Hari-hari di Paris mengalir seperti cahaya yang tidak pernah kehabisan sumber. Bulan tertawa lebih sering, melangkah lebih ringan, dan perlahan melupakan batas-batas yang seharusnya ia jaga. Bhumi memanjakannya tanpa suara seperti sebuah buku yang tiba-tiba sudah tergeletak di meja, sepatu yang pas ukurannya, secangkir minuman hangat saat angin berubah dingin. Bhumi juga menuntunnya hingga Bulan berani berbicara dalam Bahasa Prancis yang lama tertidur, lidahnya menemukan kembali irama, dan ia tidak pernah merasa menjadi bayangan. Ia berdiskusi tentang seni dan buku, tentang dunia yang bergerak cepat dan Bhumi menimpali dengan pengetahuan yang rapi, menambal celah-celah yang belum Bulan pahami. Mereka saling melengkapi, bukan dengan janji, melainkan dengan kehadiran. Malam-malam pun datan

