39. Siklus

1373 Kata
"Gimana maksudnya, Ma?" tanyaku bingung pada usulan mama yang tiba-tiba ingin aku punya penjaga. "Sebelum itu coba ceritakan lebih dulu, Dek kenapa kamu bisa kayak gini," pinta papa menatapku dengan lurus. "Soal itu, kejadiannya di UKS, Pa, Ma," kataku sebagai kode untuk memulai cerita. Aku menceritakan saat aku sungguh mengantuk di jam pertama, cerita yang memang tidak penting seharusnya dan tidak juga harus diceritakan dari sana. Kemudian aku ceritakan semuanya sampai di kejadian aneh di UKS dan hewan mengerikan berbentuk laba-laba yang memanggilku mama, sungguh menyeramkan. Usai bercerita tidak ada tanggapan dari mama maupun papa mereka hanya saling menatap seperti sedang telepati saja. "Jangan-jangan makhluk suruhan yang selama ini ganggu kita, Pa." Mama menurunkan kakiku yang sudah selesai diobati, rasanya agak aneh karena ada perban yang melilit tapi ini lebih baik daripada infeksi. "Pertanyaannya siapa, Ma?" "Yang menginginkan benda itu, Pa." Mendengar kata benda itu disebut aku langsung tertarik oleh percakapan ini. "Memang benda itu apa, Ma, Pa?" tanyaku menyela mereka berdua. "Sudah Papa dan Mama katakan kan Dek kalau kamu tidak perlu tau dan jangan tau tentang hal ini," jawab papa aku hanya bisa cemberut saja dan tidak bertanya lebih lanjut. "Kalau makhluk suruhan itu makhluk apa? Bedakkah sama makhluk yang biasa kita lihat kayak Pak pocong atau Mbak kunti gitu?" tanyaku mengalihkan topik lain daripada rasa penasaranku tidak terbendung karena mama dan papa terus membicarakan tentang benda itu yang aku tidak tau sama sekali. "Ganti baju dulu sana," suruh mama. "Kan selalu begitu, kalau Genta udah kepo pasti ada aja jedanya," protesku membuat mama malah tertawa kecil. Akhirnya mau tidak mau aku menuju ke kamar dengan kaki yang sedikit pincang karena rasa sakit yang ternyata masih menjalar, anehnya rasa sakit ini tidak seperti biasanya rasa sakitnya mirip sekali saat tidak sengaja jari kita teriris pisau atau benda tajam lainnya yang menyebabkan rasa nyeri. Dengan cepat aku langsung berganti pakaian sambil melihat jam karena jika tidak cepat papa pasti akan segera ke kantor lagi karena jam makan siang akan usai sebentar lagi, dan jika sudah begitu aku harus menunggu lagi untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Hal itu sangat tidak aku sukai karena menunggu adalah hal yang menyebalkan, apalagi tanpa kepastian. Halah kok malah curhat. Dengan tidak santainya aku langsung menuruni tangga satu per satu, saat menuruni tangga aku melihat mama dan papa seperti sedang berbicara karena mulut mereka bergerak tapi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. "Hayo lagi ngomongin apa? Ada Genta di sini kok langsung udahan ngomongnya," kataku saat aku tiba papa dan mama malah berhenti bicara. "Ada deh, rahasia," jawab mama. "Ish, sok rahasia-rahasiaan." Aku memajukan bibir hingga lima senti. "Jadi, jadi gimana soal pertanyaan Genta tadi," tuturku menuntut jawaban. "Biar Papa aja yang jelasin Mama mau masak makan siang dulu," jawab mama sambil beranjak menuju ke dapur. Aku menatap papa dengan mata berharap. "Jadi makhluk suruhan adalah makhluk yang diperintahkan oleh orang lain untuk mencari tau atau menakut-nakuti targetnya, makhluk suruhan juga makhluk tidak kasat mata. Tapi, mereka itu maklhuk buatan yang dibuat dari para korban yang mereka bunuh, biasanya ciri yang paling umum dari makhluk ini adalah punya bentuk yang aneh-aneh tidak seperti makhluk lain yang kita lihat biasanya seperti pocong, kuntilanak, tuyul, dan sejenisnya," jelas papa panjang lebar. Aku mulai paham tentang makhluk suruhan ini. "Jadi yang menciptakan makhluk suruhan itu pembunuh dong, Pa?" tanyaku seketika merinding. "Bisa iya, bisa juga enggak. Lagipula kalau Papa jelaskan semua gak berguna untuk kamu, Dek. Papa gak akan biarkan kamu buat masuk ke dunia kayak gitu." "Ih, lagian siapa juga yang mau, Pa. Serem tau." Aku bergidik. "Tapi tujuan mereka apa sih, Pa kok makhluk ini pada ngincer Genta?" tanyaku memancing topik tentang benda itu, jika aku beruntung dan papa kurang fokus bisa saja aku mendapatkan informasi yang aku inginkan. "Jangan kamu pikir Papa akan lengah ya, Dek dengan membeberkan hal yang ingin Pap dan Mama rahasiakan," jawab papa seperti tau apa yang aku pikirkan. "Emang topiknya ngarah ke situ apa?" tanyaku mencoba mengeles. "Halah Dek, Dek, udah ketebak kalau kamu mah." Papa mngelus rambutku sambil berdiri ikut menuju ke dapur. Aku mengikuti papa dengan muka ditekuk seperti pakaian kusut. "Masak apa, Ma?" tanya papa. "Masak yang simpel aja, Pa. Masak sarden kaleng, kan Mama juga tau jam makan siang Papa gak banyak." "Oh, iya Ma, Pa, Si kerdil masih ada di gudang?" tanyaku tiba-tiba teringat dia saat berada di meja makan. Kursi dan meja di ruang makan sepertinya sudah diganti yang baru. "Mama sampai lupa lho Sayang kalau gak kamu ingeti. Kayaknya sih iya dia masih tidur, kan siklus hidup dia gitu," jawab mama. Aku mengangguk, daripada aku bosan menunggu mama yang masih memasak tanpa melakukan apapun aku putuskan untuk ke gudang yang ada di taman belakang menganggu si kerdil. Sesampainya di sana dan membuka pintu aku melihat dia masih di kursi semalam dan dengan pulasnya tidur. Ide jahil seketika muncul, aku mengambil sekop menggali lubang yang besar walau itu memerlukan waktu yang lama dan menguburnya bersama kursi itu juga. Semua tanganku kotor tapi aku akan puas melihat wajahnya nanti, membayangkannya saja sudah membuat aku senyum-senyum sendiri. Untuk ukuran makhluk yang banyak menakut-nakuti dan juga hampir mencelakaiku sepertinya tidak terlalu keterlaluan. "Kamu apakan Si kerdil sampai tangan, baju, dan muka kamu penuh tanah begitu?" tanya mama sambil membereskan piring bekas papa makan tadi, papa pasti sudah kembali ke kantor karena jam makan siangnya telah habis. "Aku kubur dia, Ma di taman belakang," jawabku sambil cekikikan. "Ada-ada aja kamu, yaudah sana mandi." "Habis Genta agak dendam, Ma. Siap Bos!" Aku menghormat ke mama dan segera menuju ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian lagi kemudian makan siang, setelah itu mengerjakan tugas sekolah dan tentunya belajar. *** Dari sore menjelang malam aku sengaja belajar di taman belakang sambil melihat si kerdil, tidak mau aku ketinggalan ekspresi terkejut sekalian kesusahannya itu. Tidak puas hanya melihatnya dikubur sampai ke leher aku kemudian mencoret-coret wajahnya dengan tinta pulpen sambil cekikikan sendiri. Menjelang malam sekitar pukul tujuh barulah perlahan si kerdil membuka matanya sambil menguap. "Harus disapa selamat pagi apa malak nih?" tanyaku berniat mengejeknya, tapi sepertinya dia tidak punya selera humor jadi dia hanya mengabaikan pertanyaanku tanpa menjawabnya dan hanya menatap dengan datar saja. Aku memasang wajah cemberut karena diabaikan, yang lebih membuat kesal lagi adalah saat dia dengan mudah meloloskan diri dari lubang yang aku buat itu. Seperti dia tidak terkubur dan ada lubang di sekitarnya, dia hanya berdiri saja seperti biasa. "Usaha yang sia-sia, hal seperti ini tidak akan menyakitiku," ujarnya sambil tersenyum meremehkan. Aku langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah, aku merasakan kalau dia membuntuti dari belakang. Bertepatan saat aku memasuki rumah papa juga sudah pulang dan membuka pintu. "Papa mandi dulu, habis ini ada yang mau Papa bicarakan sama Adek dan kamu Kerdil," ujar papa sambil melihat kami secara bergantian. "Makan malamnya?" tanyaku saat melihat nasi goreng yang menggiurkan sudah tersaji di meja. "Ditunda sebentar, nasi gorengnya gak akan lari juga," jawab mama sambil tertawa. Aku menunggu papa sambil melotot ke arah si kerdil berharap dia peka dan minta maaf tapi percuma saja hasilnya nihil malah mataku yang sakit. Papa akhirnya selesai mandi dan duduk di meja makan sebelah mama, baiklah aku tidak suka suasana serius begini membuat gerah saja. "Jadi apa yang mau dibicarakan?" tanya si kerdil lebih dulu. "Sudah jadi tahanan masih tidak takut juga, ingat ya sekarang kamu itu bawahan kami!" seru mama sambil melipatkan kedua tangannya di depan d**a. "Langsung saja ke intinya, aku mau kamu menjadi penjaga anakku di sekolah atau dimana pun dia berada," tutur papa tentu menbuatku terkejut, baiklah memang saran ini sudah aku dengar tapi tentu saja aku tidak berharap akan benar-benar dilaksanakan. "Apa!? Gak, Genta gak mau. Apalagi kalau penjaganya makhluk menyebalkan kayak gini," rolakku sambil melotot ke arahnya. "Ini bukan buat Papa, Dek tapi buat kamu. Lihat aja kejadian tadi siang, kalau ada lagi gimana siapa yang mau nolongin kamu? Penangkal Papa aja gak cukup Dek, jadi jangan bantah Papa." Sepertinya keputusan papa sudah bulat membuatku tidak lagi bisa berkutik, aku hanya memasang wajah ditekuk saja seperti biasa. "Baik, akan aku lakukan mengingat aku tahanan kalian, pesuruh dan kalian sudah mengampuni aku." "Tapi, mulai besok ubah siklus hidupmu seperti manusia bukan makhluk nokturnal lagi," pinta mama dengan raut wajah tidak suka yang jelas sekali ditunjukkan secara terang-terangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN