"A-anak sa-ya?" lirih Alena sambil memegang perutnya. Sampai detik ini, perut Alena masih terasa sakit bahkan ia tidak tahu bagaimana rasa sakit itu muncul. Mata Alena sudah berkaca-kaca, perasaan takut mulai muncul. "Maaf Alena, kami sudah berusaha tapi-" "Anak sa-ya pergi?" Potong Alena langsung. Ia menunggu jawaban dari sang dokter dan berharap bahwa apa yang ia pikirkan salah besar. Tapi apa yang bisa Alena lakukan jika ketakutannya benar-benar terjadi. Dokter mengangguk samar dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. "Alena," lirih Dokter khawatir karena tidak ada respon yang Alena berikan, ia hanya diam dengan pandangan kosong. "Sa-ya baik-baik saja." Siapa yang percaya perkataan itu? Tidak akan ada yang percaya. Alena berusaha untuk kuat tapi faktanya ia tidak bisa untuk meny

