Mungkin memang dibutuhkan waktu yang panjang bagi Ibu Rosita untuk benar-benar menyadari kesalahan dan keegoisannya terhadap anak-anaknya. Luka yang ia ciptakan terlalu lama dibiarkan mengeras, menjadi kebiasaan, menjadi tembok. Namun sore itu menghadirkan sesuatu yang dulu terasa mustahil, Ibu Rosita duduk di ruang tamu rumah Ibu Alya, berbincang sebagai besan, bukan sebagai dua perempuan dengan sejarah yang pernah melukai. Rumah kecil yang letaknya tak jauh dari rumah sakit itu terasa hangat, penuh aroma teh dan kue sederhana. Dua minggu telah berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Kakek dan Nenek Bhumi sudah kembali ke Bandung, Renzo dan istrinya sempat datang menjenguk, lalu pulang dengan lega. Hidup perlahan kembali bergerak, meski bayang-bayang masa lalu masih sesekali menyelinap. B

