Cici terbangun dengan kepala berdenyut hebat, seperti ada palu menghantam dari dalam tengkorak. Kelopak matanya berat, napasnya tersengal. Saat ia akhirnya bisa membuka mata, yang terlihat hanyalah… gelap logam. Dinding baja. Lantai baja dingin. Aroma karat dan oli mengendap seperti kabut. Ia menggerakkan tangan dan langsung tersentak. Terikat. Kedua pergelangan tangan diikat kuat di belakang punggung dengan kabel ties yang menjerat sampai kulit perih. “Sial…” Cici mengerang. “Sial banget… gue dimana lagi ini? Container? SERIUSAN? Ya Tuhan… ini adegan yang biasanya gue tonton, bukan gue jalanin!” Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya limbung. Sekujur punggungnya sakit, bibir perih, dan rambutnya berantakan menutupi mata. Ia meronta, mencoba memutus tali itu dengan sisi kasar kontainer, tet

