Badan tegap Rio muncul di koridor kelas Ify, matanya memicing heran saat ketiga gadis termasuk di dalamnya ada sang kekasih, terlihat lesu.
Dengan mempercepat langkah, ia mendekat.
"Kakak," pekik Ify menyambutnya, baru akan kembali melangkah, jalannya terhadang Sivia yang berlari entah ke arah mana.
Ify panik, ingin ikut mengejar. Namun, ia menahan.
"Ish itu Sivia," Ify menepuk-nepuk cekalan tangannya minta dilepas, namun tak ia hiraukan. Desisan jengkel dipersembahkan untuknya.
"Minum dulu, obat kamu udah diminum?"
Melihat kekasihnya menggeleng, Rio menggiring untuk memasuki kelas. Nampak Alvin yang sedang mengacak-acak rambut bingung.
"Kak Alvin, kursi Ify," cicit Ify miris menatap kursinya yang sudah terlentang pasrah.
"Aghh!" Alvin tak menjawab, malah berlalu pergi.
"Ih dasar sipit." Rio terkikik kala gadisnya melayangkan tangan seperti hendak memukul Alvin.
Tak ingin bertambah runyam, akhirnya ia membenarkan kursi Ify. Menuntun gadis itu untuk duduk agar tidak terlalu terbawa emosi. Sementara ia mendaratkan p****t di kursi sebelahnya, kursi milik Sivia.
Tangannya menjangkau tas Ify, mengeluarkan kotak bekal yang di dalamnya berisi obat. Ia tidak mau, jika teman-temannya curiga melihat banyaknya obat yang harus ia konsumsi. Hal itu difungsikan agar bau obat juga tidak terlalu menyebar, dan mengganggu penciuman teman yang lain.
"Nih, minum, habis itu boleh kamu susul Sivia. Atau gak usah, dia butuh waktu sendiri."
Ify menurut, namun tidak jika untuk menyusul Sivia, ia ingin ada di setiap kesedihan yang dialami sang sahabat. Meski baru dua tahun mereka dipertemukan, Ify menganggap mereka adalah keluarganya sendiri.
Gadis itu menikmati usapan lembut Rio di rambutnya selama ia menelan butir-butir obat penunjang hidup. Sebenarnya Ify sudah merasa bosan dengan rasa pahit obat ini, bisa gak sih diganti rasa melon atau mangga gitu.
"Kak Rio ...." Alisnya mengangkat naik, meminta Ify untuk melanjutkan ucapannya.
"Enak, Ify jadi ngantuk." Ia terkekeh, tetap mengusap rambut Ify yang kini kepalanya mulai rebah, menelungkup di atas meja. Menjemput mimpinya, usapan Rio benar-benar membuat Ify lelap.
***
"Shil, Ag, tolong tinggalin gue sendiri bisa?"
Di dekat parkiran, Sivia memasuki mobil milik Shilla memilih menenangkan di sana. Sepertinya taman belakang sekolah sudah tidak aman, Karena sewaktu-waktu Alvin bisa datang untuk menemuinya di sana.
Kedua sahabatnya mengangguk, memilih membiarkan Sivia larut dalam kesendirian. Shilla memberikan kuncinya untuk Sivia, jika gadis itu memerlukan sesuatu. Kalaupun Sivia ingin pulang, tak masalah. Mereka akan mengantarnya. Sivia menolak, tidak mau terlarut dalam kesedihan kalau di rumah. Kasihan nanti ayahnya khawatir.
"Fy, Kak Rio, bangun."
Mimpinya tertahan di ujung karena lengannya digoyang kencang oleh Agni. Rio mengusap kedua matanya, berdecak ketika ia malah terbuai kantuk seperti sang kekasih.
Dia mengusap kepala Ify, kemudian mengecupnya.
"Bangunin pas gurunya udah hadir aja, kasihan dia habis minum obat."
Rio berlalu, keluar dari kelas Ify. Membalas sapaan dari adik kelasnya, bukan hal yang mengherankan kenapa ia bisa berada di kelas ini.
"Gila, mulus banget sih kisah cinta Ify. Lah gue, marahan mulu sama kak Cakka," Shilla mendumel, yang dibalas toyoran Agni pada keningnya.
"Makanya, terima pasangan lo apa adanya. Cakka lelah kali setiap yang ia lakukan selalu salah, ditambah lagi lo tukang marah-marah."
"Gimana gak marah? Tiap hari ada aja kelakuannya yang bikin naik darah."
Agni menggeleng, namun, masih bersyukur juga karena diberikan kekasih seperti Gabriel. Kisah cinta mereka tidak mulus memang, tetapi Gabriel mampu membuatnya bahagia dan beruntung di waktu tertentu.
Lebih dari empat tahun menjalani hubungan sebagai pacar, tak pernah sekalipun sikap kasar ataupun perkataan yang diberikan Gabriel kepadanya. Ketika mereka salah, atau salah paham. Keduanya akan duduk berdua, berkata sejujurnya, mencari titik benang permasalahan bersama. Gabriel mampu mengimbanginya.
Sebagai anak terakhir yang memiliki seorang abang, Agni selalu dijaga dengan ketat oleh keluarganya. Sang abang sangat overprotektif, saat itu ia baru saja memasuki kelas tujuh SMP, bareng Ify. Dan saat itulah petualangan cinta Gabriel dimulai.
Cowok itu datang bersama Ify, selalu menawarkan untuk mengajari mereka mengerjakan tugas, meski besok tugas itu akan mendapat nilai yang buruk. Awalnya ia menganggap sikap Gabriel ini biasa, ternyata ada udang di balik batu. Abang Ify menyukainya.
"Kata abang, kalo ada yang suka gue harus ngomong ke dia."
Dengan gentle meski berakhir lebam di beberapa bagian tubuh, ia mendatangi rumah Agni, bertemu abangnya. Alhasil ia diuji coba dengan olah raga bela diri. Gabriel gagal? Karena papa tidak memasukkannya di kelas bela diri manapun.
Gagal tak berarti membuatnya menyerah, Gabriel meminta sang papa untuk memasukkannya di sanggar karate milik abang Agni. Selain belajar, ia juga butuh pendekatan dengan si abang cewek pujaan. Sampai restu itu turun. Tepat tiga bulan setelahnya. Bukan berkat kerja kerasnya ikut karate, tetapi berkat Ify. Abang Agni sangat suka memanjakan gadis itu, Agni yang kelewat feminim hingga jatuhnya seperti cowok, enggan jika harus bermanja setiap saat. Dan Ifylah yang menggantikan perannya. Menjadi adik bagi sang abang. Ify meminta agar abang membolehkan mereka pacaran, nanti kalo boleh Ify berjanji akan sering datang ke sini, Ify akan ikut main jika Gabriel mengapel. Buat nemenin abang.
"Udah masuk, ya?" Ify mengerang, berusaha membuka matanya yang sangat sulit.
"Loh kak Rio mana?"
"Balik ke kelas lah, tidur mulu sih lo," jawab Shilla malas, meraih sisir di dalam tas untuk merapikan rambutnya.
"Sivia?" Keduanya menggeleng. Ify menunduk lesu, merasa bersalah karena tak ikut menghibur sahabatnya.
"Cuci muka sono, muka bantal masih aja dipamerin." Agni mendorong mukanya dengan telapak tangan, membuat ia mengerucutkan bibir. Tetapi bangkit juga.
"Habis ini kita pikir caranya bikin Sivia senyum, oke." Ucapannya dibalas dengan anggukan Shilla juga acungan jempol dari Agni.
"Haduh kita mau kemana sih? Pulang aja yuk." Shilla menggeleng, menolak keluh kesah Sivia.
"Nggak-nggak, katanya kalo di rumah nanti lo sedih lagi. Jadi kita main aja."
"Udah deh, sok banget lo biasanya paling semangat kalo belanja." Ify ikut menyemangati Sivia, menarik lengan gadis itu untuk mengikutinya.
Ke empatnya berhenti di tempat permainan. Sivia menggeleng, tetapi Ify tetap kekeuh dengan keinginannya. Segala macam permainan mereka coba. Siapa yang paling senang di sini? Tentu Agni, daripada belanja yang sangat lama ia lebih suka bermain di sini.
Sivia mulai bisa tersenyum, Ify melihatnya. Raut sedihnya sudah berganti dengan rasa senang. Senyum Sivia tertular padanya, namun hanya sebentar. Karena tiba-tiba rasa pusing dan perut melilit menyerang tubuhnya.
"Fy, lo mimisan," pekik Shilla menunjuk hidung yang berdarah, belum sempat melihat, tiba-tiba Ify kehilangan fungsi telinganya. Matanya menggelap, Ify jatuh pingsan.
"IFY!"