Pagi itu Jakarta cerah, cahaya matahari menembus tirai kamar VIP rumah sakit. Berbeda dari malam mencekam yang baru ia lewati, pagi ini terasa seperti hadiah kecil. Cici sudah duduk bersandar di ranjang, selimut menutupi kaki, infus masih menancap di tangan kirinya. Ia baru selesai mandi dibantu perawat, rambutnya dikeringkan, pipinya sudah kembali berwarna. Ia menikmati sarapan bubur daging hangat sambil menonton TV, channel komedi yang muncul secara acak. Sadam tidak terlihat sejak tadi malam. Bagus. Cici tidak tahu mau bicara apa jika pria itu muncul sekarang. Pintu kamar diketuk ringan sebelum terbuka. “Selamat pagi, Mbak Cintya. Dokter akan cek sebentar ya,” ujar perawat ramah itu. “Sorenya, polisi akan jemput Mbak ke kantor untuk minta keterangan habis itu bisa pulang.” “Hmm… iya

