Bulan masih samar-samar mengantuk ketika merasakan telapak tangan Bhumi menyusuri rambutnya, dari ubun-ubun ke tengkuk, gerakannya lambat dan sabar. Seperti orang yang tidak ingin membangunkan, tapi perlu memastikan. Ada kecupan ringan di dahi. Lalu di pelipis. Lalu di pipi. “Bulan,” suara Bhumi rendah, dekat sekali. “Kamu dengar tidak?” Bulan menggumam pelan, wajahnya setengah tenggelam di bantal. “Hm…” Bhumi tidak berhenti. Ujung jarinya mengusap alis Bulan, menyingkirkan rambut yang jatuh ke mata. “Saya ada pekerjaan dulu. Setelah itu baru kita jalan-jalan. Kamu di sini ditemani Martina, oke?” Bulan membuka mata sedikit. Cahaya pagi Paris menyelinap lewat tirai. “Jam berapa…?” tanyanya malas. “Saya pulang sore,” jawab Bhumi. Ia membungkuk, mencium ujung hidung Bulan, lalu pipinya.

