Vero menatap langit dengan raut wajah sedu, sampai detik ini ia masih menganggap semuanya mimpi bekala. Mimpi yang tidak diinginkan siapapun, rasanya Vero ingin bangun dari mimpi ini agar rasa sesak ini segera menghilang. Meskipun waktu terus berjalan, rasa sakit itu bukannya berkurang tetapi malah bertambah setiap detiknya. Sampai kapan Vero harus bertahan? Apa ia mampu untuk menghirup udara? Entahlah. Ponsel tidak lepas dari tangan Vero, tentu saja perjalanan bisnis yang tengah Vero lakukan membuat ia harus meninggalkan Indonesia. Setiap ponselnya berbunyi, detak jantung Vero langsung menggila. Ia takut ada hal buruk yang terjadi, Vero tidak ingin hal tersebut terjadi. "Please Gas, jangan tinggalin gue!" lirih Vero. Tanpa sadar hidungnya mengeluarkan cairan berwarna merah. Vero tidak

