Di bawah guyuran air shower, dua tubuh bergelung dalam kehangatan yang memantul dari marmer kamar mandi. Cahaya senja merembes lembut melalui kaca buram, memahat siluet Bulan yang berkilau oleh air, kulitnya seolah menyimpan cahaya sendiri. Dari bibirnya lolos desahan kecil, nyaris tak utuh, “Ahhh! Ahhhh!” Pelan namun berulang, seperti napas yang terlalu penuh oleh rasa. Tubuhnya gemetar halus, satu kakinya terangkat tanpa sadar, melingkar, sementara Bhumi mendekap, posisinya berhadapan, napasnya berat, geramannya rendah dan tertahan, dingin namun mengancam pecah. “D-dokter…. Ahhhh! Terlalu dalam… ahhh! Ahh!” “Sebentar, Bulan,” geram Bhumi kembali mencium bibir yang basah itu dengan acak. Bulan benar-benar pusing, serangan dibawah sana yang bergerak cepat hingga menciptakan suara tubuh

