Aku mundur beberapa langkah dan dia maju dengan kaki laba-labanya sambil tersenyum. "Ka ... kamu mau apa?" tanyaku takut.
"Nona," panggilnya.
"Ha, Nona? Siapa aku?" Aku menunjuk diriku sendiri dan si laba-laba mengangguk sambil terus tersenyum. Aku masih melongo ketika dia memanggilku begitu.
"Kenapa, Ta?" tanya mama sambil memegang pundakku.
"Ini Ma, Genta cuma aneh aja Si laba-laba manggil Genta dengan sebutan Nona," jawabku.
"Nyonya," panggil dia lagi kali ini melihat ke arah mama.
"Ha, Nyonya? Mama dipanggil Nyonya gitu, Ta?" tanya mama sambil menatap ke arahku.
"Ya, mungkin Ma," jawabku alakadarnya.
"Bisa minggir gak aku mau ke atas nih?" tanyaku pada si laba-laba, dia mengangguk kembali dan kemudian memberikan jalan untuk aku lewat. Aku kemudian berjalan menuju ke kamar, sebelum benar-benar masuk kamar aku melihat ke arahnya sekali lagi dan ternyata dia juga masih melihatku dengan senyuman yang belum luntur juga. Ternyata makhluk itu tidak semenyeramkan yang aku pikirkan.
Selesai berganti pakaian aku membantu mama dan benar saja papa tidak pulang untuk makan siang jadi kami hanya makan berdua, ralat berempat dengan si kerdil dan si laba-laba. Mereka tetap makan di kebun belakang, si laba-laba dengan baik hatinya membawa makanan untuk si kerdil yang mungkin masih tidur.
Selesai kami makan si laba-laba masuk kembali ke dalam rumah dan memberikan piring yang sudah kosong padaku untuk dicuci.
"Laba-laba," panggilku. Dia tidak menoleh sama sekali, mungkin itu bukan namanya semasa hidup pikirku. Padahal aku ingin menanyakan apakah si kerdil sudah bangun atau belum karena aku tidak sabar ingin mengomelinya, tapi sepertinya hal itu harus ditahan sampai selesai makan malam nantinya.
Daripada memendam kesal ini aku putuskan untuk belajar saja tapi sepertinya percuma karena pelajaran yang ada dihadapan saat ini tidak bisa sama sekali masuk ke otak. Aku berdiri dari tempat aku duduk kemudian menuju ke taman belakang, membuka pintu gudang dan ternyata si kerdil masih tidur dengan pulasnya bersama laba-laba.
Muncul lagi ide untuk membangunkannya, kali ini tidak seekstrim yang sebelumnya. Aku hanya mencoba memukul pipi si kerdil tapi ternyata kulitnya itu cukup keras dan dia seperti sama sekali tidak terganggu. Ini membuatku tambah kesal, akhirnya aku meninjunya dan jadi tanganku yang sakit.
Akhirnya karena tidak berhasil juga aku berencana kembali belajar dengan wajah cemberut dan pipi menggembung.
***
Malam yang aku tunggu tiba tidak sabar menunggu papa pulang, makan bersama, dan yang paling penting mengomeli si wajah menyebalkan alias kerdil.
"Adek, makannya pelan-pelan gak ada yang minta nasi goreng kamu kok," tegur papa ketika papa baru mau akan menyuapkan satu sendok ke mulutnya tapi aku dengan bar-bar sudah berulang kali memasukkan nasi goreng ke mulut sampai penuh.
"Iya, kenapa sih buru-buru gitu?" tanya mama yang tidak bisa aku jawab karena mulut yang penuh.
Aku hanya menggelengkan kepala sambil terus makan, mama dan papa yang melihatku hanya saling memandang satu sama lain kemudian melihatku dengan tatapan heran. Selesai makan aku langsung melatakkan piring di wastafel dan ke kebun belakang, segera menuju ke gudang.
Di depan pintu gudang terlihat si kerdil dan laba-laba masih makan, si kerdil makan dengam tangannya seperti manusia normal. Sedangkan laba-laba makan dengan mendekatkan kepalanya ke piring dan memakannya seperti kucing. Yang paling jorok adalah mereka m******t piring itu sampai bersih dan si kerdil tidak mencuci tangannya melainkan menjilatnya juga.
"Ih, jorok!" seruku tanpa sadar. Mereka berdua menatap ke arahku tanpa bersuara sedikit pun. "udah kan makannya udah yuk buruan mulutku udah gatel pengen ngomelin kamu!" Aku melotot ke arah si kerdil.
Dia hanya memandangku tanpa menjawab iya atau tidak tapi aku anggap itu sebagai jawaban iya dan akhirnya aku kembali ke dalam rumah menuju ke kamar. Ternyata saat aku masuk ke kamar di sudah ada di sana lebih dulu satipada aku, si laba-laba juga ikut menemaninya. Baiklah tidak masalah asalkan mereka tidak melakukan hal yang aneh.
"Kenapa kamu harus suka sama Febi? Apakah kamu bener-bener suka sama Febi? Apa hanya karena pipi tembem? Emang kamu gak pernah apa jatuh cinta sama satu jenismu? Jangan bilang kamu akan mencoba merayu Febi?" Pertanyaan bertubi menjadi awalan untuk aku mengomelinya lebih lanjut.
"Wah, aku berasa artis ditanya pertanyaan yang begitu banyak," jawabnya.
"Jangan bercanda!"
"Baiklah, aku suka," jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Aku melotot saat dia menjawab begitu.
"Tapi, aku hanya suka pipi tembemnya saja tidak lebih. Aku hanya bilang suka agar kamu marah, aku tau kamu itu pemarah," tambahnya lagi. Jujur saja saat dia mengatakan begitu aku anatara lega dan juga masih tidak percaya, saat aku menatap mata bulatnya itu tidak bisa ditemukan kebohongan atau kejujuran di sana. Matanya terlalu sulit dibaca.
"Benarkah itu? Aku masih tidak percaya!"
"Percaya atau tidak itu urusanmu, aku hanya menjawab dengan jujur saja. Tentu jika aku mencintainya sungguh-sungguh tidak akan mungkin, karena anggap saja kita ini beda alam juga dia pasti akan menderita. Anak baik tidak boleh disakiti begitulah yang Ibuku katakan."
"Lega mendengarnya, pasti jika Febi mendengarmu memuji begitu dia akan senang."
"Lagipula, cinta itu ... membinasakan." Dia menatap ke luar jendela dengan tatapan lurus dan serius.
"Bagaimana cinta bisa membinasakan?" tanyaku dengan heran.
"Tentu saja setiap orang memiliki kisah cinta yang berbeda maka mereka bisa menyimpulkan bagaimana itu cinta berdasarkan kisah mereka. Namun, dalak kisahku cinta itu membinasakan. Ada orang yang mencintai sampai membenci, ada juga yang melenyapkan atas nama cinta, maka aku katakan cinta itu membinasakan. Di tempat kami terlalu mencintai diri sendiri satu sama lain dan mencintai apa yang kami miliki saat ini sampai takut akan perubahan, maka satu per satu dari kami pun binasa," jelasnya panjang lebar.
"Apakah karena itu kamu tidak mau mencintai? Bukankah cinta antara anak dan orangtua itu indah tidak membinasakan?"
"Bisa jadi karena itu, lagipula kalau pun kami tidak mencintai kami akan tetap hidup. Kami bukan makhluk yang memerlukan cinta layaknya manusia, dan apakah cinta antara anak dan orangtua itu juga membinasakan jawabannya adalah tentu saja. Ada orantua yang terobsesi mengatas namakan itu cinta, ketika kita kehilangan orangtua atau anak yang kita cintai pasti juga kita ingin binasa."
"Bohong kalau kamu bilang tidak butuh cinta, aku melihatnya sendiri bagaimana kamu mengejarku untuk balas dendam karena kematian Ibumu."
Pembahasan ini rasanya akan membuatku menangis jika dilanjutkan, aku kasihan padanya karena tidak lagi bisa bertemu ibunya dan di sisi lain aku merasa beruntung masih mempunyai banyak orang yang benar-benar menyayangiku dan penuh dengan cinta. Ibunya sampai harus binasa untuk menggantikannya, jadi mungkin dia tidak salah jika mengatakan cinta itu membinasakan.
"Dan juga kenapa kamu mengikuti sampai di dalam toilet memangnya aku menyuruhmu melakukan itu, kamu itu sangat menyebalkan, berwajah datar!"
Dia tertawa sumbang saat aku mengatakan itu.
"Kalau soal itu sengaja," jawabnya enteng.
"Apa!?" teriakku.
"Tapi, ada satu hal yang harus aku beritahukan. Kamu bisa berkata dalam hati jika ingin mengomeli atau mengatakan sesuatu padaku, jangan ditahan nanti akan meledak seperti malam ini dan hasilnya aku kekurangan jam tidur. Dan juga itu tidak akan membuatmu seperti orang gila." Lagi-lagi dia tertawa dengan wajah menyebalkan itu.
Saat aku menyahut tiba-tiba laba-laba terjatuh begitu saja, dengan cepat perhatian kami teralihkan. Tidak hanya jatuh di lantai begitu saja dia juga mengeluarkan seperti kesakitan.