Baru saja dia berkata begitu, si kerdil langsung menerjang makhluk itu tanpa ragu dengan pisaunya yang entah sejak kapan sudah dia bawa tanpa aku sadari. Makhluk itu juga ikut melompat ke arah si kerdil, pergulatan terjadi mereka berguling-guling di tanah kemudian meloncat ke belakang untuk saling menjauh.
Mereka menatap tajam satu sama lain. Ekor makhluk itu dilayangkan ke arah si kerdil tapi dengan cepat dia menghindar tidak hanya sampai disitu belum saja si kerdil bangun dia sudah diserang lagi dengan jaring laba-laba dan ternyata bisa mengenainya membuat si kerdil melayang dan akhirnya tersangut di pohon.
Jaring laba-laba itu menahan si kerdil seperti mangsa yang terperangkap jebakan, dia tidak putus asa karena aku lihat dia mulai memotong jaring itu dengan pisaunya dan berhasil. Setelah itu dia tanpa ragu melemparkan pisaunya sebelum terjun bebas dari ketinggian pohon dan lemparan pisau itu mengenai ekor makhluk laba-laba itu membuatnya mengeram kesakitan.
Erangannya membuat kupingku sakit sampai aku harus menutupnya dengan kedua telapak tangan. Aku kehilangan adegan pertarungan mereka selanjutnya karena kupingku terasa sangat sakit sampai harus berjongkok di bawah dan menutup mataku menahan rasa sakitnya.
Saat aku berdiri dan melihat lagi ke arah jendela si kerdil sudah memegang si laba-laba yang terlihat tidak berdaya dan terkapar di tanah. "Adek, kamu gak apa-apa!?" Papa dan mama tiba-tiba saja menerobos masuk.
Mama langsung melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki "Gak ada yang lukakan?" tanyanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban tidak. "Syukurlah."
Papa membuka jendela kemudian keluar ke halaman belakang menuju ke arah si kerdil dan makhluk laba-laba itu. Aku dan mama hanya melihat saja dari balik jendela yang sudah terbuka ditemani oleh angin malam.
"Adek ini yang tadi siang ganggui kamu di UKS ya?" tanya paa sambil memandang ke arahku.
"Iya, Pa."
"Mau apa kamu!?" tanya papa dengan emosi.
"Mama," jawabnya.
"Mama?" tanyaku tidak mengerti, dan aku langsung melotot ketika sadar yang dia panggil mama itu adalah aku, karena saat di UKS pun dia memanggilku begitu.
"Dia manggil kamu Mama, Ta?" tanya mama aku hanya mengangguk. "Pa, kenapa dia manggil Genta Mama?" tanya mama pada papa.
Papa melihat ke arah si kerdil seperti meminta penjelasan. Si kerdil menatap makhluk laba-laba itu tanpa berkedip, entahlah apa yang dia lakukan. Mata merah si laba-laba mulai menghilang berubah menjadi hitam seluruhnya seperti tidak ada matanya di sana hanya rongga jika saja tidak ada lampu yang memeranginya.
"Makhluk malang," ujar si kerdil.
Dahiku berkerut tidak mengerti makhluk semengerikan itu dia bilang malang bagaimana bisa? Baiklah mungkin akan ada penjelasannya nantu atau aku bisa bertanya pada si kerdil, aku tidak mengalihkan perhatian dari mereka.
"Makhluk malang dari mananya? Makhluk mengerikan itu baru benar," celetuk mama tiba-tiba seperti mewakili apa yang baru saja aku pikirkan.
Si kerdil melihat ke arah kami "Dia ditipu, hanya seorang anak yang belum tau apapun tentu saja malang," jawabnya mencoba menjelaskan tapi tentu saja aku tidak mengerti karena masih bingung.
Akhirnya aku terus memandangi mereka, dan tidak ada yang mereka lakukan hanya diam saja. Si kerdil menatap makhluk itu lagi dan papa menatap si kerdil hanya begitu sampai beberapa menit berlalu dan angin malam semakin menusuk dengan malam yang juga semakin larut.
"Bawa dia, kamu yang urus. Letakkan dia di gudang jangan sampai kabur dan ayo ke dalam ada beberapa hal yang mau saya tanyakan sama kamu," kata papa kepada si kerdil. Si kerdil tidak menjawab atau mengangguk hanya langsung membawa laba-laba itu menuju ke arah gudang, saat makhluk itu dibawa entah kenapa aku merasa dia menatapku dengan perasaan yang sulit diartikan membuatku iba.
Tanpa aku sadari papa sudah melompat lagi ke dalam kamar melalui jendela. "Kamu tidur sana gih, Dek. Besok kan sekolah," kata papa membuat aku tersadar.
"Genta gak bisa tidur nih, ikut tanya-tanya Si kerdil aja ya soalnya Genta kepo, ya, ya." Aku mengedipkan mata sambil memasang wajah semelas mungkin agar diizinkan.
Papa menghela napas "Kamu kan kalau ada maunya sulit di larang, Dek apalagi kalau udah kepo."
Aku bersorak senang dalam hati saat papa mengatakan hal itu, kemudian papa keluar duluan dari kamar disusul aku dan mama. Papa menuju ke arah ruang tengah dan duduk di salah satu sofa, kami duduk di sisi kiri dan kanan papa . Kami pun menunggu si kerdil dan tidak lama dia datang duduk di karpet pas dihadapan kami semua seperti seorang terdakwa dan kami hakimnya. Tetap saja walau begitu wajah menyebalkannya tidak berubah sama sekali.
"Jelaskan informasi apa yang kamu dapatkan darinya?" tanya papa mulai mengorek informasi.
"Sudah aku katakan dia hanya ditipu, makhluk yang malang. Dia hanya anak kecil yang dibunuh bersama ibunya dan kemudian dijadikan makhluk suruhan, dia dijanjikan akan dipertemukan dengan ibunya jika dia melakukan itu. Tapi sepertinya dia tidak tega menyakiti anakmu karena mirip dengan ibunya, sebenarnya kalau aku lihat tidak mirip sama sekali hanya potongan rambutnya saja," jelasnya.
Baiklah ini baru jelas dan terperinci, aku jadi paham sekarang kenapa makhluk itu disebut malang. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya anak sekecil itu yang tidak tau apapun diperintahkan hal seperti itu sampai dia dijadikan makhluk yang mengerikan seperti itu. Sunggu kejam yang melakukannya, dan aku mengutuk orang yang melakukan hal itu.
"Jadi mau kita apakan dia, dilenyapkan? Tapi dia tidak bersalah bukan?" tanyaku.
"Kalau mau dipertahankan di sini juga gak mungkin, Ta. Emang kamu mau jadi Mamanya apa?" tanya mama membuatku bergidik, memang dia makhluk yang malang dan aku iba akan hal itu tapi bulan berarti makhluk itu tidak membuatku merinding, malah sebaliknya.
"Mungkin dia akan berguna mencari informasi siapa orang yang mau mencelakai kita selama ini dan apa yang dia cari." Papa angkat bicara.
"Tapi dia tidak tau apapun," kata si kerdil "percuma mengorek informasi darinya."
"Bukan tidak tapi belum, untuk sementara dia akan di bawah pengawasanmu dan rawat dia baik-baik sampai setidaknya bisa diajak berkomunikasi," ujar papa mengambil keputusan, sepertinya papa sudah nemikirkan sampai jauh ke depan dan punya rencana lain.
"Tapi jauhkan dia dariku!" pintaku.
Akhirnya rapat dadakan itu selesai kami kembali masing-masing dan semoga kali ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan apapun lagi.
***
Pagi harinya baru saat membuka jendela kamar aku dikejutkan oleh wajah si kerdil yang wajahnya nemplok di kaca jendela, kubuka jendela itu dan aku biarkan dia terjepit diantara jendela dan juga tembok. Yang paling menyeramkannya adalah dia dalam posisi itu karena sedang tertidur.
"Hoi, Kerdil bangun katanya mau jagai aku di sekolah!" seruku sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela. Setelah beberapa menit tidak ada reaksi aku langsung ke kamar mandi dan saat sudah selesai memakai seragam di kamar mandi dia sudah tidak ada di sana.
Saat turun ke bawah ternyata di sudah ada di sana, disiapkan makanan makan di belakang kemudian mengembalikan piring yang sudah kosong. Setelah itu seperti biasa aku diantar mama dan papa ke sekolah tapi ada tambahan yaitu si kerdil yang duduk di bagasi mobil, sedangkan si laba-laba tidak ada terlihat sejak pagi.
Saat aku turun dari mobil Febi langsung merangkulku "Pagi," sapanya sambil tersenyum tidak lupa sambil memakan camilan berupa roti.
"Pagi Febi tembem," sahutku yang membuat dia jadi cemberut seketika.
"Sepertinya aku suka temanmu itu." Perkataan itu langsung membuat mataku tertuju ke si kerdil yang ada di sisi kiriku tepatnya sejajar dengan kaki sampai ke paha. "Iya, aku suka temanmu itu." Ulangnya lagi.
"Hah, suka!?" seruku kaget sambil melotot.