“Baru juga kamu pulang dari Paris. Baru tiga minggu kemarin, ‘kan? Sekarang mau pergi lagi?” tanya sang Ibu sambil menoleh pelan. Kursi rodanya berhenti di tepi taman rumah sakit, tepat di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning. Sore turun perlahan, cahaya matahari menyentuh wajah Ibu Alya yang tampak lebih hidup sejak beberapa hari terakhir. Bulan tersenyum kecil lalu duduk dan mulai mengeluarkan camilan. “Iya, Bu. Tapi ini sebentar. Ada pertemuan lagi.” “Pertemuan apa?” Ibu Alya mengangkat alis, matanya menyipit curiga. “Kerja kamu itu kok kelihatannya… maju sekali.” Bulan menyuapkan potongan kecil ke mulut Ibunya. “Makan dulu. Jangan banyak mikir.” Ibu Alya mengunyah pelan, lalu menelan. “Ibu mikir karena Ibu lihat sendiri. Rumah sakit ini mahal, Bulan. Kamu juga sekarang

