Pria Paling Menyebalkan

1559 Kata
Andai pintu Doraemon itu ada, pasti Hasna rela membeli meski harus merogeh kocek dalam-dalam. Dengan pintu itu, dia membayangkan bisa pergi ke mana saja, menghilang ke tempat yang dia mau. Apalagi saat ini, ingin rasanya menarik Kenan dan mengirim pria tersebut ke dunia lain, setidaknya Kenan tak muncul lagi di studio fotonya. Lagi? Iya, lagi. Setelah ke-gap oleh Indah kemarin, Kenan mulai sering berkunjung ke rumah atas undangan Ibunya Hasna. Wanita itu tak berkutik. Dia hanya menurut saat ibunya menawari Kenan mampir ke studio foto milik Hasna. Entah ada keperluan sang ibu pada hari itu mendatangi tempat kerjanya, lalu belanja cemilan untuk ayah dan kedua karyawan tengilnya. Kalau saja Hasna tak meminta berhenti atau tak meladeni ocehan Kenan, tentu tak akan terjadi percekcokan yang dilihat langsung oleh Indah. Seperti punya sihir, ibunya terlihat percaya saja saat Kenan memperkenalkan diri sebagai kekasihnya. Hasna ingin membantah, tetapi urung kala melihat binar bahagia di mata sang ibu. Terakhir kali dia melihat ibunya sebahagia itu, saat pernikahan dengan Azka. Namun, setelah perceraian menjadi pilihan, Indah selalu menatap putrinya itu dengan sorot prihatin. "Ibu kira-kira masak apa, ya, hari ini?" Kenan melirik jam di pergelangan tangannya. Hasna malas menanggapi. Dia memilih pura-pura tak mendengar ocehan pria itu. "Pasti enak banget, seperti kemarin. Ikan gurame balado dan sayur asem." Kenan mencepak, membayangkan menu makan malam dua hari yang lalu." "Ya jelas enak, gratisan!" sahut Hasna ketus. Bukannya marah, Kenan malah tertawa, apalagi saat melihat wajah cemberut wanita di sebelahnya itu, membuat hatinya sangat bahagia. Sepertinya Kenan menemukan bakat terpendam yang membuatnya senang, mengusik ketenangan Hasna. Yups! Itu akan jadi jalan ninjanya. "Kamu kesambet, ya?" Hasna tak tahan juga untuk tidak menatap Kenan, mukanya sudah seperti daster kusut. Pria di sebelahnya ini benar-benar mengesalkan. Andai di dunia ini hanya dia satu-satunya pria di dunia, Hasna akan memilih menjomblo selamanya. "Iya, kesambet Mak lampir," jawab Kenan asal-asalan. Hasna melengos, dia menekan tombol save, lalu menutup laptopnya. "Lain kali kalau Ibu suruh ke rumah, kamu tolak." "Kenapa ditolak, enggak ada doa buat nolak rezeki." Kenan mendebat, dia memperhatikan Hasna yang berjalan ke meja kerja dan menyimpan laptopnya di dalam laci. "Kenan--" "Mas Kenan." Pria itu menyela. Hasna memutar bola matanya, Kenan benar-benar menguji kesabarannya. "Mas Kenan," ujar Hasna dengan senyum dibuat-buat, "kita ini cuma pacaran boongan. Jangan terlalu menghayati, apalagi sampai melibatkan orang tua terlalu jauh. Aku takut ...." Hasna menjeda kata-katanya. Tangan gadis itu mengetuk-ngetuk meja kerja yang terbuat dari kayu jati yang diukir dengan sangat indah, sementara kepalanya menunduk mencari kata-kata yang tepat. Kenan masih diam, dia menunggu dengan sabar. "Ibu sangat berharap aku menikah, lagi. Aku enggak mau memberi harapan kosong ke Ibu, jadi ...." Hasna menghela napasnya perlahan, "sebaiknya hentikan ini." Dahi Kenan berkerut. "Lagi? Kamu pernah nikah sebelumnya?" Hasna mengangkat pandangannya dan menemukan retina Kenan menatapnya. Pria itu sedikit terpana, ada kabut di mata wanita di hadapannya. "Iya," jawab Hasna tegas. "Kamu enggak tau tentang hidupku, jadi kumohon hentikan sandiwara ini sebelum terlalu jauh dan menyakiti hati kedua orang tua kita," lirihnya dengan suara sengau. Rasa sedih bertandang ke d**a Hasna saat mengingat betapa sang ibu sangat berharap dia menikah lagi. Sejak Kenan memperkenalkan diri sebagai kekasihnya, Indah tak pernah berhenti menanyakan pria tersebut setiap hari. Hasna tak mau melihat luka di mata ibunya jika mengetahui semua hanya dusta belaka. Kenan bergeming. Dia mengakui sangat gegabah hari itu. Namun, tak bisa dia pungkiri, sejak mengenal Hasna dan keluarganya, ada rasa nyaman yang hadir begitu saja. Mungkin Kenan egois, tetapi dia tak ingin mengakhiri. "Hasna." Kenan berjalan mendekat, "kenapa kita tak mencoba semuanya dengan benar?" "Maksudnya?" "Ijinkan aku mengenalmu. Mungkin sebagai teman, jika nanti ada rasa yang tumbuh, biarkan saja," pinta Kenan menatap Hasna lekat. Hasna tertawa hambar. "Kenan, Kenan, kamu itu pria aneh dan menyebalkan yang pernah kukenal." Kenan mengangkat bahunya acuh. "Kamu bukan orang pertama yang bilang, tapi aku bangga dengan sebutan itu," balasnya, sambil menyilangkan kedua tangan di d**a, "menyebalkan. Ya, itu aku. Jadi gimana? Kita deal, ya? Mau, ya, jadi teman aku?" "Kalau aku nolak, kamu tetap maksa, kan?" Hasna ikut bersedekap, kini keduanya terlihat seperti dua orang yang akan berduel. "Kalau udah tau ngapain nanya?" balas Kenan, membuat Hasna gemas. "Kamu itu, selain menyebalkan, juga enggak tau malu, pemaksa, arogan, dan ...." Hasna kehabisan kata-kata untuk mencerca Kenan, sementara pria itu masih anteng saja. Seolah-olah racauan si wanita senandung merdu untuknya. "Udah?" "Apa?" tanya Hasna ketus. "Pujiannya." Kenan membalas singkat. Hasna menutup kelopak matanya dan mendesah lemah dengan wajah frustasi. "Apa dosaku bertemu pria muka tembok sepertimu," lirihnya. Kenan geleng-geleng kepala melihat raut Hasna yang kusutnya melebihi kain yang belum disetrika. Dia heran, apa karena terlalu ganteng, hingga wanita itu sangat bahagia berteman dengannya. Fixs! Kenan senarsis itu. * "Ayo, makan lauk ini, enak banget. Ibu bikin khusus buat kamu." Indah meletakkan ayam bakar ke atas piring Kenan. Wanita itu terlihat sangat bahagia. Hasna hanya geleng-geleng kepala melihat perlakuan sang ibu kepada Kenan. Sangat berlebihan menurutnya. Andai ibunya tahu kalau pria kesayangannya tersebut manusia paling menyebalkan di jagat raya, mungkin tak akan selebay itu memperlakukan Kenan. "Wah, masakan Ibu enak banget. Aku bisa gemuk ini kalau makan tiap hari di sini," ucap Kenan, sembari melirik Hasna. Mendengar itu, Hasna mengeraskan bunyi sendok yang beradu dengan piring. Hatinya benar-benar jengkel dengan sikap sok manis Kenan. "Kalau makan gratis, ya. Pasti enak. Tapi, enggak tiap hari juga, itu namanya morotin," gumam Hasna, tetapi masih bisa didengar orang-orang di sekitar meja makan. "Hasna, jangan ngomong kalau lagi makan." Indah memperingati. Hasna melengos, rasanya nasi sulit dia telan, apalagi dari sudut mata melihat Kenan tersenyum penuh kemenangan, membuat otak si wanita memanipulasi kalau ayam bakar di hadapan adalah si pria. Segera Hasna melahap ayam bakar tersebut sembari ngedumel di dalam hati. Melihat Hasna yang kalap mengunyah makanannya, Kenan malah bersorak dalam hati, rasa-rasanya tidurnya bakal nyenyak nanti malam. * "Kenan bilang, kalian udah setahun berhubungan. Kok, selama itu enggak pernah cerita?" Tangan Hasna yang sedang mencuci piring bekas makan malam tadi, otomatis berhenti. Dia memejamkan mata, Kenan sudah sangat jauh berbohong. Hati wanita itu gelisah. Di satu sisi, ingin sekali mengakui semua, tetapi di sisi lain Hasna tak tega melihat kedua orang tuanya bersedih. "Ditanya, kok, malah diam?" ujar Indah lagi. "Ya, enggak ada yang spesial, Bu. Buat apa cerita," jawab Hasna singkat, tangannya kembali membilas piring yang telah disabuni. "Enggak spesial gimana? Udah jelas-jelas Kenan ngaku kekasih kamu." Indah mendekat, berdiri di sebelah Hasna. "Ibu sangat berharap kali ini Kenan jodoh yang benar buat kamu, biar Ibu bisa tenang," lirihnya. Hasna mengembuskan napas panjang. Benar apa yang dia sangkakan. Dari nada suara saja dia bisa menilai, ibunya itu sangat berharap pada Kenan. Bagaimana bisa dia memupus harapan itu? Tetapi, untuk mewujudkan juga tidak mungkin. "Bu, jodoh itu hak preogratif Tuhan. Kalau emang jodoh enggak ke mana. Hasna enggak mau bereskpetasi tinggi kali ini." "Jodoh bisa diusahakan, sayang." Indah mengusap punggung putrinya lembut, membuat Hasna mengangkat pandangan dan mengulas senyum untuk ibunya. "Ibu tenang aja, aku akan usahakan yang terbaik. Aku enggak mau salah langkah seperti kemarin." Indah mengangguk, seraya mengaminkan dalam hati. Dia sangat berharap melihat putrinya bahagia bersama seorang pria yang benar-benar mencintainya. * Malam semakin larut. Terlalu asyik mengobrol, Kenan dan Ayah Hasna tak menyadari jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Meski baru dua minggu intens bertamu, keduanya sudah sangat cocok. "Kenan balik dulu, Yah, udah malam." "Iya, besok jadi ke Padang?" tanya Hasan, dia ingat pembicaraan dengan Kenan dua hari yang lalu. Bahwa pria itu akan membuka outlet ayam gepreknya yang ke tiga puluh di kota kelahiran mamanya. "Insha Allah jadi, Yah. Mungkin agak lama di sana." "Wah, bagus, dong. Aku bebas, enggak ada yang reseh lagi." Tiba-tiba Hasna menyelutuk. Wanita itu duduk di lengan kursi di sebelah ayahnya. "Siapa bilang? Aku selalu punya cara buat resehin kamu, liat aja," balas Kenan dengan senyum jahilnya. Hasna malah membalas dengan cibiran, membuat Hasan tersenyum melihat interaksi keduanya. "Ya sudah, Kenan balik dulu, Yah." Pria itu bangkit, lalu mencium tangan Hasan dengan takzim. Tak mau ketinggalan, Hasna juga mengulurkan tangannya dengan wajah sombong. Alih-alih menepis, kesempatan itu dimanfaatkam Kenan untuk mengerjai Hasna. Dia meraih tangan si wanita dan menciumnya, membuat Hasna terkesiap, lalu dengan cepat menarik tangannya. "Bukan mahrom!" serunya memelotot, membuat tawa pecah dari bibir Hasan dan Kenan. "Makanya, jangan jahil." Sang ayah menimpali. Hasna mengerucutkan bibir dan wajah dilipat saat Hasan memintanya mengantarkan Kenan ke mobil. * "Kamu baik-baik, jangan nakal," ucap Kenan saat mereka berjalan ke depan rumah, tempat mobil si pria diparkir di pinggir jalan. "Emang aku anak kecil mesti dingetin seperti itu," dengkus Hasna. "Ya, kali. Kamu itu ceroboh. Apa-apa enggak mikir dulu. Jangan terlalu fokus bekerja sampai lupa makan." Wajah Hasna memerah diperhatikan sebegitu detail oleh Kenan. Susah payah dia menjaga hatinya agar tak mengembang. Selalu mengingatkan diri sendiri, bahwa ini hanya sandiwara. "Aku pergi dulu. Besok berangkat pesawat pagi, ada tiga mingguan di Padang. Kebetulan pernikahan Salwa di tunda bulan depan. Kamu jangan kangen." Hasna bergaya seperti orang mau muntah. "Aku malah bersyukur kamu pergi. Enggak ada yang ngerecokin aku kerja lagi." Kenan tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Hasna pelan. "Jangan ngomong gitu, ntar jadi bumerang lho." Hasna tak bisa menjawab, lidah wanita itu kelu untuk berbalas kata lagi. Dia masih saja berdiri di depan pagar rumah meski mobil Kenan sudah menjauh. Hasna meraba jantungnya yang berdegup sangat kencang karena sentuhan ringan Kenan tadi. 'Oh, hati, tolong ... jangan jatuh cinta lagi.' Gumam Hasna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN