Ayana menatap langit malam dari balkon kamar Emily dengan tatapan kosong. Malam ini dia tengah kesulitan untuk tidur. Pikirannya masih berkelana mengingat ucapan Adam sore itu di taman. Meski tidak ada kejelasan setelahnya, namun ucapan pria itu berhasil mengusik pikirannya selama berhari-hari. Helaan napas kasar terdengar dari bibir mungil Ayana. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada pembatas balkon yang tingginya mencapai sebatas d**a. Udara malam yang menusuk kulit membuat Ayana bergidik. Gadis yang hanya memakai gaun tidur tipis itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan balkon. Tujuan Ayana saat ini adalah dapur. Dia ingin membuat coklat hangat untuk menghangatkan dirinya atau mungkin dapat membuatnya mengantuk. Langkah-langkah kecil Ayana menapaki tangga dengan hati-hati karena ta

