38. Penjaga

1203 Kata
Saat pelajaran olahraga sebelum pulang aku meminta izin ke UKS karena tidak tahan lagi menahan kantukku, kata mereka juga wajahku pucat jadi diperbolehkan di UKS. Ingin tidur rasanya sejenak saja tanpa gangguan. Akhirnya aku bisa tertidur lelap dengan suasana sunyi yang menentramkan ini. Perlahan mata mulai tertutup dengan alam bawa sadar yang mulai menghampiri, saat mata sudah sempurna tertutup terdengar sayup-sayup suara tawa orang dan juga yang sedang asyik mengobrol. Aku yakin itu adalah para murid yang bolos dan hobi nongrong di belakang UKS. Aku mendengarkan percakapan mereka sampai benar-benar terlelap ke alam mimpi. "Wah!" seruku dengan mata berbinar saat melihat banyaknya nasi goreng aneka rasa di depanku. Air liurku tidak bisa aku bendung dan keluar dengan sendirinya, inilah dunia mimpi yang aku sukai. Tiba-tiba mimpi indah itu berubah jadi buruk ketika makhluk yang mengerikan datang secara bersamaan, ada tiga makhluk yang berdiri di seberang sana seperti siap menerkamku kapan saja. Ketiga makhluk itu adalah makhluk bertentakel, berambut lebat, dan si kerdil. Aku terbangun dari tidurku karena mimpi buruk itu, melihat ke sekitar dan ternyata semua masih dalam posisi semula. "Udah enakan? Sebentar lagi mau pulang soalnya, nih," kata kakak kelas yang menjaga UKS hari ini sambil melihat jam tangannya. Aku mengangguk kemudian bersiap membuka selimut, tapi kurasakan ada yang aneh seperti ada yang mencubit pinggangku dan ada yang bergerak-gerak di dalam selimut. Kulihat ke arah selimut dan ternyata benar seperti ada pundukan di sana, ketakutan mulai menghantuiku. Gerakan di dalam selimut semakin lincah, kali ini aku merasa kakiku digigit. Dengan tangan gemetar aku mengintip apa yang ada di balik selimut itu dan benar saja ternyata makhluk mengerikan ada di sana melihatku dengan mata bunda bersar yang keluar dari tempatnya, senyum yang lebar dengan gigi runcing. Tubuhnya kecil berkaki delapan seperti laba-laba, lehernya panjang. Leher makhluk itu kemudian keluar dari selimut aku kira tidak bisa lebih panjang lagi, aku tidak bisa kabur karena tubuhku tidak mau bergerak seinci pun. "Mama," panggil makhluk itu membuatku semakin ketakutan, keringat dingin seketika terasa di pelipis. Aku tidak bisa berpikir jernih, bingung harus melakukan apa. Masih dengan keadaan ketakutan dan kebingungan tiba-tiba saja di sisi lain selimut sebuah ekor yang panjang muncul, ekor itu kemudian langsung mengikat kakiku dan membuat tubuhku menggantung terbalik seperti kelelawar. Makhluk yang mirip laba-laba itu kemudian langsung membawaku pergi aku tidak bisa berteriak sama sekali, anehnya walaupun kami melewati lorong yang penuh dengan beberapa murid terutama kelasku yang baru selesai olahraga mereka tidak melihatku sama sekali dan tidak menyadari keberadaanku. Saat melewati rombongan Febi dan yang lainnya aku mencoba untuk menarik rok Febi karena jaraknya yang sangat dekat, dan aku berhasil. Makhluk itu kemudian menjatuhkanku dan Febi langsung melihatku dengan heran begitu juga dengan yang lainnya. "Kamu ngapain di sini? Terus kamu tuh dateng dari mana kok aku nggak liat dan tiba-tiba aja kamu udah ada disini?” pertanyaan itulah yang terlontar dari mulut Febi. "Muka kamu kok tambah pucet sih, kamu masih sakit?" tanya Hana. "Masih pucet kenapa harus jalan-jalan coba?" tambah Si anu. Mereka tidak tau betapa leganya aku mendengar ocehan mereka yang aku anggap berisik itu, jika tidak entahlah akan dibawa kemana aku oleh makhluk mengerikan itu. "Bantuin dulu Genta bangun, dong baru ngoceh," kesal Hafizah sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangan Hafiza dan membantuku berdiri. "Makasih," kataku ke Hafiza dia hanya mengangguk. "Mau cokelat?" tanya Febi dengan wajah bersalah, aku tau betul wajah bersalahnya saat orang lain lebih peka daripada dirinya. "Makasih." Aku mengambil sebungkus cokelat yang dia berikan agar tidak merasa bersalah lagi. "Ayo, kita keruangan ganti," ajak Hana. "Aku gak usah ganti, deh. Kalian aja mau nemeni Genta ambil tas," tolak Febi. "Yaudah tapi ambilkan anu kita juga ya," ujar Si anu. Febi mengangguk, sepertinya Febi sudah lebih mengerti apa yang dimasud oleh Sanua. Kami berdua kemudian menuju ke dalam kelas yang ternyata juga ada beberapa orang di sana. Febi mengambil tas milik Hana, Sanua, dan Hafiza, aku jadi paham apa anu yang dimaksud oleh Sanua. Febi kemudian meletakkan semua tas itu di depan meja kami, enaknya kalau olahraga dekat jam pulang adalah bisa istirahat dulu. "Kamu udah baikan belum?" tanya Febi. Aku mengangguk "Cuma kurang tidur aja kok," jawabku. "Tapi muka kamu masih pucet, malah kayaknya lebih pucet." "Ini karena aku liat makhluk mengerikan," jawabku dalam hati tidak mau membuat Febi ketakutan. "Kok diem?" "Mungkin karena masih kurang tidur," jawbaku berbohong. "Yaudah kalau gitu kamu istirahat di sini saja dulu sambil kita tunggu mereka selesai ganti baju dan bel pulang." Aku mengangguk, Febi dan aku kemudian sibuk memakan cokelat batangan masing-masing. Aku jadi takut kalau harus menunggu papa di sekolah karena kejadian tadi. "Em, Feb," panggilku membuat Febi melihatku. "Kenapa? Kurang cokelatnya?" Aku menggelengkan kepala "Bukan, bukan itu. Nanti pulang bareng kamu boleh gak? Soalnya males nunggui Papa jemput, agak lama kalau Papa yang jemput." "A elah, gitu aja pakai nanyak. Ya boleh dong, setiap hari juga aku gak keberatanku." Febi tersenyum memperlihatkan giginya yang penuh dengan cokelat, aku juga ikut tersenyum sambil benapas lega. *** Aku mengirimkan pesan pada papa agar tidak menjemputku dan aku akan bersama Febi saja, kami hanya menunggu sekitar lima menit sebelum akhirnya jemputan Febi datang. "Kamu udah baikan kan?" tany Febi kesekian kalinya, aku mengangguk kembali juga untuk kesekian kalinya. "Kamu udah tanyai itu berapa kali coba." "Ya kan khawatir," ujarnya "oh, iya lupa aku mau tanya kenapa kamu bisa kurang tidur?" Aku memutar otak sejenak untuk menemukan jawaban yang tepat "Kemarin itu kami ngobrol-ngobrol sampai lupa waktu," jawabku malah terlihat ngasal. "Iyakah? Kok aku merasa kalau kamu bohong ya?" Febi menyipitkan matanya mencoba menyelidiki. "Oh, iya tadi kamu gak tebar pesona pas olahraga?" tanyaku mengalihkan perhatian. "Ah, cowok kelas kita mah mana ada yang ganteng. Yang ada malah sok ganteng semua." Febi mengerucutkan bibirnya, aku berhasil mengalihkan topik. Kami terus berbincang sampai di rumahku. Saat aku melihat dari kaca mobil Febi masih agak jauh dari rumah aku melihat papa yang sudah berdiri di depan pagar rumah seperti menunggu kepulanganku. "Makasih ya, Feb tumpangannya sampai jumpa besok lagi," pamitku sebelum benar-benar turun. "Santai," jawab Febi "pulang dulu ya, Om, Tante." Febi membuka kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah mama dan papa. Mama dan papa tersenyum tipis sambil balas melambai juga. "Sayang, baik-baik aja kan?" tanya mama khawatir saat mobil Febi belok di belokan depan. "Memangnya Genta kenapa, Ma? Genta baik-baik aja kok," jawabku dengan was-was. Aku takut kalau sampai mama dan papa tau apa yang aku alami. "Yakin kamu gak bohong?" tanya papa. Baiklah kalau pertanyaan papa sudah begini aku tidak yakin mau berbohong lagi. "Kalau baik-baik aja kenapa kaus kaki kamu warnahnya merah gitu, jangan bilang kena saus pas ke kantin." Papa menunjuk ke arah kaus kakiku yang ternyata memang berwarna merah tanpa sadar. Tidak ada yang sadar juga kalau kaus kakiku berwarna merah saat di sekolah tadi, dan baru sekarang aku rasakan perih dibagian kaki mengingat tadi kakiku digigit makhluk setengah laba-laba itu. "Yaudah kita masuk dulu aja, obat luka kamu dulu terus cerita," ujar papa. Akhirnya kami masuk ke dalam dan mengobati lukaku. Saat kaus kaki dibuka ternyata luka gigitan itu cukup dalam dan ada tiga bekas gigitan di sana. Jujur ngeri melihatnya, mama langsung mengibati kakiku itu. "Gimana kalau kamu punya penjaga aja, Ta," saran mama sambil mengoleskan obat merah dengan korek kuping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN