Daster Lusuh
"TOK-TOK-TOK" DEWINTA, BANGUN KAMU JAM SEGINI MASIH MOLOR. LIHAT TUH PEKERJAAN RUMAH, MASIH NUMPUK BELUM ADA SATUPUN YANG KAMU KERJAKAN!"
Suara ketukan pintu, disusul dengan suara Ibu mertuaku yang menggelegar mengagetkanku dari ketenangan tidurku, yang baru tiga jam kureguk. Setelah semalam Mas Parhan suamiku, dengan secara kasar menggauliku tanpa ampun, tanpa belas kasih ketika kumemohon untuk menghentikannya. Setiap Mas Parhan meminta jatahnya, dia tak pernah berlaku dengan lembut, selalu kasar dan sering kali menyisakan luka pada sudut bibirku, ataupun di sebelah kanan pipiku. Dan itu semua tak membuat Ibu mertuaku, bersimpatik ataupun peduli. Ibu mertuaku hanya, memaklumi kelainan yang dimiliki suami ku sebagai pria Ma***is. Aku yang pagi itu, terlelap langsung turun dari ranjang dengan menahan sakit diantara pahaku, akibat perbuatan Mas Parhan semalam. "ceklek" suara pintu terbuka, kulihat wajah Ibu Mertuaku yang tampak menahan kesal dihadapanku.
"Iyaa Buu, sebentar yaa Dewi mau cuci muka sebentar, maaf Dewi kesiangan Ibu!"
"Ngapain aja sih kamu, pake kesiangan segala. Dasar pemalas, cuma beban di Keluarga ini berlaku seperti Ratu. Cepat, kamu siapkan sarapan untuk Suami dan Kakak Iparmu Dewi!"
Kata-kata itulah yang tak asing ditelingaku, walaupun menyakitkan aku hanya bisa terima, tanpa bisa berbuat banyak. Karena percuma saja, kalaupun aku membantahnya tidak akan ada yang membelaku disini.
"Iyaa Bu, baik tunggu aja sebentar lagi juga Dewi turun ya Bu!"
Tanpa menyahut, Ibu Mertuaku langsung berlalu begitu saja dari hadapanku. Gegas aku ke kamar mandi, untuk sejenak menggosok gigi juga cuci muka. Hidung mancung, serta kulit putih yang dulu terawat yang kumiliki, kini terlihat kusam ditambah baju Daster Lusuh yang kupakai, semakin menambah kesan jika aku wanita yang tidak terurus. Setelah cukup aktifitas pagiku, aku langsung turun kelantai bawah, segera menuju dapur. Aku langsung membuka lemari pendingin, mengambil bahan makanan, kuputuskan untuk membuat Nasi Goreng Udang sebagai menu sarapan pagi ini, dilengkapi telor mata sapi. Dengan terampil, aku memulai membuat Nasi Goreng, taklupa telur mata sapi, lanjut menyiapkannya diatas meja makan. Yang tentu saja, tidak termasuk untukku. Karena aku hanya diperbolehkan, makan di meja dapur dengan Bi Murni ART di Rumah ini, meski tidak begitu banyak membantu namun dengan adanya Bi Murni pekerjaanku tidak terlalu berat.
Ketika aku mulai mencuci baju diruang Loundry, satu persatu penghuni Rumah menuju meja makan, termasuk Mas Parhan Suamiku. Taklama, terdengar suara Mas Parhan memanggilku, bukan hal baru lagi, kalau dia selalu ingin dilayani bagaikan raja, meski aku sibuk dengan pekerjaan lain.
"DEWI, DEWI, SINI KAMU!" Dengan segera, aku menghampiri Mas Parhan.
"Iyaa Mas, ada yang bisa Dewi bantu Mas?"
"Sekarang, siapkan air putih sama Kopi buat Mas Dewi!"
"Iyaa Mas, sebentar ya Dewi buatkan dulu Kopinya, dan ini air putihnya ya Mass!"
"Ehm, Mas tunggu Kopinya ya!"
Aku langsung menuju dapur, untuk membuat Kopi pesanan Mas Parhan. Taklama, aku langsung memberikannya. Ketika aku menyerahkan Kopi ke hadapannya, Mas Parhan manatapku dari atas sampai bawah, dan betapa menyakitkan kata-kata yang terlontar dari mulut Suamiku.
"Dewinta, apa gak salah yang Mas lihat ini? Masa seorang Istri manajer, memakai Daster lusuh, belum lagi lihat muka kamu, kusam begitu Dewi? Kalau kamu begini terus, gimana aku bisa betah di Rumah Dewi?"
Baru saja aku membuka mulut, ingin menjawab terdengar Ibu Mertuaku menimpali.
"Dewi, Dewi, kayaknya Suamimu saja malu bawa kamu ke Kondangan, kalau Istrinya seperti kamu!"
Dengan tanpa mendengarkan, apa kata mereka yang akan kembali terlontar, aku langsung kembali kebelakang melanjutkan pekerjaanku mencuci semua pakaian penghuni Rumah. Termasuk kedua Kakak iparku, juga suami mereka dan kedua Ponakan Mas Parhan. Setelah tiga jam aku berkutat, dibantu Bi Murni akhirnya selesai semua pekerjaanku, dan akhirnya aku bisa mandi serta membereskan kamar pribadiku yang berantakan bekas semalam. Kini aku mengguyur tubuhku dibawah pancuran air shower, Sudut kiri bibirku, terasa perih ketika terkena sabun, begitupun tubuh bagian bawah. Aku menangis di dalam kamar mandi tanpa suara, dibawah guyuran air shower, air mataku mengalir bercampur air yang mengguyur seluruh tubuhku. Begitu pilu, Rumah Tangga yang aku jalani selama Tiga Tahun ini.
Dulu, ketika aku memperkenalkan Mas Parhan pada kedua Orang Tuaku, saat itu mereka tak merestui hubungan kami. Karena menurut kedua Orang Tuaku ada Firasat yang tak baik nantinya bagiku jika aku menikah dengan Mas Parhan. Namun, aku bersikeras hingga akhirnya aku dan Mas Parhan menikah. Dan benar saja, Firasat itu terbukti. Semanjak menjadi Istri Mas Parhan, aku diperlakukan semena-mena, oleh Mas Parhan serta keluarganya tanpa ada pembelaan dari Suamiku sedikitpun. Karena aku merasa berdosa terhadap kedua Orang Tuaku, dengan terpaksa aku bertahan dan berharap Mas Parhan akan berubah suatu saat nanti, juga Keluarganya akan berbalik menyayangiku.
Setelah puas menangis, akupun menyelesaikan aktifitas mandiku. Lanjut aku berganti baju dengan Daster yang sedikit robek, dibagian belakang, karena memang Mas Parhan jarang sekali membelikanku baju. Ketika gajihan tiba, Mas Parhan hanya membelikan baju untuk Ibunya, juga kedua Kakak'nya, dan kedua Ponakan tanpa memikirkanku. Juga aku hanya diberikan uang Dua juta lima ratus ribu perbulan, untuk keperluan makan dan tagihan listrik, serta gajih Bi Murni. Sedangkan Ibu Mertuaku, mendapat jatah sepuluh juta perbulan hanya untuk keperluan Pribadinya.
Aku berusaha menyisihkan sedikit uang, untuk sekedar membeli Daster baru, ataupun Make-up baru walau butuh waktu lama untuk bisa kebeli. Selesai berganti baju, Kini aku bisa sejenak beristirahat, sebelum tiba waktunya masak untuk makan malam. Aku merebahkan diri diatas ranjang, memejamkan mata meninggalkan semua beban yang menghimpit agar sedikit bernafas dengan lega. Taklama aku langsung terlelap, hingga tepat jam dua siang bunyi alarm terdengar memecah kesunyian dikamarku. Aku langsung turun dari ranjang, merapihkan rambutku yang sedikit kusut. Langsung kumencuci muka, diatas wastafel agar terlihat segar. Aku keluar kamar, menuruni anak tangga satu persatu menuju dapur. Aku membuka lemari pendingin, mengambil semua bahan makanan. Dengan cekatan, dibantu Bi Murni aku membuat Cah Kangkung dan Udang Saos tiram sebagai menu makan malam, taklupa ku membuat puding lumer sebagai menu dessert. Setelah selesai, seperti biasa aku memisahkan untukku juga Bi Murni. Lanjut ku menata semua makanan itu diatas meja makan, serta air mineral dan beberapa gelas untuk mereka minum nanti. Setelah selesai semua, aku juga Bi Murni mengangkat jemuran yang telah kering dan menyimpannya diruang setrika. Aku mulai menyetrika baju itu satu persatu, sedangkan Bi Murni mencuci semua peralatan masak yang kami gunakan tadi. Setelah dua jam, akhirnya semua pakaian telah selesai disetrika, Bi Murni memasukannya ke masing-masing kamar. Sedangkan bajuku, dan Mas Parhan aku sendiri yang membawanya ke dalam kamar sekaligus menyusunnya kedalam lemari.