“Mas Bhumi hanya bilang dia tidak punya masa depan dengan Kakak. Dia bilang tidak mau memaksakan diri dan seumur hidup malah menjalani hari-hari yang abu-abu, makanya meminta putus saja. Mas Bhumi bilang juga kalau dia sudah mengatakan ini pada Ibunya, dan dia juga meminta izin pada Kakak untuk mempertemukan dia dengan Mamanya Kakak. Tapi…,” Cahaya berhenti sejenak, sendok bubur menggantung di udara. “…kakak rasa tidak perlu. Sudah cukup luka yang diberikan.” Mereka duduk di bangku taman kecil dekat gerobak bubur yang masih mengepul. Pagi Jakarta terasa lembap dan pucat, daun-daun basah oleh sisa embun. Bubur ayam di mangkuk Cahaya nyaris tak berkurang; uapnya naik, seolah berusaha menghangatkan sesuatu yang terlalu dingin di d**a. Bulan menatap mangkuk itu, lalu wajah kakaknya yang puca

