"Makasih ya Mas, kamu selalu ada buat aku. Aku gak tahu gimana, kalau gak ada kalian!" Mas Panji langsung meraihku, dan kembali memelukku erat. Aku tahu ini salah, namun sebagai wanita aku butuh pelukan yang membuatku merasa dilindungi.
"Iyaa Dewi, kamu gausah sungkan ya. Sekarang kamu tenang, sebentar lagi kita sampai Klinik!" Akupun terus menyandarkan kepalaku, dibahu Mas Panji. Wanginya yang maskulin, begitu menenangkanku. Setelah dua puluh menit, kamipun sampai di depan klinik. Mas Panji langsung turun, membukakan pintu Mobil untukku, dan membantuku turun hingga aku benar-benar aman. Kini kami berjalan beriringan, melewati lorong Klinik Pribadi Dokter Kandungan langgananku, Rosa terus memegangi tanganku. Sedangkan Mas Panji, berjalan dibelakang kami untuk memastikan aku aman. Jika saja, Mas Parhan yang melakukannya maka aku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Namun justru pria lain, yang melindungiku selama ini.
Kini kami tepat di depan ruangan Dokter, taklama namaku dipanggil karena antrianku nomer tiga.
"Ibu Dewinta Azzahra!" Mendengar namaku dipanggil, segera aku juga Rosa dan Mas Panji masuk ke dalam ruangan Dokter. Aku dan Rosa langsung masuk, disambut oleh Dokter Karina dengan ramah.
"Selamat pagi Bu Dewi, juga Mba Rosa!" sapa Dokter Karina, pada kami.
"Pagi juga Dok!" Jawab kami, sambil memberi senyuman ramah.
"Silahkan Bu Dewi naik keatas ranjang, seperti biasa dilepas semua bagian bawah dan diganti oleh selimut. Kita akan melakukan pemeriksaan bawah, untuk memastikan sudah dimana letak kepala bayi!"
Akupun menurutinya, aku melepas celanaku dan naik keatas ranjang pemeriksaan. Taklama Dokter Karina menyusul, dan duduk di depan layar USG. Seorang asisten mengoleskan gel diatas perutku, lanjut Dokter Karina mengambil salah satu alat pemeriksaan dan sedikit menekannya diatas perutku. Terlihat dilayar wajah anakku, hidungnya begitu mancung mirip dengan hidungku, matanya mirip Mas Parhan. Dan ketika diperiksa bagian bawah, ternyata posisi kepalanya sudah tepat tinggal menunggu waktunya tiba dia lahir nanti.
"Nah, sekarang posisi kepalanya sudah tepat Bu. Mungkin enam minggu lagi, dia lahir ya Bu semoga semuanya diberi kelancaran!" Ujar Dokter Karina, sambil memberikan senyumnya yang menyejukan.
"Iya Dok, semoga semuanya dilancarkan!"
Kini proses pemeriksaan pun selesai, setelah aku membayarnya, kamipun segera berpamitan untuk menuju Mall yang akan kami kunjungi. Taklupa Mas Panji, menebus resep obat, sedangkan aku juga Rosa menunggu di dalam Mobil. Taklama kini kami sedang dalam perjalanan menuju Mall yang akan kami kunjungi, setelah dua puluh menit kamipun sampai di depan tempat parkir Mall. Namun ketika Mobil yang kami tumpangi hendak masuk kedalam Basement, aku melihat mobil Mas Parhan keluar darisana, Akupun berbicara pada Rosa.
"Rosa, luh lihat gak Mobil Mas Parhan tadi?" tanyaku, pada Rosa yang memegang kemudi.
"Iyaa gwa lihat Wi, luh mau ngikutin Mobil dia?"
"Iya Ros, gwa curiga sama dia. Soalnya belakangan ini, dia berubah Rosa!" jawabku dengan jujur, tanpa ada yang ditutupi.
"Yaudah, kalau gitu gwa kejar Mobil suami Luh!"
Rosa langsung berbalik arah, dan menaikan kecepatan. Sedangkan Mas Panji, kini duduk didekatku agar aku tak terjadi apa-apa. Taklama terlihat Mobil Mas Parhan dari jarak lima belas meter, Rosa terus mengikutinya namun berusaha jaga jarak agar tak ketahuan. Dan setelah lima belas menit, Mobil Mas Parhan berbelok kesebuah Hotel mewah yang membuatku merasa tak percaya sekaligus jantungku berdetak dengan kencang. Mas Panji mengusap punggungku, agar lebih tenang. Dan taklama terlihat Mas Parhan keluar dari Mobil, bersama seorang wanita dengan begitu mesra layaknya sepasang kekasih. Rosa pun langsung mengumpat, dan ingin memberikan pelajaran.
"Berengsek emang nih Cowok, harus dikasih pelajaran gatel banget tangan gwa Kak!" ujar Rosa pada Mas Panji.
"Tenang jangan kotori tanganmu Rosa, biar Mas yang bertindak. Sekarang, mau kamu gimana Dewi setelah apa yang kamu saksikan tadi?" Tanya Mas Panji, padaku.
"Aku ingin sekali memakinya Mas, aku ingin memergokinya sekarang. Dan aku ingin pergi dari hidupnya, aku sakit banget Mas. Aku mau cerai, sama dia secepatnya Mas!" jawabku tegas.
"Okey sekarang kamu pergoki dia dikamarnya, jangan lupa kamu Rosa merekam semuanya, sebagai bukti di pengadilan nanti untuk Dewi memenangkan sidang!" Jawab Mas Panji, pada kami.
"Siap Mas, ayo Wi kita kesana. Ingat luh jangan nangis, luh harus terlihat kuat dimata dia jangan terlihat lemah, karena itu akan membuat dia merasa menang!" Saran Rosa, kepadaku.
Kini kamipun turun dari Mobil, kami berjalan menuju reseptionis. Setelah bernegosiasi, dan Mas Panji memberikan sejumlah uang pada sang Reseptionis, akhirnya kami diantarkan ke kamar tempat Mas Parhan check-in. Sedangkan Mas Panji, menunggu di tempat parkir, untuk berjaga-jaga jika Mas Parhan akan memutar balikan keadaan.
Taklama kami sampai di depan salah satu kamar VIP, dan salah satu pelayan yang kami bawa langsung mengetuk pintu.
"Tok-tok-tok, permisi Pak ini layanan service kamar!" Taklama suara pintu terbuka, tampak Mas Parhan yang hanya menggunakan kimono handuk disana membuatku seakan tak percaya, pria yang selama ini aku bela mati-matian, dan aku rela menjadi pelayan baginya, kini melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sekalipun. Ketika Mas Parhan melihatku dihadapannya, Betapa terbelalaknya dia, karena mungkin dia tak menyangka. Dan karena aku tak kuat menahan amarah, untuk pertama kalinya, aku melakukan yang seharusnya kulakukan sejak dulu.
"Plak-Plak, aku menampar Mas Parhan sebanyak dua kali. Mas Parhan melotot tajam, dengan apa yang telah aku lakukan.
"Dewi, kamu berani menamparku?" ujar Mas Parhan, sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Kenapa Mas, kamu kira aku tak berani melakukannya? Aku selama ini diam, karena aku masih menghargaimu sebagai suami. Tapi sekarang, semua itu lenyap seiring luka yang kamu torehkan hari ini. Dan apa yang aku saksikan sekarang ini, aku tak akan melupakannya dan aku tak akan memaafkanmu Mas. Tega kamu ya Mas, kamu kencan dengan wanita di Hotel ini. Sedangkan aku istrimu, selama ini tidak kamu nafkahi dengan layak?" Ketika aku berbicara dengan Mas Parhan, terdengar suara seorang wanita dari dalam.
"Siapa Sayang, diluar?"
"Enggak bukan siapa-siapa Sayang!" mendengar jawaban Mas Parhan, membuatku penasaran. Tanpa berkata lagi, akupun menerobos masuk kedalam, tanpa peduli perkataan Mas Parhan yang melarangku masuk. Kini aku melihat wanita dengan memakai lingerie diatas ranjang, dan takluput dari pandanganku baju Mas Parhan yang berserakan. Sedangkan Rosa tanpa melontarkan sebuah kata, dia langsung merekamnya secara sembunyi dengan berpura-pura seolah sedang bertukar pesan. Kembali dengan tegas, aku berkata pada Mas Parhan.
"Ohw, jadi ini yang kamu lakukan dibelakang aku Mas? Selama ini, aku diperlakukan seperti Pembantu juga tak dinafkahi, sedangkan kamu Royal dengan wanita ini? Apakah dia kekasihmu Mas? jawab dengan jujur Mas!" Wanita selingkuhan Mas Parhan, tak berani bicara sedikitpun. Dia hanya mampu melihat kami, sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Okey Dewi, Mas akui Mas memang menjalin hubungan sama dia sejak tiga bulan belakangan ini. Karena, Mas bosan sama kamu yang selalu berpenampilan lusuh!" jawab Mas Parhan, yang membuatku semakin sakit.
"Baik Mas, silahkan kamu pilih dia. Dan mulai hari ini aku akan meninggalkanmu. Jangan anggap aku istrimu lagi, selamat tinggal Mas dan selamat bersenang-senang. Dan kamu jalang, makasih sudah menampung pria sampah seperti dia!"
Akupun berlalu dari hadapan Mas Parhan, aku meraih tangan Rosa untuk segera ke Mobil meninggalkan Mas Parhan yang masih terpaku disana.
Sesampainya di tempat parkir, Mas Panji langsung membukakan pintu untukku, dan gegas aku langsung masuk ke dalam Mobil. Kamipun meninggalkan Rumah Sakit, aku kini menangis dipelukan Mas Panji tanpa ada satu patah katapun dari kami bertiga. Mas Panji memberikan ruang, untukku meluapkan semua yang aku rasakan kini.