S2: Rumah yang Dingin

2215 Kata

Sore itu mansion sepi, sunyi yang tidak ramah namun terjaga. Pak Arman membukakan pintu dengan gerakan yang terlatih, seolah setiap sudut rumah ini memiliki tata krama sendiri yang tidak tertulis. Begitu Cahaya melangkah masuk, udara dingin langsung menyentuh kulit, bukan dingin AC semata, melainkan dingin yang lahir dari ruang besar, langit-langit tinggi, dan jarak yang sengaja diciptakan. Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai marmer. Dari sisi kiri, seorang perempuan paruh baya mendekat dengan senyum yang tidak berlebihan, rapi dan tertata. Rambutnya disanggul rendah, seragamnya abu-abu tua dengan garis potong bersih. “Selamat sore, Non,” katanya, suaranya tenang, tidak berusaha menenangkan, tidak pula mengintimidasi. “Saya Ruth. Kepala pelayan di sini.” Cahaya mengangguk kecil.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN