"Aku perlu waktu untuk menjalani siklus baru mana bisa hanya dalam satu hari saja," protes si kerdil.
Menurutku itu juga masuk akal, kebiasaan saja harus diulang terus-menerus tidak hanya dalam satu dua hari apalagi hal yang mendadak begini. Mengubah siklus hidup itu tidak mudah perlu adaptasi, kalau adaptasinya ekstrim aku tidak yakin akan berhasil.
"Tidak ada waktu harus besok!" paksa papa tanpa memberikan keringanan sedikit pun.
Baru kali ini aku melihat sifat mama dan papa yang begitu posesif, tidak mau mengalah, dan jadi suka memerintah. Aku mengerti mereka melakukan semua ini demi aku, tapi entahlah tidak bisa berkomentar lebih jauh. Aku menatap iba ke arah si kerdil, dia terlihat berpikir dengan wajah menyebalkannya itu.
"Baik akan aku coba mulai besok tapi aku tidak janji akan bisa maksimal menjaganya, aku juga perlu adaptasi," kata si kerdil akhirnya.
"Jangan membual kamu itu bukan makhluk biasa," ujar mama sarkas.
"Memang makluk tidak biasa harus menjadi tidak biasa juga begitu?"
"Oke, oke, cukup! Si kerdil mau usaha baik walau gak maksimal diterima, Mama dan Papa akan menerima. Selesai," leraiku. Aku paling tidak suka ada perdebatan atau pun pertengkaran, kedamaian tentu jauh lebih baik.
"Yaudah kalau gitu Mama siapin makan malam, ya." Seketika wajah mama berubah seratus delapan puluh derajat ke wajah semula seperti mama biasanya.
"Kamu ikut makan gak Kerdil?" tanyaku.
"Ya, aku juga butuh makan jika kalian keberatan aku makan masakan yang diasiapkan Nyonya ini maka aku akan berburu sendiri," jawabnya dengan penekanan kata nyonya sambil melotot ke arah mama. Hubungan mereka jadi tidak baik, semoga tidak sampai membenci yang terlalu berlebih.
"Gimana, Ma, keberatan gak?" tanya papa pada mama sambil melihat ke arah dapur.
"Mama gak masalah kok, Pa. Asal dia gak macem-macem aja dan selalu dalam pengawasan kita, dan juga jangan makan bersama kami makan di taman belakang." Mama menyipitkan matanya tidak suka sambil menunjuk menggunakan spatula yang akan dia gunakan masak. Si kerdil tidak menyahuti sama sekali dan dianggap sebagai jawaban setuju.
Makan malam akhirnya berlangsung seperti biasanya, mama menyiapkan piring khusus untuk si kerdil dan porsinya yang lebih banyak dari kami semua. Si kerdil kemudian membawa piring berisi makanan itu ke taman belakang, aku jadi merasa sedikit kasihan.
"Kasian juga gak si, Ma, Pa, Si kerdil itu udah gak punya rumah, dianggap pengkhianat, sekarang makan sendirian lagi." Aku menatap ke arah pintu yang menuju ke taman belakang.
"Gak usah dipikirkan, Ta, itu salah dia sendiri yang lebih mementingkan balas dendam daripada menikmati hal di sekitarnya," jawab mama.
"Tapi, kalau seandainya hal itu terjadi sama orang lain bahkan keluarga kita juga pasti kita akan melakukan hal yang sama," belaku.
"Benar, Dek kata kamu mungkin Mama hanya perlu adaptasi biar bisa akur sama Si kerdil."
"Yaudah Mama minta maaf Mama yang salah, tapi jujur aja Mama memang selalu sensi kalau liat muka dia itu jadi terbayang aja gitu apa yang dia lakuin," kata mama bicara blak-blakan.
Aku mengerti perasaan mama, aku juga sebal melihat wajahnya yang menyebalkan itu entahlah kenapa aku ingin sekali meninju wajahnya itu walau hanya sekali saja. Percakapan beralih ke topik lain karena papa, kami membahas tentang sekolahku yang biasa saja dan hal itu jadi membuatku teringat sesuatu.
"Oh iya, Papa jadi ketinggalan gosip tentang tetangga sebelah, Ma," celetukku sukses membuat mama tersenyum senang seperti kami memikirkan hal yang sama.
"Iya Dek, Mama sampai lupa."
"Papa juga lupa nanyak kan, jadi siapakah tetangga baru itu?" tanya papa seperti acara kuis di televisi.
"Dia itu guru Genta, Pa di sekolah malahan juga wali kelas Genta," jawabku.
Kami berbincang saat makan malam telah usai atau sebelum makan malam dimulai ya, jadi jangan berpikir kami makan sambil ngoceh itu adalah aturan tertulis yang tidak boleh dilakukan di meja makan. Setelah itu perbincangan terus berlanjut sampai piring bekas kami makan masih utuh. Semua selesai ketika si kerdil masuk ke dalam rumah dan mencuci piringnya yang telah kosong itu, aku kemudian berinisiatif untuk membereskan meja makan begitu juga dengan mama dan obrolan kami malam ini bersambung.
Setelah membereskan piring mama menuju ke ruang tengah untuk menonton televisi seperti biasa, menonton sinetron kesukaannya tentu saja. Sedangkan aku dan papa naik ke atas, papa ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya dan aku mengerjakan tugas sekolahku atau untuk belajar.
Saat aku menutup pintu kamar aku terkejut karena ada si kerdil yang sudah duduk manis di tempat tidur. "Mau apa?" tanyaku.
"Jaga kamu, kan sekarang itu tugasku," jawabnya "aku akan beradaptasi mulai sekarang." Dia kemudian berdiri sambil melihat-lihat sekitar.
Baiklah memang papa dan mama ingin dia menjagaku, tapi tetap saja saat dia berkata begitu aku sedikit merinding. Bagaimana tidak membayangkan ada orang berlalu-lalang menjagamu di kamar dan melihatmu saat tidur, benar-benar mengerikan untukku.
"Baik, boleh saja kalau kamu mau jaga aku malam ini tapi ada syaratnya," ucapku. Kulihat dia berhenti berjalan sambil melihat-lihat, dia memutar tubuhnya dan menatapku seperti bertanya lebih lanjut tentang syarat yang aku ajukan.
"Kamu hanya boleh menjaga di luar kamar jangan di dalam, kecuali ada makhluk yang memang ada di dalam kamar atau ada keadaan mendesak."
"Tidak masalah untukku. Mulai besok aku juga akan mencoba untuk tidak tidur dan mengubah siklus hidup layaknya manusia."
Aku jadi penasaran saat dia berkata begitu, penasaran lebih lanjut tentang bagaimana mereka sebenarnya hidup dan makhluk apa mereka itu.
"Aku jadi penasaran sebenarnya kamu ini makhluk apa? Dan apakah kamu sama seperti manusia?" tanyaku tidak bisa membendung rasa penasaranku.
"Banyak sebutan untuk kami, makhluk tidak kasat mata, orang pedalaman yang sudah punah, nenek moyang zaman dahulu dan sebagainya. Kami bukan manusia, bukan juga makhluk tidak kasat mata bisa dibilang kami ada di tengah-tengahnya. Intinya kami ada, dan yang bisa melihat kami hanya orang tertentu saja, yang memang kami izinkan untuk melihat wujud kami, atau yang pernah melihat kami sebelumnya. Kami beraktivitas di malam hari mempunyai desa atau hunian layaknya manusia," jelasnya panjang lebar.
"Ya tidak semua penuturanmu aku mengerti tapi terimakasih sudah menjelaskan itu membuat rasa penasaranku hilang, baiklah selanjutnya mari belajar!" seru sambil bersiap dengan alat tulid yang sudah ada di depanku saat ini.
Aku mulai serius belajar walau agak sedikit risih karena dia melihatku dan masih ada di situ. Tidak lama sudut mataku melihat bahwa dia sudah menghilang dari sana, dan saat aku lihat daru jendela di berdiri di luar itu membuatku bisa lebih fokus sekarang. Detik demi detik berlalu tidak terasa sudah pukul sepuluh malam dan kuputuskan untuk segera tidur.
Aku ke ke kamar mandi, menggosok gigi, dan tidak lupa ritual malam mencuci kaki dan wajah. Saat aku akan menuju ke tempat tidur aku melihat dia seperti melihat sesuatu, kuikuti arah tatapannya dan di sana makhluk itu berdiri dengan mata menyala di kegelapan.
Hanya matanya yang merah yang terlihat, aku mendekatkan wajah ke jendela melihat makhluk apakah itu. Perlahan makhluk itu mendekat dari kegelapan dan disorot sinar lampu taman belakang, ternyata makhluk itu ada laba-laba yang ada di UKS. Aku mundur beberapa langkah karena kaget.
"Ka ... kamu ingin melawannya?" tanyaku dengan nada suara bergetar.
"Tentu saja, matanya saja sudah mengisyaratkan untuk berkelahi," jawabnya tanpa ragu.
"Tapi ...."
"Jangan meremehkan aku, aku memang kerdil tapi makhluk rendahan yang mau disuruh seperti mereka tidak sebanding denganku!"