47. Dia

1125 Kata
Setelah itu mama mengantar mereka sampai ke luar rumah sedangkan aku dilarang dan tetap di tempat tidur saja dan coba kembali memejamkan mata agar lebih baik lagi dan cepat sembuh mata ini. Namun, baru saja terpejam beberapa detik sudah dikagetkan oleh suara ketukan jendela yang keras, banyak mengalami kejadian aneh tidak menjamin jantungku terlatih jika ada hal yang sama lagi. Aku acuh tidak acuh saja dengan ketukan jendela itu, aku yakin itu pasti si kerdil. Perlahan kembali memejamkan mata sambil menarik napas, tapi lagi-lagi ketokan jendela itu terus saja berlanjut. Tetap saja tidak aku pedulikan, masa bodoh. Aku lelah dan hanya ingin istirahat. Akhirnya ketukan jendela itu berhenti, akhirnya dia menyerah juga dan aku bisa tenang tidur sekarang ini. Rasanya sangat nyaman dan sebentar lagi akan ke alam mimpi yang akan membawa ke tempat nasi goreng terbesar si alam semesta untuk dimakan sendiri. Baru saja aku terbang menuju nasi goreng itu sebuah sura langsung membuatku bangun dengan kantuk yang hilang, aku lihat sekeliling ternyata kaca jendela pecah berkeping-keping selain itu ada ras perih di wajah dan tangan. Saat aku lihat tanganku ternyata serpihan kaca sampai ke sana dan membuat cairan merah keluar walau sedikit. "Di mana dia!?" tanya si kerdil dengan penuh emosi, kali ini matahnya tidak lagi memerah walau masih menatap tajam dia juga sudah berjalan normal seperti biasanya. "Kamu tuh ngapain sih!? Liat nih, tanganku kena pecahan kaca dari jendela yang kamu hancurkan itu!" marahku "siapa juga yang kamu maksud dia itu!? Hari ini kamu lebih dari sekadar menjengkelkan!" Aku berteriak benar-benar kesal dengan ulahnya. "Kenapa, Ta? Kok kamu teriak-teriak!" Mama menyerbu masuk. "Lihat ulahnya, Ma!" seruku sambil menunjuk ke arah si kerdil. "Kerdil! Apa yang kamu lakukan kenapa kamu pecahkan kaca jendelanya!?" Mama ikut emosi. Si kerdil diam saja tidak menggubris, dia kemudian keluar lagi melalui jendela dan kembali beberapa detik berikutnya kemudian mulai menyapu serpihan kaca di lantai. "Ma, obati luka Genta, ya." Aku menyodorkan tangaku kepada mama memperlihatkan ada serpihan kaca di sana juga beberapa luka yang memang tidak terlalu serius. Mama melotot ke arah si kerdil setelah itu dan pergi ke dapur, kemudian kembali membawa kotak p3k. *** "Pa, Si kerdil itu apa-apaan sih hari ini buat masalah terus!?" rengek mama pada papa. Papa yang baru pulang dan langsung direngekin seperti itu hanya bisa menatap heran ke arah mama karena jarang-jarang dia seperti ini kalau memang tidak ada hal yang membuatnya sangat jengkel. "Papa baru pulang, Ma kok langsung ditanyai begitu mana papa tau apa yang terjadi hari ini," jawab papa. "Eh, iya juga. Maaf ya Pa, Papa pulang bukannya mama sambut dengan baik malah ...." "Gak apa-apa, Ma. Kalau gitu papa mau mandi dulu, nanti selesai makan malam baru Mama cerita kita cari solusinya." Papa tersenyum kemudian langsung menuju ke atas setelah mendapatkan anggukan dari mama. Aku yang duduk di meja makan hanya bisa menyaksikan adegan saling pengertian keduanya. "Adek udah baikan?" tanya papa padaku sambil berbalik di anak tangga ketiga. "Udah, Pa," jawabku. "Kalau gitu jangan capek-capek dulu ya." Aku mengangguk dan papa meneruskan langkahnya. Suasana kembali hening, hanya ada suara spatula mama yang beradu dengan wajan dan semerbak bau nasi goreng yang memenuhi ruangan, aku bosan hanya bisa melihat mama saja. "Eh, Adek ngapain di sini? Udah sana duduk aja." "Bosen, Ma. Genta bantuin ya," rengekku. "Apa tadi kata papa hayo?" Terpaksa aku kembali dan duduk di tempat semula. Di tengah kebosanan yang melanda aku jadi teringat lagi tingkah Si kerdil yang sangat aneh hari ini. "Jangan kebanyakan berpikir, Dek. Kamu kan baru baikan," kata papa yang berhasil membuyarkan pemikiraku. "Kmu mikirin apa sih, Dek?" tanya mama sambil meletakkan pirng berisi nasi goreng di depanku, daan beberapa piring lain yang masih kosong, nasi putih, dan lauk lainnya. "Kok cuma Genta yang dibuati nasi goreng? Mama sama Papa gak makan nasi goreng juga?" tanyaku bertubi ke arah mama. "Kan kamu baru sembuh, jadi mama masakin nasi goreng kesukaan kamu. Nah, mama dan Papa makan nasi biasa beserta lauk-pauknya aja," jawab mam. Aku tersenyum. "Eh, pertanyaan tadi belum kamu jawab lho, Ta." "Udah-udah makan dulu, jawab pertanyaannya nanti aja. Liat tuh Adek matanya udah berbinar-binar gitu liat nasi goreng, kalau sampai dia ngiler gimana?" ledek papa yang membuat mama tertawa kecil, sedangkan aku hanya menatap papa sambil cemberut tapi kemdian ikut tertawa juga. Kami kemudian makan, aku makan dengan lahap sampai beberapa kali tambah. Untungnya mama yang pengertian tau bahwa aku akan tambah, aku pikir mama hanya buat satu piring nasi goreng saja ternyata masih ada di wajan dapur. "Kita pindah ke ruang tengah aja," kata papa setelah kami selesai makan dan mama selesai mencuci piring. Kami mengekori papa menuju ke ruang tengah dan duduk di sofa panjang. Kami duduk berjajar di sofa itu. "Jadi, gimana ceritanya?" tanya papa melihat ke arahku dan mama secara bergantian yang duduk di sisi kiri dan kanannya. Mama pun mulai menceritakan kejengkelannya kepada papa tetang sikap si kerdil hari ini, setelah itu gantian aku yang menceritakan tentang sikap anehnya saat Pak Sya, Febi, dan lainnya saat menjengukku tadi. "Pak Sya?" tanya papa memastikan. "Iya, Pak Sya. Kenapa memangnya, Pa?" tanyaku heran. "Gak, gak apa-apa namanya jadi ingeti papa sama seseorang tapi gak mungkin dia, mungkin namanya aja yang mirip," jawab papa yang sebenarnya tidak aku pahami sepenuhnya, tapi aku mengangguk saja. "Sepertinya memang bukan dia, Pa. Soalnya mama udah pernah ketemu dia beberapa kali," ujar mama. "Baik kalau gitu masalah ini akan papa tanyakan sama dia, dan kamu Dek jangan banyak pikiran nanti kalau papa udah temukan jawabannya akan papa kasih tau kamu biar kamu gak penasaran lagi," tutur papa panjang lebar. "oke, selesai sampai di sini kita istirahat. Papa juga masih ada kerjaan." Papa kemudian beranjak dan kami menuju ke kamar masing-masing, mendengar penuturan papa membuat aku jadi tidak terlalu memikirkannya. Aku kemudian pergi ke kamar mandi untuk ritual malam seperti biasa, yaitu cuci muka dan cuci kaki. Baru keluar dari kamar mandi aku kaget karena papa dan mama tiba-tiba sudah berdiri di depan jendelaku yang pecah. "Papa dan Mama ngapain? Bikin kaget aja," tanyaku sambil memungut handuk kecil yang aku jatuhkan ke lantai. Mama tertawa kecil "Mama mau bersihin serpihan kaca ini dulu sebelum tidur," jawab mama. "Papa juga mau nutup kaca kamu yang pecah pakai lakban sementara, Dek. Memangnya kamu mau apa tidur kedinginan karena jendelanya kayak gini?" tanya papa. Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, aku sampai lupa kalau kaca jendelaku pecah dan belum diapa-apakan. "Ya enggak, Pa. Makasih, Ma Genta sampai lupa," jawabku sambil nyengir. Aku hanya bisa melihat dan bingung juga mau melakukan apa, akhirnya aku ke bawah dan mengambil air minum di dapur. Gelas yang aku pegang lolos dari tangan karena lagi-lagi kaget menghampiri, tiba-tiba saja si kerdil berdiri di depanku dengan amarah yang terpencar di matanya. "Jauhi dia, hati-hati dengannya. Dia itu pengkhianat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN