Pulang Kampung

1207 Kata
Kenan tersenyum lega ketika pesawat yang dia tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Dari gerbang kedatangan menuju gerbang keluar, pria itu membenak terakhir kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran, Nuraida. Saat itu dia baru saja lulus sekolah menengah atas, kala sang papa di pindahtugaskan ke Jakarta. Setelah sekian lama tinggal di kota yang terkenal dengan sebutan 'kota bingkuang', dengan berat hati harus meninggalkan sanak-keluarga dan teman-teman sepermainan. Kota Padang merupakan Ibukota Provinsi Sumatera Barat. Terletak di pantai barat pulau Sumatera dengan luas keseluruhan 694,96 km² atau setara dengan 1,65% dari luas provinsi Sumatra Barat. Kota yang berada di pesisir pantai ini, banyak dikunjungi para turis lokal maupun internasional. Pulau-pulau kecil yang banyak bertebaran, menyajikan keindahan alami. Selain pemandangannya, ombak yang tinggi juga menjadi salah satu daya tarik turis yang hobi berselancar. "Uda Kenan!" Seorang gadis memanggil nama Kenan, seraya melambaikan tangan. Kenan yang baru saja berjalan dari gerbang keluar bandara tersenyum, sembari membalas panggilan itu. "Apa kabar, Uda?" Seorang gadis bergaun putih menghampiri Kenan. "Baik, mana Mak Adang?" "Ayah masih sibuk di toko, makanya minta Naya yang jemput Uda." Naya tersenyum manis membuat cekungan di pipi kirinya terlihat jelas. "Wah, sepertinya usaha Mak Adang makin sukses saja," ujar Kenan sembari berjalan menuju parkiran. Naya yang berjalan mengiringi Kenan kembali tersenyum. "Alhamdulillah Uda. Sekarang toko bangunan Ayah, sudah ada di daerah Bukit tinggi dan Pariaman." "Kamu gimana, udah selesai kuliahnya?" "Sebentar lagi Uda. Lagi nyiapin skripsi. Insha Allah dua bulan lagi wisuda." Naya menekan remote mobil saat mereka sudah berada di depan mobil sedan hitam miliknya. "Uda yang nyetir atau Naya?" Gadis itu menyodorkan kunci mobil kepada Kenan. "Kamu aja, Uda sudah lupa jalan di sini." Setelah mendengar jawaban Kenan, Naya berjalan memutar menuju pintu di bagian kemudi. Pun Kenan, pria itu masuk dan duduk di sebelah Naya. Sepanjang perjalanan, gadis itu yang banyak bertanya perihal keadaan Mama Kenan, yang merupakan adik dari ayahnya, sementara Kenan menjawab sekadarnya. Sesekali pria itu bertanya jalan apa yang mereka lalui, bagaimana perkembangan Kota Padang sejak dia tak tinggal di sini lagi. Dengan sabar gadis tersebut menjelaskan, juga menawarkan sang pria berkeliling kota bila urusan pekerjaannya telah selesai. Naya sepantaran dengan Salwa. Gadis dua puluh tiga tahun itu sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas terkemuka di Kota Padang. Kedatangan Kenan sudah diberitahukan sang ayah sejak satu minggu yang lalu. Tentu saja Naya sangat antusias. Dulu, Kenan, dia, dan Salwa selalu bersama ke mana-mana. Pria itu selain sebagai kakak sepupunya, juga pahlawan bagi Naya. Dia ingat, saat itu dua minggu sebelum keluarga eteknya pindah ke Jakarta, dia dan Salwa sedang berenang di tepi sungai yang berada di dekat rumah Naya. Terlalu senang, gadis itu tak sadar berenang ke tengah, padahal dia belum terlalu mahir berenang hingga kelabakan tak bisa mengendalikan tubuhnya. Ditambah lagi kaki yang tiba-tiba kram. Naya panik, begitupun Salwa, yang gadis itu dengar hanya teriakan sepupunya itu meminta tolong. Saat napasnya mulai habis dan pandangan mengabur, Naya merasakan seseorang menarik tubuhnya ke tepi sungai. Sejak kejadian itu, Salwa sering sekali meledeknya dengan mengatakan, jika Kenan tak memberikan napas buatan, tentu Naya hanya tinggal nama. Bila mengingat itu, pipi si gadis akan memerah karena malu. Padahal kejadian itu sudah lama berlalu, entah Kenan masih mengingat atau tidak. Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu setengah jam itu, akhirnya berhenti di sebuah rumah megah berlantai dua di daerah belanti raya. Sebuah komplek yang memang kebanyakan dihuni oleh kalangan menengah ke atas. Di pekarang yang luasnya tiga kali luas pekarangan rumah Kenan, berjajar tiga buah mobil berplat, BA. Dua buah sepeda motor matic juga terlihat terparkir di dalam garasi. "Sepertinya Ayah sudah pulang," ujar Naya saat melihat mobil fortuner putih bernomor polisi 'BA 1114' terparkir di pekarangan. Kenan ikut melirik, tetapi tak menimpali. Dia meraih ransel di jok belakang mobil, lalu membuka pintu, yang diikuti oleh Naya. Di depan pintu Mak Adang berdiri menyambut anak kemenakannya itu dengan senyum lebar. "Akhirnya, datang juo kamanakan Mamak."(1) Rusli yang merupakan nama asli Ayah Naya, memeluk dan menepuk punggung Kenan pelan. "Apa kabar Mak?" Kenan meraih tangan sang Mamak dan mencium takzim. "Alhamdulillah, sehat. Baa kaba Ama?"(2) Meski sudah kaku berbahasa minang, tetapi Kenan masih mengerti bahasa asli daerahnya itu. "Mama sudah sehat, Mak. Kemarin sempat sakit, tapi udah enggak pa-pa." Rusli mengangguk, dia menyuruh Naya membawa tas Kenan ke kamar tamu yang ada di lantai dua, lalu mengajak sang kemenakan masuk. Keduanya berbincang hangat di ruang tamu. Memang, Rusli sangat menyayangi Kenan, karena dia tak memiliki anak laki-laki. Istri Rusli meninggal saat melahirkan Naya, sejak itu, Ayah Naya tersebut tak pernah menikah lagi. "Amak sanang Kenan buka usaho di siko. Jadi, bisalah acok pulang ka Padang. Jan dilupo nagari awak ko, kalau paralu, tinggal di siko." (3) Kenan tertawa kecil. Bukan sekali ini Mak Rusli menawarkannya untuk tinggal di Padang. Bahkan, mamaknya itu berani menggelontorkan banyak uang agar Nuraida dan keluarganya bisa kembali menetap di kampung halaman mereka. "Makasih, Mak. Tapi, Mama lebih nyaman tinggal di Jakarta. Kalau mau ke makam almarhum Papa, gampang. Kalau di sini, siapa nanti yang bersihin?" Mak Rusli manggut-manggut mendengar penjelasan Kenan. "Iyolah. Dima nan rancak sajo." Pria itu tersenyum, "Kamanakan Mamak, alah punyo calon urang rumah kini ko? Masak kalah samo Salwa?"(4) "Belum mikir ke sana, Mak. Yang penting Salwa dan Mama." Mak Rusli mengangguk penuh arti, begitupun Naya yang tak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Gadis itu ikut tersenyum. Ada yang mengembang di dadanya, tetapi dia memilih meninggalkan keduanya untuk mempersiapkan makan siang ternikmat untuk tamu istimewa. * "Baru juga ditinggal dua minggu, udah galau." Refan menggoda Hasna yang terlihat melamun menatap keluar jendela. Hasna melirik Refan dengan wajah tak peduli. Biasanya dia akan membalas sindiran itu, tetapi sore ini dia tak berminat sama sekali. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi, lebih menarik perhatiannya. Angin yang menghempas ranting-ranting hingga bergoyang ke sana kemari, sama seperti susana hatinya saat ini. Sejak Kenan ke Padang, pria itu beberapa kali mengirim pesan padanya, tetapi hanya dijawab Hasna sekadar saja. Bukan apa-apa, wanita itu takut terlalu intens berinteraksi dengan pria tersebut, akan menghadirkan rasa nyaman yang bermuara pada cinta. Hatinya masih basah oleh pengkhiatan Azka. Bahkan, bayang-bayang pria itu masih kerap menghantui, bukan karena cinta itu masih ada, melainkan rasa sakitnya yang masih terasa. Sejak bercerai, Hasna tak pernah sedikit pun membiarkan siapa pun masuk ke hatinya. Namun, pertemuan dengan Kenan, interaksi mereka, memercikkan sesuatu ke d**a si wanita. Meski terkesan menyebalkan, tetapi sikap 'undiprectable' Kenan, justru membuat hidupnya mulai berwarna. Jika bagi sebagian orang pria itu terlihat datar dan dingin, tetapi bersamanya Kenan berubah menjadi orang yang cerewet dan banyak akal. Dering ponsel membuyarkan lamunan Hasna. Gadis itu tersenyum membayangkan yang menelpon adalah Kenan. Dahi Hasna sedikit berkerut melihat hanya nomor saja yang terlihat di layar telepon, penasaran siapa yang menelpon, wanita itu menekan icon hijau lalu menempelkan ke telinga. Namun, Hasna menyesali keputusannya saat mendengar suara siapa yang terdengar di ujung telepon. * 1. Akhirnya, datang juga keponakan, Om 2. Alhamdulillah sehat, gimana kabar mama? 3. o*******g Kenan buka usaha di sini. Jadi, bisa sering pulang ke Padang, kalau perlu tinggal saja di sini. 4. Iya, terserah kamu saja. Kamu sudah punya calon istri? Masak kalah sama Salwa? - Mamak adalah sebutan untuk lelaki tertua saudara dari garis ibu. - Kamanakan adalah sebutan untuk anak lelaki dari adik perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN