Bulan tidak menyangka pengambilan hasil lelang bisa secepat ini.Di film-film, selalu ada jeda seperti formulir, waktu tunggu, ruang arsip. Namun malam Paris berjalan dengan ritmenya sendiri. Begitu mereka meninggalkan salle des ventes, Bhumi menggenggam tangan Bulan denngan pasti, hangat dan menuntunnya melewati koridor berlapis karpet gelap menuju sebuah ruang privat di sayap galeri. Pintu kayu tua terbuka senyap. Di dalam, cahaya lampu dinding memantul lembut pada panel kayu dan kulit kursi. Seorang pria tua berambut perak berdiri menyambut dengan senyum yang mengenal. “Monsieur Janitra,” katanya dengan nada hormat yang akrab. “Selalu cepat dan tegas.” Bhumi menjabat tangannya. “Bonsoir, Monsieur Lefèvre. Terima kasih mengatur semuanya.” Pria itu menoleh pada Bulan, matanya menilai t

