Kesadaran datang seperti cahaya yang terlalu terang. Cici membuka mata perlahan dan lagsung melihat ruangan putih, aroma antiseptik, dengung AC, tirai tipis yang bergerak pelan. Kepalanya berat, pusing menyengat di belakang mata. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi dunia terasa berputar. Saat ia memaksa duduk, barulah ia sadar ada infus terpasang di punggung tangannya. “Gue… di rumah sakit?” bisiknya pelan, suara nyaris tidak keluar. Belum sempat memikirkan apa pun… ceklek! Pintu kamar rumah sakit terbuka lebar. “CICIII!” Antika masuk dengan tangan penuh plastik makanan, wajah panik sekaligus lega. Tanpa basa-basi ia meletakkan semua kantong di nakas. Cici kaget. “A-An… lo ngapain—” Belum selesai bicara, Antika sudah memeluknya erat. “GILA lo bikin gue takut setengah mati! Untung ada B

