44. Terbiasa

1136 Kata
"Kamu kenapa!?" tanya si kedil sambil berjongkok memeriksa makhluk laba-laba itu. Aku juga turun dari kursi belajarku dan melihatnya walau tidak mau terlalu dekat. Mulutnya mengeluarkan busa seperti keracunan, dia memegangi lehernya dengan mata yang sepertinya akan lepas dari rongganya. Kulihat si kerdil sangat panik sampai bingung harus melakukan apa, aku juga jadi ikut panik dan bingung. "Panggil ... pagil Ibu dan Ayahmu!" serunya. Aku mengangguk dan dengan cepat keluar dari kamar. "Pa, Ma, ayo!" seruku memanggil dari atas tangga. Mama dan papa langsung mengerti kemudian menyusulku. Aku menunjuk ke arah si laba-laba yang kini tubuhnya entah kenapa menggembung seperti balon udara. "Bawa dia keluar!" seru papa pada di kerdil. Si kerdil langsung mengangguk dan kemudian mengangkat tubuh laba-laba yang semakin mengembang, karena tubuhnya mengembang ekornya yang panjang jadi terlihat pendek lama-kelamaan. Aku dan mama melihat dari balik bingkai jendela yang terbuka seperti biasa, sedangkan si kerdil dan papa melihat dari jarak yang dekat. "Tolong dia kenapa kamu diam saja!?" teriak si kerdil. "Tidak ada yang bisa kuperbuat," jawab papa menatap lurus ke arah mata si kerdil. "Dingin," lirih si laba-laba giginya yang runcing itu ikut bergemeretuk. Akhirnya si kerdil memeluk laba-laba, sampai beberapa detik setelahnya dia meletus bagai balon yang pecah karena kebanyakan tekanan udara yang dimasukkan. Si kerdil terisak, dari letusan itu ada cairan hitam yang berserakan di sekitar sana juga terlihat mengenai baju dan kulit papa. Yang paling banyak terkena cairan itu tentu saja di kerdil, hampir seluruh badan dan wajah bagian depannya berwarna hitam. Aku mendengar si kerdil terisak tidak terasa air mataku juga ikut jatuh. Mama memelukku sambil mengusap kepalaku, begitu menyedihkan kematian mereka. Tidak berbekas sama sekali tapi setidaknya ada yang akan mengenang laba-laba dan pernah mengenalnya. "Terimakasih." Perkataan itu terdengar dan aku yakin betul itu adalah suara makhluk kecil yang baru saja meletus seperti balon, perlahan cairan hitam itu hilang tidak bersisa. Mungkin itu adalah ucapannya karena kami sudah mengenal dan akan mengenangnya, terutama si kerdil. "Boleh aku membuat kuburan untuknya agar dikenang?" tanya si kerdil dengan suara serak. "Tentu," jawab papa. Si kerdil kemudian berjalan perlahan menuju ke arah gudang, setelah itu papa masuk kembali melalui jendela. Saat papa sudah ada di dalam kamarku, spontan aku menutup hidung karena bau tidak enak yang papa timbulkan seperti bau jengkol dan pete yang lama tidak disiram ditambah bau busuk yang menyengat sangat tidak enak dan membuat kepalaku pusing tapi aku tidak berani mengatakannya. "Papa, bau," celetuk mama, satu tangan mama memegang hidung sedangkan tangan lainnya mama gerakkan seperti kipas. Papa mencium bajunya sendiri dan setelah itu dia terbatuk, karena mungkin ikut kebauan juga. Setelah itu tanpa suara papa pergi dari kamarku, aku dan mama mengikuti papa dan ternyata papa masuk ke kamar. Tidak lama terdengar suara air yang mengalir, mungkin papa sedang mandi saat ini. "Malam ini Mama temani kamu tidur, ya," kata mama menawarkan, tentu dengan senang hati aku terima karena aku yakin pasti akan sulit tidur malam ini karena kejadian tadi. Benar saja aku sulit tidur karena kejadian tadi masih terbayang seperti kaset rusak di kepalaku, semua kenangan saat kami bertemu sampai kejadian mengerikan tadi. Bukan berarti aku suka padanya hanya iba, kasihan rasanya. Tidak bisa dibayangkan jika aku ada di posisinya, belum lagi yang terlihat paling sedih adalah si kerdil. Aku turun dari tempat tidur menuju ke arah jendela dan si kerdil tidak ada di sana. "Mau kemana?" tanya mama sambil memegang bahuku ketika aku mau membuka pintu kamar. "Kejadian malam ini jangan terlalu dipikirkan, ayo tidur besok kan sekolah," lanjutnya. Aku mengangguk kemudian kembali lagi ke tempat tidur mencoba memejamkan mata dan menghilangkan semua gambaran kejadian itu, sampai akhirnya aku berhasil terlelap dibawa ke alam mimpi. *** "Ma, Pa, Si kerdil mana?" tanyaku saat turun dari tangga. "Bukannya sapa Mama dan Papanya malah nyariin yang lain," jawab mama sambil memasang wajah cemberut. Aku tertawa kecil melihat ekspresi mama itu "Yaudah, kita ulang ya," kataku sambil naik lagi ke atas. "Pagi Mama dan Papaku sayang," sapaku kembali menuruni tangga seperti tadi. "Pagi, Sayang. Gitu dong," jawab mama ceria. Baru saja aku akan menanyakan pertanyaanku tadi papa sudah menyela lebih dulu. "Lagi di kebun belakang di kuburan si laba-laba," jawab papa. Aku langsung menuju ke sana. "Genta, Sarapan dulu!" jerit mama. "Sebentar," kataku. Saat aku tiba di halaman belakang ternyata benar si kerdip sedang ada di depan gundukan tanah yang dia buat tadi malam, dia hanya menatap gundukan tanah itu dengan murung. Aku kasihan melihatnya. "Gak sarapan?" tanyaku membuatnya tetap bergeming. Akhirnya aku meninggalkannya sepertinya percuma membujuknya juga. Aku yakin dia akan datang saat sarapan nanti untuk sarapan. Ternyata apa yang aku prediksikan salah, dia sama sekali tidak ke meja makan bahkan piring berisi makanan pagi ini tidak dia sentuh dan akhirnya mama menyimpannya saja. Dia ikut ke sekolah seperti biasa dengan wajah murung seperti tidak ada semangat hidup sama sekali, aku lebih memilih melihat wajahnya yang menyebalkan daripada melihatnya jadi seperti ini. Jika diingat lagi apa yang dia alami selama ini membuat aku tambah kasihan saja. "Mungkin kalau nanti dia ketemu Febi di sekolah dan lihat pipi tembemnya bisa sedikit cerita," harapku dalam hati. Saat aku turun Febi sudah menunggu dan langsung merangkulku, sekilas aku lihat si kerdil yang tetap saja masih murung walau tadi dia sempat melihat Febi. Ternyata adanya Febi juga tidak berhasil menghapus kesedihannya itu. "Feb, boleh minta tolong gak?" tanyaku. "Tumben, minta tolong apaan?" tanyanya sambil menguyah cokelat batangan. "Aku cubit pipi kamu ya," kataku sembari menyatukan kedua telapak tanganku. Febi melotot detik itu juga "Gak!" Dia kemudian berlari dan aku mengejarnya sampai ke kelas, rencana kali ini gagal. *** "Apakah kamu sesedih itu beberapa hari ini jasi murung? Bahkan kamu gak membuat aku kesal?" tanyaku setelah beberapa hari tidak bicara padanya, sampai hari ini pun dia tetap murung. "Yah, bisa jadi begitu. Aku merasa ada yang senasib saja, tidak disangka dia diambil dengan cepat," jawab si kerdil, lagi-lagi dia menatap lurus ke depan. "Tapi bukankah kalau kamu terbiasa menerima juga harus terbiasa mengucapkan selamat tinggal?" Aku bertompang dagu sambil menatapnya. "Tidak ada yang terbiasa dengan perpisahan, itu terlalu sulit." "Ternyata kalau kamy sedang bersedih bisa jadi bijak juga, ya," ucapku sambil tertawa. "Sudahlah, mungkin dia mendapatkan tempat yang lebih bagus di atas sana daripada dia harus jadi anak malang yang dimanfaatkan," hiburku. Dia hanya diam kemudian berjalan dan keluar dari jendela mulai berpatroli di sekitar rumah seperti biasa. Aku juga mencoba melanjutkan belajarku, benar juga tidak ada orang yang terbiasa dengan kehilangan walau itu berulang kali. Tidak juga ada yang siap dengan hal itu, karena itu mendadak bukan sesuatu yang bisa diprediksi atau juga yang kita tau dan direncanakan. Kehilangan itu benar-benar sesuatu yang berat daripada menerima, walau kepercayaan itu juga tidaklah mudah didapatkan tapi menurutku tetap saja yang paling sakit dari itu adalah kehilangan. Enthalah urutannya bagaimana, tapi aku yakin dia akan terbiasa dan kembali ke wajah menyebalkannya itu. Semoga saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN