1
Muda, tampan, kaya raya. Tidak sedikit perempuan yang jatuh hati pada pria seperti itu. Bagaikan kisah dongeng seorang pangeran dalam cerita rakyat di setiap belahan dunia. Arthur Phillips Axton, dialah yang paling mendekati sosok sang pangeran. Ia pewaris tunggal kerajaan bisnis peninggalan ayahnya, George Phillips Axton. Sejak kepergian George, Arthur kian dalam menancapkan pengaruh bisnisnya di seluruh Britania. Ia bukan sekadar pengusaha, tetapi sudah menjelma menjadi selebriti. Sosoknya kerap terpampang di berbagai media cetak, maupun elektronik. Baginya mudah saja menjatuhkan pilihan pada perempuan dari kalangan selebriti Britania, tetapi ia memilih untuk melingkarkan cincin pada jari kekasihnya—Louise Anne Charlotte—yang malam itu memberi cenderamata yang tak pernah terbayangkan sebelumnya ....
***
Malam hari itu angin dingin mencengkeram tubuh-tubuh yang meringkuk di balik selimut. Bulir-bulir salju melayang, dan menerjang para penduduk di jalanan Manchester. Cuaca kejam memang acap mendera Kota Pelabuhan, di sebelah selatan Inggris tersebut. Di sebuah rumah bak kastil, di tepi bukit. Terjadi anomali di dalam kamar megah. Dua sosok saling menghangatkan, dan merajut kasih di atas ranjang.
"Arthie, apakah kamu merindukanku?" Perempuan berambut pirang membelai rambut pria di hadapannya, lalu merayap menyisir punggung kukuhnya.
"Louise ...." Pertanyaan itu dijawab lirih oleh pria bernama Arthur, yang menyambutnya dengan tatapan penuh arti.
Louise Anne Charlotte mencecap bibir beraroma cerutu Arthur dengan penuh hasrat. Arthur menyambut tak kalah b*******h. Ia mengulum bibir lembut Louise selama beberapa saat. Namun, tiba-tiba giginya menikam kuat-kuat. Refleks, Louise menarik wajahnya menjauh. Ia menatap Arthur dengan mata menyala-nyala. Pupil zamrud-nya bergerak, menyisir tubuh Arthur yang tengah terluka dan terbelenggu besi. Hidungnya mendengus jijik pada pria di hadapannya.
"Aku berniat memberi cenderamata terakhir." Louise meraih pistol. "Tapi sepertinya kamu ingin segera aku kirim ke neraka." Lalu menempelkan moncongnya di pelipis Arthur.
Pelatuk ditarik, memicu timah panas melesat dari selongsongnya ....
***
Enam tahun sebelum insiden tersebut terjadi ....
Di kawasan The Bishop Avenue, Hampstead, London. Sebuah rumah berarsitektur Mediterania berdiri megah di antara rumah-rumah mewah di sekitarnya. Rumah tersebut memiliki luas dua kali lebih besar daripada rumah lain di kawasan tersebut. Rumah itu memiliki ornamen-ornamen, dan ukiran bergaya Mediterania di setiap sudutnya. Tampilan depan rumah yang etnik, dan anggun menjadi ciri khas rumah itu dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Pagar tinggi di bagian depan rumah, berdiri kukuh, dan elegan. Pilar-pilar yang identik dengan gaya klasik, memberikan kesan mewah, dan megah. Halaman rumah yang sangat luas ditumbuhi rumput dipotong pendek, saking rapinya sampai-sampai seperti rumput sintetis. Ada juga beberapa pohon palem dan kamboja merah yang tinggi menjulang di pinggir halaman. Sedangkan pada tengah halaman ditanami berbagai macam tanaman hias: sansivera, tulip, mawar, dan lain sebagainya.
Sementara itu bangunan rumahnya sangat besar dan luas. Dinding bercat putih gading membentang bagai tak berujung. Jendela-jendela berukiran klasik terdapat pada dinding bagian depan rumah. Ditambah pintu klasik yang megah, makin mengesankan kemewahan rumah tersebut seperti istana. Di rumah itulah Arthur Phillips Axton tinggal, bersama istri tercintanya.
Di usianya yang belum genap tiga puluh satu tahun, ia telah memuncaki daftar konglomerat se-Britania Raya. Setelah sebelumnya sang ayah memimpin perusahaan Axton Group, kini tugas itu menjadi tanggung jawabnya sebagai pewaris tunggal. Di balik gelimang harta dan kemewahan, ia memiliki prinsip yang ortodoks. Selama 8 tahun menikah, tak sekalipun ia selingkuh. Suatu hal yang jarang terjadi di zaman sekarang—terlebih dengan godaan dan kesempatannya yang terbuka lebar. Tentu saja perempuan itu sangat mujur, diperistri oleh pria yang diimpikan jutaan perempuan.
Louise Anne Charlotte. Dialah perempuan beruntung itu. Louise berasal dari sebuah yayasan yatim piatu Crayton Foundation. George—ayah Arthur—merupakan donatur tetap Crayton Foundation sejak Louise berumur 5 tahun. Kecerdasan Louise menarik minat George untuk menyekolahkannya hingga meraih gelar Master of Business Management, dan mempekerjakannya di Axton Group. Tidak cukup sampai di sana, George yang sudah menganggap Louise seperti putri kandung, mengajaknya untuk tinggal bersama. Saat itulah benih cinta Arthur mulai tumbuh. Louise memang bukan perempuan tercantik di seluruh Inggris, tetapi kelembutan dan kesederhanaannya, sudah cukup membuat Arthur jatuh hati. Sosok itulah yang tengah dipandangi Arthur, kala ia membawa nampan berisi sarapan untuknya.
Meskipun berstatus istri pengusaha terkaya se-Britania Raya, tetapi penampilannya terbilang sederhana. Rambut pirangnya diikat ekor kuda, sehingga mengekspos wajahnya yang tirus. Sepasang mata berukuran sedangnya juga tidak dirias, dan terlihat natural. Hidungnya yang mancung, berpadu serasi dengan bibir merah muda, tanpa perona bibir. Tubuhnya langsing, dibungkus kulit putih pucat yang bersih. Ia mengenakan kaus putih polos dan rok biru langit. Kesederhanaan perempuan itulah yang selalu menawan pandangan Arthur. Selama menikah, tak pernah terbersit sedikit pun di dalam benak Arthur untuk menduakan istrnya tersebut.
"Arthie, coba cium aroma yang kubawakan. Bagaimana?" Senyum Louise mengembang di wajahnya yang tirus. "Aku bertaruh kamu akan menyukainya."
Arthur mengendus aroma sedap yang menguar dari balik tutup saji. "Bubble and Squeak?"
Louise mengecup pipi sang suami. "Iya, masakan spesial untuk ulang tahun pernikahan kita. Aku sangat tahu seleramu, Sayang."
Arthur semringah melihat sajian di hadapannya. "Wow! Jika Bubble and Squeak appetizer, lantas apa dessert-nya?"
"Aku baru membeli lingerie untuk dessert nanti malam." Rona pipi Louise berubah merah muda. "Apakah itu belum cukup sebagai hadiah pernikahan?"
"Well, sudah lebih dari cukup," tukas Arthur, sembari melinting lengan baju, lantas mengambil sendok dan garpu yang tertata rapi di atas meja makan. "Aku khawatir terlambat ke kantor, karena pasti meminta tambah lagi. Masakan istriku memang yang terbaik di dunia. Tidak ada satu orang pun yang setara dengan masakanmu."
"Kamu memang selalu meminta tambah. Bukan hanya makanan, tapi juga—"
"Tentu saja dii ranjang," sergah Arthur, sembari tersenyum.
"Well , begitulah suamiku yang tampan ini." Louise berkata, seraya tersenyum menggoda.
Kelezatan Bubble and Squeak, sebanding dengan penampilannya yang menggiurkan. Arthur pun menyantap makanan khas Inggris tersebut dengan lahap. "Bukan Camilla yang memasaknya, kan?!" Sebelah alis Arthur terangkat.
"Saya hanya membantu menyiapkannya, Tuan." Seorang perempuan keturunan Amerika Latin muncul, sambil membawa hidangan lain. "Nyonya yang memasak semuanya, Bahkan, sekadar untuk menuangkan bumbu pun, saya tidak diizinkan." terang Asisten Rumah Tangga Keluarga Axton tersebut.
"Satu belum habis, sudah datang makanan lain. Sepertinya aku benar-benar akan terlambat ke kantor," ujar Arthur, tertawa kecil.
Louise kembali tersenyum. Ia memandang sang suami yang mulutnya penuh berisi makanan. "Cuma Fish and Chips."
"Ah, ya. Nanti akan kuhabiskan semua," Arthur berkata, melahap satu demi satu masakan sang istri.
Alih-alih turut menikmati, Louise tidak menyentuh satu pun hidangan. Matanya memandang ke arah lain dengan tatapan kosong. Keriangan yang tadi tampak, sekarang memudar. Perubahan wajah sang istri, tak lepas dari perhatian Arthur.
"Sayang, kenapa kamu tidak makan?" tanya Arthur, khawatir melihat istrinya.
Suara itu menghenyakkan Louise. Sudut bibirnya terangkat, memberi setengah-senyum. "Tidak apa-apa, hanya sedang memikirkan Axton Group."
Mendengar jawaban Louise, Arthur kembali bertanya, "Kamu rindu bekerja kembali?"
Louise menggeleng. "Sejak dua tahun lalu, kita sudah sepakat agar aku berhenti bekerja. Terlalu letih bekerja, memang berisiko pada kesuburan. Aku bisa memahami keinginanmu untuk memiliki anak, karena aku pun demikian. Namun, bukan itu yang menganggu pikiranku."
"Lantas, apa yang mengganggu pikiranmu?" Arthur menyelisik wajah sang istri, berusaha menangkap isi hatinya, sebelum mendengar jawaban.
Louise menghela napas. "Ayah merintis Axton Group hingga menjadi seperti sekarang, tapi usaha kita belum mampu membawa Axton Group menjadi lebih baik. Aku merasa bersalah pada Ayah, apalagi mengingat jasa-jasanya padaku. Aku tidak akan pernah melupakan ia menyekolahkanku, menerima bekerja di Axton, mengajakku tinggal, sampai akhirnya kita bertemu. Jasanya terlalu besar. Karena itu, aku ingin Axton Group menjadi yang terbesar di Eropa, sebagai penghargaan atas segala jerih payahnya selama ini."
"Kondisinya sekarang tidak mudah, Sayang. Brexit[1] sangat memengaruhi perkembangan bisnis kita. Untungnya perusahaan kita masih yang terbaik di Inggris. Walaupun tidak mengalami peningkatan signifikan, tetapi tidak juga mengalami penurunan. Kalau saja kita bisa memenangkan tender Glouchester, pasti akan menjadi pencapaian luar biasa. Namun, mendapatkan tender tersebut, tentu bukan perkara mudah. Seluruh pesaing kita pun turut mengincar ternder itu."
"Ah iya, sampai di mana perkembangan tender tersebut? Apakah ada kabar baik?" tanya Louise, penuh harap.
"Clive yang bernegosiasi. Aku memilihnya ketimbang Ronald. Dan kuharap bisa berhasil. Kita tahu bagaimana kemampuan Clive, kan?!"
"Untung kamu mengutus Clive, dan bukan Ronald yang kaku, dan pendiam. Clive seorang negosiator ulung. Aku yakin dengan kemampuannya," ucap Louise. Beban pikirannya telah terangkat, setelah mengetahui penanggung jawab negosiasi adalah Clive.
"Semoga, Sayang." Arthur melihat jam tangannya, kemudian beranjak dari kursi. "Well, aku harus berangkat."
"Oke. Jangan lupa dessert nanti malam." Louise berujar, sambil merapikan kerah baju Arthur.
"Tentu saja aku tidak akan lupa." Dikecupnya kening sang istri. "Nanti ke rumah Ibu?"
Louise mengangguk, dan tersenyum. "Iya, aku sudah berjanji kemarin. Di usianya yang sudah senja, dan tanpa ditemani Ayah, ia sangat butuh perhatian kita. Aku tidak tega membiarkannya kesepian. Apalagi kamu tidak mungkin selalu bersamanya, mengingat kesibukanmu mengurusi Axton Group."
"Aku merasa beruntung memiliki istri sepertimu." Arthur membelai lembut rambut sang istri. "Sampaikan salamku padanya. Sabtu ini aku akan berkunjung ke sana." Usai berkata, Arthur menjinjing tasnya, ke luar dari dalam rumah.
Dari balik jendela, pandangan Louise tertuju pada Ashton Martin hitam yang baru saja melintasi pintu pagar.
Keterangan:
[1]Brexit = Britania Exit adalah penarikan diri Britania Raya dari Uni Eropa sebagai hasil dari referendum Brexit yang diadakan pada Kamis 23 Juni 2016.