Elang membuka matanya perlahan. Rasa pusing datang lebih dulu, menekan dari belakang pelipis hingga ke tengkuk, seperti sisa malam yang belum sepenuhnya pergi. Ia mengerjap, menatap langit-langit putih dengan garis lampu tersembunyi yang terlalu rapi untuk kamar apartemennya. Napasnya tertahan sepersekian detik. Tunggu. Ini kamar di mansion utama. Kesadaran datang bertahap, menyusun potongan demi potongan. Bau lavender halus dari linen, dingin yang terkontrol, sunyi yang tidak memberi ruang untuk mengeluh. Elang menelan ludah, memejamkan mata sebentar dan ingatan menyusup tanpa izin. Suara Papanya. Nada datar, tapi menghantam. “Kamu tahu kenapa konsorsium itu batal?” Karena kamu terlalu banyak ‘pertimbangan moral’. Rumah sakit itu butuh hasil, bukan idealisme. Sebagai calon direktur,
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


