Harusnya sore ini Bulan ke rumah Ibu Alya dan makan malam di sana, sembari menunggu Bhumi menjemputnya. Jadwal itu sudah rapi di kepalanya tenang, aman, tanpa kejutan. Namun langkahnya justru berbelok. Wajah Cahaya yang bersimpuh di lantai toko kue itu masih tinggal di pelupuk mata, suaranya yang pecah menahan tangis seakan belum benar-benar pergi. Bulan tidak tega. Ia tahu betul luka kakaknya sudah terlalu dalam untuk ditambah lagi. Terlebih Cahaya tengah hamil muda, rapuh, mudah runtuh. Dan apa yang dilakukan Ibu Diniarti, sekejam apa pun, lahir dari pusaran yang sama yaitu kesalahan-kesalahan lama yang saling menelan. Mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Bulan turun, menghela napas panjang, lalu melangkah masuk dengan langkah yang ia paksakan mantap. Di dalam, udara dingin khas bang

