Cici terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, tubuhnya hangat karena masih berada dalam dekapan Sadam yang tertidur pulas di sampingnya. Napas pria itu stabil, teratur, dadanya naik turun perlahan, lengannya masih melingkari pinggang Cici seperti takut ia pergi. Cici menatap langit-langit kamar hotel yang putih bersih, dan kenangan tentang malam sebelumnya datang bertubi-tubi, membuat wajahnya panas sampai ke telinga. Yang awalnya ia pikir akan jadi malam penuh sakit dan tangis… justru berubah menjadi pengalaman yang lembut, sabar, memabukkan, dan membuatnya hampir menangis bukan karena sakit, tapi karena merasa terlalu dicintai. Ada perih, ada ketegangan pertama yang membuatnya gemetar, tapi Sadam selalu berhenti, bertanya, memberi napas, memberi air, memberi waktu… lalu kembali

