2

1498 Kata
Axton Tower yang terletak di jantung area Shoreditch, merupakan kantor pusat Axton Group. Axton Tower merupakan gedung pencakar langit tertinggi di Kota London, bahkan mungkin seantero Inggris Raya. Dinding-dindingnya yang penuh kaca terlihat biru karena memantulkan bayangan langit yang cerah kala itu. Kemewahannya pun tampak dari bagian muka dan dalam dari ornamen-ornamen simpel dan berbahan mahal. Lantainya terbuat dari marmer Italia yang dikenal akan kualitas dan kemewahannya. Belum lagi teknologi canggih yang disematkan pada setiap sudut bangunan, makin mengukuhkan Axton sebagai bangunan termegah di seluruh penjuru Inggris Raya. Bukan hanya bangunan, taman yang terdapat pada halamannya pun berisikan tanaman mahal dan cantik, sehingga kian menambah nilai Axton Tower. Gedung semegah itu tentu saja memiliki lapangan parkir yang memadai dan diawasi dengan sistem kontrol yang baik. Setiap sudut lapangan selalu diawasi dengan kamera CCTV. Pagi itu aktivitas di Axton Tower menggeliat. Parkiran yang sangat luas, bahkan terlihat sesak dijejali bermacam kendaraan. Dari mulai kendaraan mewah, sampai yang standar. Namun, tak ada yang du bawah itu. Ribuan karyawannya sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Hal yang sama tampak di lantai dua puluh lima, tempat para Direksi dan jajarannya. Kontras dengan kesibukan itu, dua perempuan tengah bersantai, dan bercengkerama. "Sudah sampai mana hubunganmu dengan Mr. Handsome? Apakah baru ranjang di seputar London, atau ... Roma ... atau lebih jauh dari itu? Asia, mungkin?!" Tammy Jayden—perempuan cantik berkulit gelap, bertanya pada temannya seraya tersenyum menggoda. Tidak hanya cantik, Tammy juga berpenampilan seksi dan menarik. Pakaian minim yang dikenakannya mempertontonkan lekuk tubuh sempurna. "Aku tidak paham maksudmu," jawab Ashley Hampton, merasa gugup dan berpura-pura tidak paham maksud Tammy Jayden. Semburat merah di pipinya yang putih pun tampak jelas. Siapa pun yang melihatnya dapat mengetahui isi hati Ashley Hampton hanya dari wajahnya. Tammy tersenyum menggoda. "Kurasa kamu pura-pura tidak tahu. Siapa lagi yang kumaksud?!" Sebelah alisnya terangkat, saat memandang Ashley Hampton. Ashley memalingkan wajah, berusaha menutupi rona yang kian memerah. "Kamu memiliki sepasang mata sendu yang indah, hidung mancung, bibir seksi, rambut brunette[1] berkilau dan,"—Tammy menepuk p****t Ashley—"tubuh yang sempurna. Tak ada laki-laki yang tidak terpikat padamu, Ash," tukas Tammy Jayden. "Kamu berlebihan, Tammy. Aku sama sekali tidak seperti yang kamu katakan," ucap Ashley Hampton, berusaha merendah. Tammy pun tertawa kecil. "Kamu tahu kan kalau aku selalu bicara apa adanya?! Mestinya dengan modal itu, Mr. Handsome sudah jatuh dalam pelukanmu," Tammy berhenti sejenak, kemudian kembali berkata, "Seperti caraku pada Clive. Lihatlah hasilnya ...." Diambilnya tas Guci dari atas meja. "Masih banyak lagi di lemariku. Luis Fiton, Baly, Marc and Spens, dan berbagai merk mewah lain. Gaji kita sebagai Sekretaris tidak akan cukup membeli barang-barang itu, jadi gunakan tubuhmu untuk mendapatkan kartu kreditnya yang tanpa batas. Dan kalau kamu melakukannya, aku jamin tidak akan menyesel. Sebaliknya jika kamu enggan, kamu akan menyesal seumur hidup. Dengar Ashley Hamptom, sahabatku ... hidup hanya sekali, jadi pergunakanlah untuk bersenang-senang. Apalagi yang kita cari selain kebahagiaan?!" terang Tammy Jayden, mengemukakan prinsipnya. Ashley tak terkesan dengan pengakuan Tammy Jayden. Bagi Ashley, tubuh seorang perempuan hanya boleh diberikan pada lelaki yang dicintai. Suatu prinsip yang cukup baik—bukan yang terbaik—di tengah zaman degradasi moral seperti sekarang. "Well, aku tahu kalau sebetulnya kamu tergila-gila pada Mr. Handsome, tapi kamu perlu sedikit lebih berani untuk mendekatinya, atau orang lain akan mendahuluinya. Jangan sampai itu terjadi, Ash. Aku benar-benar mengingatkanmu ka—" "Bukankah sekarang jam kerja?" Suara bariton menghenyakkan keduanya. Serta merta mereka menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak?! Sebab pria di hadapan mereka adalah pemuncak jabatan di Axton Group. "Mr. Hand—maaf ... bukan itu, ma-maksud saya, Mr. Axton." Tammy terlihat gugup. Demikian pula dengan Ashley yang buru-buru menyibukkan diri dengan tumpukan kertas. "Apakah Mr. Grissham sudah datang, Tammy?" tanya Arthur pada Sekretaris Clive Bavon Grissham tersebut. "Belum, Sir. Katanya sedang dalam perjalanan dari Kantor Kementrian. Belum lama pesan beliau sampai di ponsel saya, Sir," jelas Tammy Jayden. "Well, jika ia tiba, sampaikan untuk ke ruanganku. Dan katakan agar jangan menunda waktu untuk menemuiku." Arthur menoleh pada Ashley Hampton yang berpura-pura menyibukkan diri sejak kedatangannya. "Berkas-berkas Gloucester sudah diletakkan di mejaku?" "Sudah, Sir. Saya sudah meletakkannya sejak kemarin di atas meja," jawab Ashley Hampton, memberi tahu kalau ia tidak lalai mengerjakan tugas yang diberikan Arthur. "Bagus, kalau kamu tidak lupa perintahku." Arthur mengangkat kedua ujung bibirnya, kemudian berjalan menuju ruangannya. Diam-diam Ashley memandang Arthur dari kejauhan. Hal itu tak luput dari perhatian Tammy. "Sangat tampan. Bukan begitu, Ash?" Ashley pura-pura tidak mendengar, dan buru-buru menyibukkan diri di meja kerjanya. Tidak perlu kejelian tinggi untuk mengetahui perasaan Ashley pada Arthur. Rona Ashley yang kerap memerah kala berada di dekat Arthur, mengonfirmasi perasaannya. Sudah lama perasaan itu tersimpan, hingga tak memberi kesempatan pada laki-laki lain untuk mencurinya. Kesungguhan cinta Ashley pada Arthur juga terlihat dari penolakannya pada beberapa perusahaan yang meminang dengan iming-iming upah lebih besar. Sayang, sang laki-laki pujaan tak memiliki perasaan yang sama. Hati Arthur hanya milik Louise, sementara pikirannya selalu disibukkan dengan pekerjaan. Seperti saat ini, ketika ia sedang membuka lembar demi lembar berkas Gloucester. Gloucester memang menjadi fokus utamanya saat ini. Seluruh ahli di perusahaan telah ia pacu untuk menyajikan data presentasi yang menarik, demi memenangkan tender tersebut. Segala upaya sudah tertuang dalam presentasi. Kini harapannya bergantung pada Direktur Pemasaran, sekaligus sahabat baiknya. Jawaban atas harapan tersebut, sebentar lagi akan didapatkan dari pria yang baru saja masuk ke ruangannya. Pria itu berperawakan kurus dan tinggi. Rambutnya yang hitam disisir ke belakang, hingga mengekspos raut wajahnya yang tirus. Kulitnya hampir sepucat dinding ruangan. Ia duduk pada kursi di hadapan Arthur. Kepalanya tertunduk. Matanya yang cekung dengan kantung hitam, tak berani memandang Arthur. Melihat keadaannya yang lesu, kekhawatiran pun menyeruak. "Kalah, Clive?" Sebelum menjawab, pria bernama Clive menghela napas panjang. "Nathan memberikan semua yang mereka inginkan." Kata-kata Clive membuat Arthur tertunduk lemas. Kalah tender adalah hal biasa, tetapi lain soal jika dikalahkan oleh saingan bisnis terbesarnya—Nathaniel Damarion Blake. "Aku sudah mengatakan padamu, persilakan mereka menuliskan angka pada cek yang kita berikan," tukas Arthur, kecewa. "Sudah." "Lantas kenapa kita bisa kalah?" Clive mendongak, lalu menatap sahabatnya. "Itu kesimpulanmu, bukan kata-kataku, Arthie. Nathan memang memberi semua yang mereka inginkan, tetapi kita memberi lebih dari keinginan mereka." Arthur tertegun sesaat. "Jadi maksudmu ...." "Well, besok kita harus mengadakan Rapat Direksi untuk pelaksanaan Proyek Gloucester." "Bloody Hell! Kamu hampir membuat jantungku berhenti!" Arthur berteriak senang. "Hahaha! Sudah lama aku tidak memberi kejutan, kan?!" "Sesuai janjiku, Sobat. Katakan apa hadiah yang kamu mau! Mansion di Paris, atau Dubai?" Clive tertawa kecil, seraya merangkul sahabatnya. "Kamu tahu kan pendapatanku sanggup membelinya?! Jadi bukan itu yang kuinginkan." "Kalau bukan itu, lantas?" "Malam ini kita ke Pimshuei. Bagaimana?" Permintaan Clive lebih berat ketimbang memberi mansion. Mengunjungi kelab malam, berarti mencederai kepercayaan sang istri. "Semenjak kamu menikah, kita tidak pernah bersenang-senang di kelab malam. Ayolah, kali ini saja," bujuk Clive. "Mudah bagimu, karena belum menikah." "Kamu sudah berjanji akan memenuhi keinginanku, Sobat. Lagipula Louise tidak akan tahu. Ini rahasia di antara kita." Pikiran Arthur mulai gamang. Bagaimanapun juga, ia bukan orang yang suka ingkar janji. "Hanya kali ini saja, janji?" Clive tersenyum lebar. "Pasti!" Kegembiraan kedua sahabat tersebut terdengar sampai luar ruangan. Para karyawan yang berada di sekitar ruangan tersebut, saling bertukar pandang. Tak terkecuali, Tammy, dan Ashley. "Sepertinya kita berhasil mendapatkan tender itu," terka Ashley Hampton. "Bagus. Sebentar lagi Lamborgini akan terparkir di garasiku. Well, itu janji Clive kalau berhasil mendapatkan Gloucester." Ashley menggeleng, kembali mengalihkan pandangan ke layar komputer. Keadaan sunyi sejenak, sampai Tammy melihat seorang perempuan menghampiri. "Hei, Ash. Kamu kenal perempuan itu?" tanya Tammy. Ashley menoleh, dan dilihatnya perempuan berkemeja putih sudah berdiri di hadapannya. "Ada keperluan apa?" tanya Ashley, ramah. Perempuan tersebut menjawab dengan gugup, "Saya diundang Mr. Ronald Bostock untuk wawancara," ucapnya dengan aksen Skotlandia yang kental. `Ronald Bostock adalah Direktur Keuangan Axton Group. Diwawancara langsung olehnya, tentu suatu hal yang langka, kecuali jika pelamar memang sangat diperhitungkan. Rasa iri tersulut di hati Tammy Jayden. Apalagi perempuan tersebut memiliki kecantikan paripurna. Ia memiliki rambut hitam sebahu, dan berombak. Pada wajahnya yang oval, terdapat sepasang mata lebar, dengan pupil safir, hidung mancung dan pipih, serta bibir yang melengkung sempurna. Ditambah lagi dengan tinggi dan lekuk tubuh yang proporsional, kian menunjang kesempurnaannya. Wajar jika Tammy Jayden merasa terancam. Dengan kecantikan perempuan itu, semua lelaki dapat dengan mudah jatuh hati—termasuk Clive yang kini menjadi sumber kehidupan gemerlapnya. Tammy menarik map dari tangan perempuan tersebut, lantas membaca isinya. "Dengarkan aku, Miss. Kimberly Wyanet Scott. Surat panggilan ini memang benar. Tapi sayang sekali, baru saja lowongan tersebut diberikan pada orang lain. Sorry ...." Senyum perempuan bernama Kimberly tergelincir, setelah mendengar kabar tersebut. Harapan yang semula mengembang, susut seketika. "Baik, terima kasih." Kimberly berkata lirih. Dengan perasaan kecewa, ia pun berjalan menuju lift. Siapa pun yang melihat Kimberly, dapat merasakan kekecewaan yang ia rasakan. Demikian pula dengan Ashley yang mengecam tindakan Tammy. "Tidak semestinya kamu berbohong!" "Well, dia ancaman buatku, dan juga buatmu. Paham?" Kata-kata Tammy tepat sasaran, hingga Ashley pun tak dapat menyanggah. Ia tidak ingin menambah satu saingan lagi untuk mendapatkan hati sang pujaan. Keterangan: [1]Brunette: Berwarna kecokelatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN