Setelah tiga hari sejak aku bicara soal terbiasa atau tidaknya kehilangan si kerdil mulai kembali ke dirinya yang dulu, dengan wajah datar yang menyebalkan dan tingkah yang selalu menbuat aku jengkel. Aku senang dia bisa menghadapinya walau aku yakin tidak mudah dan pasti sesekali akan teringat juga. Dia juga sudah terbiasa menjagaku di sekolah, gangguan masih selalu ada tapi tidak seberbahaya atau sesering dulu membuat papa dan mama lebih tenang begitu juga denganku.
Rasanya mataku sulit sekali dibuka pagi ini, tapi tetap aku mencobanya. Bukan karena aku begadang atau sejenisnya juga bukan karena masih mengantuk tapi entahlah karena apa.
Rasa perih juga terasa si mata terasa seperti banyak air mata di sana dan saat aku melihat ke cermin bernar saja mataku memerah dengan air mata dan sangat menyipit hampir tertutup sepenuhnya.
"Kamu tidak sekolah? Matamu kenapa?" tanya si kerdil yang sudh berdiri di depan tempat tidurku.
"Mataku perih, merah juga, banyak air mata yang keluar. Bisa tolong panggilkan Mama atau Papa?" tanyaku padanya, tidak bisa kulihat dengan jelas dia karena air mata membuat pandanganku kabur.
Dia kemudian pergi hanya terlihat siluet saat dia pergi meninggalkan kamarku tanpa sepatah kata pun, terkadang keberadaannya itu memang benar-benar sangat menbantu seperti sekarang ini misalnya. Aku kembali berbaring memejamkan mata yang terasa sudah sangat berat, walau sudah dipejamkan rasanya tetap perih.
"Sayang kamu kenapa?" tanya suara mama yang bisa aku dengar dengan jelas, aku tidak membuka mataku sama sekali karena terasa sulit.
"Mata kamu bengkak, Dek!" seru papa yang dari nada bicaranya seperti kaget.
"Gak tau nih, Pa, Ma. Genta juga bingung bangun tidur langsung gini padahal gak begadang lho tadi malam, tuh Si kerdil saksinya," jawabku mencoba menjelaskan.
"Mau ke dokter gak, Dek?" tanya papa.
Aku menggeleng keras "Gak mau takut disuntik," rengekku.
"Belum tentu disuntik juga kali, Ta."
"Pokoknya gak mau bau obat lagi, gak suka."
"Kalau panggil dokternya ke sini?" tanya papa lagi.
"Ih, jangan Pa kan kita lagi hemat uang buat renovasi rumah biar bagus," tolakkua lagi.
"Haduh, jadi kamu maunya gimana?" tanya mama.
"Istirahat aja, Ma semoga bisa sembuh. Mungkin ini karena kemasukan debu atau apa gitu kali ya."
"Yudah, nanti Papa mampir ke sekolah buat minta izin kamu gak sekolah hari ini, ya," kata papa.
"Makasih, Pa."
Aku merasa tangan papa mengelus rambutku, aku tersenyum.
"Mama juga gak akan belanja lama-lama biar bisa jaga kamu, sementara Mama pergi belanja Kerdil tolong jagai Genta ya."
Aku tidak tau apakah Si kerdil mengangguk atau tidak karena mata tang terasa masih saja berair.
"Kamu perlu sesuatu gak, Sayang? Biar Mama belikan sekalian."
"Genta butuh tius, Ma buat ngelap air mata yang bertumpuk di mata sampai ke pipi padahal gak nangis ini," ujarku terkesan lebay.
"Yaudah, sebentar ya Mama ambilkan sarapan kamu dulu. Kamu bisa sarapan sendiri atau nunggu Mama pulang aja?"
"Nunggu Mama pulang aja deh, Ma."
Setelah itu aku dengar suara langkah kaki yang sepertinya papa dan mama keluar dari kamar, hanya ada kesunyian setelah itu. Tidak ada suara di dalam kamar ini bahkan suara burung dan angin pun, hanya bisa aku rasakan cahaya yang masuk dan terasa lumayan panas.
"Sepertinya aku butuh kipas angin," kataku. Tidak disangka detik kemudian kurasakan semilir angin disertai oleh bunyi kipas angin yang sangat aku kenali. "Si kerdil?" panggilku.
"Iya, apa kamu butuh sesuatu yang lain?" tanyanya.
Hampir saja aku lupa kalau si kerdil ada di sini juga. "Aku pikir kamu ikut sama Mama dan Papa."
"Tugasku menjagamu, untuk apa juga ikut mereka yang diincar oleh makhluk-makhluk jelek itu kan kamu."
Aku membayangkan raut wajahnya yang menyebalkan saat dia mengatakan hal itu, tapi raut menyebalkan itu entah kenapa dibayangkanku membuat lega mungkin karena saat ini aku membutuhkan keberadaannya.
"Aku mau tidur, jaga aku ya."
"Hmm."
Kemudian aku mencoba terlelap agar rasa perih di mataku ini menghilang dan juga berharap agar saat aku bangun nanti maka mataku bisa terbuka lagi.
***
"Sayang, Mama pulang!" teriakan itu membangunkanku baru saja aku akan menyusuri alam mimpi ternyata tidak jadi dan seperti ditarik kembali.
"Iya, Ma," jawabku. Perih di mataku sudah mulai berkurang ketika aku terdiam dan coba merasakannya, perlahan aku buka walau masih agak buram tapi lebih baik dari yang tadi.
"Mama suapin kamu sarapan dulu ya, maaf lama tadi Mama nemenin Papa buat minta izin ke sekolah."
"Iya, Ma. Gak apa-apa."
"Gimana matanya?"
"Udah baikan, oh iya mana tisunya Ma?" tanyaku sambil menyodorkan tangan.
Aku melihat mama mengambil sesuatu dari salah satu plastik yang dia bawa dan memberikan sebungkus tisu kecil.
"Makasih, Ma."
Perlahan aku lap air mata itu walau agak sakit jika disentuh, tapi itu membuat kaburnya lebih menghilang dari yang tadi.
"Mama ke dapur ambil sarapan dulu, minta tolong bawain ini ke dapur juga ya." Mama menyodorkan kantong belanjaannya kepada si kerdil, dia tidak protes dan langsung mengambil semuanya. Setelahnya dia langsung keluar dari kamar tanpa bersuara.
Setelah itu dengan telaten mama menyuapiku, rasanya sudah lama tidak disuapi oleh mama dan banyak orang yang bilang bahkan aku pun merasakan sendiri kalau makan dari suapan seorang ibu itu benar-benar beda rasanya. Lebih nikmat.
"Lahap juga makan kamu, Ta," ujar mama sambil tertawa kecil.
"Kan yang sakit matanya, Ma bukan perutnya," jawabku.
"Iya, iya. Lagipula Mama juga seneng kok kalau kamu makannya lahap itu artinya kamu bisa cepet sembuh." Mama tersenyum dan aku membalas senyum mama.
Tidak lama si kerdil kembali ke kamar kali ini membawa beberapa bungkusan berwarna terang yang terlihat seperti bungkus jajanan tapi aku tidak yakin karena masih buram.
"Apaan, tuh?" tanyaku.
"Camilan buat kamu." Dia langsung meletakkan semua bungkusan yang ternyata benar adalah jajanan ke kakiku dan berserakan.
"Dapat dari mana?" tanyaku.
"Mama kamulah yang beliin masa aku nyolong dari tempat Febi," jawabnya enteng. Aku tidak bisa melotot tapi terkejut dengan jawabannya yang seakan memberikan kode itu.
"Beneran?" tanyaku curiga.
"Tanya aja Mamamu," jawabnya sambil melihat ke arah lain.
Hening kembali, dia terlihat berkacak pinggang. Aku menatap ke arah jendela masih sangat kabur, akhirnya aku pejamkan mata dengan kondisi jajanan yang berserakan di tempat tidur.
Angin terasa berembus pelan dengan kesejukan yang mulai terasa, sepertinya panas sudah mereda dan beganti mendung yang menyejukkan. Kipas angin sudah dimatikan tadi, dan sepertinya aku bisa tidur nyenyak kali ini tanpa gangguan.
Awalnya aku berpikir begitu sampai kudengar suara menggeram yang sangat dekat "Apa lagi ini?"