ma," jawab papa aku pun mengangguk.
"Oh, iya si kerdil ke mana?" tanyaku heran tidak melihat dia ada di meja makan.
"Mama pindahin, Mama muak liat wajah dia."
"Pindahin ke ...?" Aku menggantung ucapanku berharap mama meneruskannya.
"Ke gudang belakang, bersama kursinya juga."
Aku melotot tidak percaya ketika mama mengatakan itu, tidak aku sangka mamaku juga bisa s***s ternyata.
"Memang dia gak ngelawan waktu dipindahin? Kan itu kesempatan dia buat kabur." Aku mulai mengambil telur mata sapi yang ada di piring disusul dengan nasi uduk hari ini.
"Gaklah kan dia kalau matahari terbit tidur sampai menjelang malam," jelas mama.
Aku mengangguk jadi teringat apa yang dia katakan kemarin, mereka seperti kelelawar beraktivitas di malam hari dan tidur sampai sore hari. Mungkin semua makhluk malam atau yang tidak kasat mata juga begitu siklus tidurnya.
"Papa baru nyadar, Dek kamu ada mata pandanya." Papa menunjuk ke bawah mataku. Aku hanya cemberut tidak menanggapi perkataan papa.
Setelahnya aku pergi ke sekolah seperti biasa, baru aku rasakan kantuk saat jam pelajaran pertama akan dimulai tapi sebagai murid yang baik sebisa mungkin aku tahan dengan mencubit diri sendiri. Untunglah guru hari ini sangat dramatis, dia menjelaskan sambil sesekali berteriak membuat kantukku hilang karena kaget.
Saat jam istirahat aku, Febi, Hana, Hafiza, dan Si anu pergi ke kantin bersama. Bergaul dengan mereka sungguh sangat menyenangkan, aku pernah bertanya kenapa mereka ingin bersama kami dan mereka bilang karena kami terlihat asyik.
"Eh, beli nganu yok yang enak itu yang bulet," ajak si anu. Perlahan aku mulai mengerti kenapa Sanua dijuluki si anu.
"Ona, anu. Apaan bakso?" tanya Hana sambil mengibaskan rambutnya yang berkilau itu seperti iklan sampo.
"Ih, kibasan rambut kamu kena cokelat aku nih, Han," protes Febi yang seperti biasa sedang asyik ngemil.
Begitulah kehebohan ketika di kantin bersama kelima teman-temanku, yang paling waras diantara mereka hanya aku dan Hafiza yang lebih sering melihat tingkah kocak mereka itu.
"Kamu kenapa kok aku perhatiin kayak ngantuk di kelas terus ada mata pandanya?" tanya Hafiza ketiga temanku yang laim masih sibuk meprotes Hana.
"Iya, nih kemarin kurang tidur," jawabku, bersamaan dengan itu kejadian tadi malam berputar kembali di otakku seperti film yang diputar ulang.