42. Menyebalkan

1175 Kata
"Suka siapa?" tanya Febi sambil berhenti. Aku lupa kalau saat ini sedang berjalan di koridor dengan Febi, dan tentu dia tidak bisa melihat si kerdil. Aku lihat si kerdil tersenyum mengejek. "Siapa yang bilang suka?" tanyaku mencoba mengelak. "Lha, itu tadi aku denger jelas kok kamu ngomong suka," jawab Febi sambil membuang bungkus rotinya yang sudah kosong. "Suka sama ... sama hmm sama film yang kamu kasih iya," jawabku akhirnya setelah berpikir keras. "Oh, kirain suka apaan," kata Febi. "oi, pagi Hafiza si kalem, Sanua si nganu, dan Hana si iklan sampo." Febi melambai ke arah mereka bertiga yang berdiri di depan kelas. Aku juga ikut melambai sambil menyapa. "Pagi, tembem!" seru mereka serentak membalas sapaan Febi, lagi-lagi Febi dibuat cemberut pagi ini. Setelah itu kami pergi ke dalam kelas untuk berbincang-bincang sambil menunggu bel masuk berbunyi. Aku sesekali melirik si kerdil yang hanya berdiri sambil menatap Febi tanpa berkedip, membuat ngeri saja. Saat jam pelajaran pertama, dia terus saja berdiri di samping meja sambl terus mengamati guru kami yang sedang menjelaskan pelajaran. Aku mencoba konsentrasi dan serius tapi tentu saja itu sulit. "Genta!" panggil pak Sya. "Saya, Pak," sahutku. "Coba kamu berdiri di depan kelas dan baca puisi yang ada di halaman dua puluh lima, gerkannya jangan lupa seperti yang sudah Bapak peragakan tadi," jelas pak Sya. Aku mengangguk dan bersiap menuju ke depan tapi lagi-lagi aku masih kaget melihat si kerdil dan hampir saja mengeluarkan suara atau ekspresi yang aneh. Untungnya bisa aku tahan. Waktu sudah di depan dan membaca puisi si kerdil tersenyum mengejek ke arahku. "Pasti akan jelek," ledeknya yang bisa aku dengar dengan jelas, aku kesal mendengarnya dan akan aku buktikan bahwa aku juga bisa baca puisi. Saat selesai membaca puisi kulihat ekspresinya yang kembali datar tidak bisa lagi mengejek, puas rasanya membuat dia bungkam. Selain dari itu ada lagi yang membuat aku kesal, saat aku menuju ke toilet dia hampir juga ikut masuk. Tentu saja aku melarangnya tapi dia tidak peka sama sekali sampai aku menggunakan jurus andalanku yaitu akting. Kami masuk ke dalam toilet dan tanpa malu si kerdil mengikuti dari belakang, dasar m***m. "Wah, ada kecoa!" seruku sambil melompat-lompat. Febi, Hafiza, Hana, dan Sanua juga ikutan melompat-lompat sambil menjerit. "Diman, dimana kecoanya!?" tanya Hana panik. "Ih, benci sama kecoa!" rengek Febi. Kesempatan ini aku gunakan untuk menendang si kerdil dari toilet itu karena perhatiannya teralihkan ke arah Febi yang sedang melompat-lompat dan alhasil pipi tembemnya ikut naik-turun. Aku ingat betul saat dia bilang orang yang menyadari kehadirannya, dan dia berada di dunia antara dunia fana dan gaib. Dia bisa makan makanan manusia, bisa terluka itu artinya dia juga bisa ditendang. Benar saja dugaanku dia bisa ditendang keluar dan menembus pintu. "Jangan ikuti kami ke toilet!" cicitku sambil melotot. Aku kembali lagi ke tempat semula "Udah aku buang kok kecoanya barusan," kataku sambil menepuk-nepuk tanganku. "Makasih ya Genta yang nganu." Sanua langsung memelukku disertai yang lain. Aku hanya tersenyum saja, walau agak sesak. "Udah dong pelukannya sesak nih," kataku akhirnya membubarkan acara peluk-memeluk itu. Aku berniat akan mengomeli dia habis-habisan sesampainya di rumah nanti. Setelah dari toilet kami menuju ke kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan ini, saat aku keluar dari toilet aku lihat si kerdil tidak mengikutiku membuat heran. Aku berpikir mungkin dia akan mengikuti kalau sudah agak jauh jaraknya karena dia ngambek. Aku berhenti sejenak, melihat ke arah belakang dan si kerdil masih berdiri di depan pintu toilet di depan sana. Beberapa orang yang tidak menyadarinya menembus tubuhnya dan masuk ke dalam toilet, mata si kerdil menatap tajam sesuatu. Aku melihat ke arah pandangan si kerdil dan yang aku duga dia lihat adalah gerombolan anak-anak cewek serta beberapa guru yang ada di koridor seberang entahlah mereka sedang melakukan apa. "Eh, bentar ya kayaknya ada barangku yang ketinggalan di kamar mandi," kataku pada Febi dan yang lainnya. Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku kembali lagi menuju toilet yang belum agak jauh. Saat aku sudah ada di sampingnya pun dia seperti tidak sadar seperti jiwanya ada di tempat lain tapi wajahnya terlihat seperti menahan amarah dengan mata memerah. Aku menyenggol tangannua dengan kakiku akhirnya membuat si kerdil menoleh. Aku menaikkan dagu memberikan isyarat ada apa sebenarnya, tapi entah karena dia tidak tau maksudku atau memang dia tidak mempedulikannya dia malah meninggalkan aku. Saat setengah jalan dia berhenti seperti tidak tau aku mau kemana, akhirnya aku berjalan di depan si kerdil menuju ke kantin. Di sana Febi dan yang lainnya terlihat sudah menikmati makanan yang mereka pesan. "Ih, gak nunggui nih main pesan duluan aja," peotesku. "Habis dah laper banget, nih," jawab Febi. "Tenang, gak usah marah-marah kita udah pesenin makanan kesukaan kamu kok," timpal Hana membuatku senang sambil mengibaskan rambutnya. "Ih, jangan kibas-kibas rambut dong ada anunya nanti." Sanua melindungi mangkuknya dengan bahu dari kibasan rambut Hana. "Yeee, kamu kira rambut aku ini rontok apa. Gaklah ya rambutku ini sehat dan berkilau," jawab Hana tidak terima. "Eh, cewek cantik pada kumpul di sini semua gabung, dong." Tiba-tiba Kak Irfan datang bersama Kak Gilang, mereka duduk tanpa izin. "Kakak kelas kan?" tanya Hana. "Iyalah gak liat apa logo kita," jawab Kak Gilang seperti biasa, ngegas. "Ih, santai dong kan cuma nanya," kata Hana sambil memasang wajah tidak suka. "Maafin ya dia emang gitu suka ngegas orangnya," ujar Kak Irfan. "Eh, tembem kok gak pernah balas WA dari kita?" Kak Gilang melihat ke arah Febi. Jika sudah begini nafsu makanku jadi hilang seketika dan aku mencium akan ada cek-cok diantara mereka. "Tembem, tembem enak aja kalau manggil. Aku tuh punya nama! Nih, nama aku nih!" Febi memperlihatkan pengenal namanya yang disematkan di baju. Ya, begitulah Febi kalau teman-temannya yang meledek dia hanya akan cemberut tanpa protes, tapi kalau orang lain maka dia tidak akan terima. "Kalian mau gabung apa mau merusak suasana makan kita sih Kak? Dengan penuh hormat nih ya pas kalian dateng nafsu makan kita jadi hilang." Hafiza buka suara, sekali dia buka suara perkataannya tajam dan pedas. "Maaf, ya semuanya kalau gitu kita pindah aja." Tanpa wajah bersalah Kak Irfam langsung menarik tangan Kak Gilang menuju ke meja lainnya. Akhirnya bisa juga makan dengan tenang. *** Saat sudah sampai di rumah aku langsung menatap tajam ke arah si kerdil, dan dia hanya balas menatapku dengan wajah datar. "Kamu!" seruku memanggilnya. "Kalau ingin marah nanti malam saja aku sudah ngantuk gak kuat lagi mau tidur." Tanpa menunggu jawaban dariku dia langsung pergi ke taman belakang sambil menguap terus-menerus. "Dasar menyebalkan!" Aku menginjak-injak rumput yang tidak bersalah sebagai pelampiasan emosi, kemudian menarik napas dan saat sudah tenang aku masuk ke dalam rumah. "Genta udah pulang ternyata," sambut mama sambil terus berkutat dengan pisau dan sayuran yang akan dipotong. "Papa kemana, Ma? Kok belum pulang kayaknya," tanyaku karena tadi aku juga pulang bareng Febi dan mungkin seterusnya akan begitu. "Iya, Papa agak telat katanya pulang buat makan siang atau mungkin gak makan siang di rumah," jawab papa, aku hanya mengangguk singkat. "Yaudah kalau gitu Genta ke atas dulu ya ganti pakaian terus bantuin Mama." Baru saja aku berniat akan menaiki tangga tapi aku urungkan niatku karena ada makhluk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN