“Tidak…” suara Bulan bergetar, pecah di tengah malam yang menegang. “Saya tidak pernah berniat mengkhianati kakak saya.” Ia berusaha bangkit dari ranjang, selimut terjatuh ke lantai. Kakinya gemetar ketika melangkah setengah langkah ke arah Ibu Rosita, seolah ingin menutup jarak dengan kejujuran yang selama ini ia simpan rapat-rapat. “Ibu, tolong dengarkan saya—” “Dengar apa?” potong Ibu Rosita tajam, suaranya menggema di kamar yang sempit oleh amarah. “Dengar alasan murahan perempuan tidak tahu malu? Kamu tinggal di rumah anak saya, memakai bajunya, dan berani bilang tidak berniat mengkhianati?” Ia tertawa pendek, pahit. “Kamu tidak tahu diri, Bulan. Tidak tahu terima kasih. Cahaya mengangkatmu dari bawah, dan ini balasanmu?” Bulan menelan ludah. Kepalanya berdenyut. “Saya… saya tidak

