Bulan terbangun lebih dulu, napasnya teratur, tubuhnya hangat oleh dekapan yang semalam menahannya tetap utuh. Lengan Bhumi melingkar di pinggangnya, telapak tangan itu seperti jangkar yang tenang, berat, meyakinkan. Ingatannya melayang pada malam sebelumnya, pelukan yang tak dilepas, ciuman yang lama dan pelan, bukan untuk membakar, melainkan untuk memastikan. Di sana, di antara kelelahan dan keputusan, Bulan akhirnya menerima Bhumi. Mungkin karena lelah berperang dengan diri sendiri, mungkin karena ia tak lagi sanggup berbohong pada rasa aman yang diberikan pria itu. Ia tahu Bhumi melakukan kesalahan. Ia juga tahu dirinya menikmati kemewahan yang tak pernah ia miliki, perhatian yang tidak setengah-setengah, dan kehadiran yang tak pergi. Dan ada bayi itu, sebuah detak kecil yang ia tak s

