Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Bulan setelah rangkaian kejadian mengerikan itu selain menyaksikan Bhumi dan Ibu Rosita saling berpelukan. Ia berdiri sedikit menjauh, memberi ruang, menjadi saksi sunyi dari pertemuan yang tertunda terlalu lama. Ibu Rosita menangis dalam pelukan putranya, memohon maaf atas luka-luka yang pernah ia goreskan, atas keegoisan yang membatu bertahun-tahun, atas jarak yang ia ciptakan sendiri. Bhumi membalasnya dengan pelukan hangat, tanpa kata, tanpa tuntutan, karena sedalam apa pun masa gelap yang pernah mereka lalui, perempuan itu tetap ibunya, satu-satunya. Di sela kenangan pahit, masih ada masa hangat yang pernah hidup, dan itu cukup untuk membuka pintu kesempatan kedua. Mereka bertiga menghabiskan waktu hingga sore di ruangan itu, membiarkan cahaya

