Bulan terbangun lagi saat jam menunjukkan pukul dua siang. Kepalanya sedikit berat, sisa perjalanan panjang dan tidur yang terlalu dalam. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menarik napas, membiarkan cahaya siang menempel pelan di kulitnya. Setelah mandi lama, Bulan memilih salah satu gaun-gaun mahal yang belakangan ini seolah jadi bagian dari keseharian yang tak ia rencanakan. Ia turun ke lantai satu dengan perut kosong dan pikiran yang masih berkabut. “Mbok?” panggilnya pelan. “Mbok Rum?” Tak ada jawaban. Rumah terasa terlalu tenang. Langkah Bulan berbelok ke dapur dan ia berhenti mendadak. Di sana berdiri seorang perempuan tua dengan punggung tegak, kebaya sederhana tapi jatuh anggun, rambut disanggul rapi tanpa sehelai pun berantakan. Tangannya memegang teko, namun gerakannya tampak k

