Rio menaikkan selimut Ify sampai sebatas dagu. Efek obat yang diminum kekasihnya beberapa waktu yang lalu, membuat rasa kantuk menyerang hingga membuat Ify tertidur lelap seperti sekarang.
Rio beranjak, keluar dari istana tidur sang kekasih.
Hari masih siang, seharusnya mereka masih belajar di dalam kelas. Namun, karena Ify mengeluh pusing tadi, Rio memilih untuk mengantarnya pulang saja.
Guru yang mengajar pun berpendapat sama, daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada anak didiknya, beliau mempersilahkan agar Ify pulang saja.
"Loh Rio, kamu sudah pulang?"
Mama yang baru tiba dari kampus mengernyit bingung saat melihat pacar dari anaknya baru saja menuruni tangga. Rio langsung mendekat, mencium punggung tangan mama.
"Ify ngeluh pusing tadi, Tan, makanya Rio bawa pulang."
"Tapi dia gak papa kan?"
"Gak papa, sekarang Ify lagi tidur, sudah makan juga."
Mama mengembuskan napas lega, Rio memang bisa diandalkan untuk menjaga Ify.
"Ya udah mending kita makan dulu, kamu pasti juga belum makan 'kan?"
"Tadi makan sisa Ify sih, Tan, tapi masih lapar hehe," Mama tertawa, menuntun remaja itu ke arah ruang makan. Di meja sudah tersedia berbagai macam makanan hasil olahan bibi.
***
Ify bersikukuh pada keinginannya yang tetap mau berangkat ke sekolah. Padahal, air mukanya sudah pucat pasi. Dan Iyel pun meyakini jika adiknya itu pasti merasa lemas. Pegang sendok saja tangannya gemetar, namun, Ify tetap memasang wajah biasa saja. Seolah merasa sehat, padahal persendiannya sudah terasa nyeri.
"Kamu kok ngeyel banget sih dek dibilanginnya."
"Abang, Ify tetep mau sekolah. Ify hari ini ada ulangan, Ify gak mau ulangan susulan." Ify merengek, bundanya hanya menghela nafas pasrah. Iyel mengusap rambutnya frustasi, tak mengerti dengan jalan fikiran adiknya itu.
"Oke kamu boleh ke sekolah, tapi ingat jangan membantah apa yang diucapkan abang kamu maupun kak Rio, karna Papa percaya sama mereka."
Ify mengangguk, meski tak terlihat sehat ia tetap menampilkan senyumnya. Menatap papa penuh memuja.
"Oke papa, Ify akan nurut sama mereka."
"Yakin nurut? Kemaren aja ngambek karena disuruh makan bubur." bibir Ify mengerucut, sebal mendengarkan ucapan Iyel. Ya, kemarin beda lah sama sekarang.
Bubur, adalah makanan yang paling ia hindari. Entahlah, meski lembut tetapi ia seolah susah untuk mencernanya. Gak bisa dikunyah, gak bisa dinikmati.
Dulu pernah Ify liburan bersama Rio ke rumah nenek dan kakek cowok itu.
Karena terlalu senang dengan kedatangan sang cucu juga pacarnya, oma menyambut mereka dengan makanan bubur Manado, bubur khas kota mereka. Meskipun rasanya berbeda, tetapi Ify tetap tidak bisa mencernanya, alhasil ia tak memakan habis bubur yang bernama tinutuan itu. Membuat oma merasa sedih juga bersalah, Ify jadi tidak enak. Sampai sekarang, ia sungkan jika diajak liburan ke sana. Ah Ify jadi merindukan oma.
***
Pangeran bucin sudah menunggu tuan putrinya di parkiran sekolah. Dengan gagah Rio duduk di atas motor, ia sengaja tak menjemput Ify, karena pacarnya bilang akan berangkat bersama sang abang.
"Wih tumben bawa motor?" Cakka yang datang bersama Alvin berseru heboh. Berbanding terbalik dengan pemuda yang berjalan di sampingnya. Muka Alvin terlihat lesu tak bersemangat untuk belajar hari ini.
Rio menatap Cakka, memberi kode ada apa dengan sahabatnya yang satu itu.
"Biasa, berantem sama si bakpao."
Ia mengangkat alis, tidak yakin. Pasalnya Alvin dan Sivia bukanlah orang yang suka bertengkar tidak jelas. Sivia yang tidak pernah membesarkan suatu masalah, juga Alvin yang berpemikiran dewasa membuat hubungan mereka adem ayem tanpa halangan suatu apapun.
"Salah gue sih sebenarnya." Cakka menggaruk tengkuk, merasa salah tingkah di hadapan kedua sahabatnya. Bingung mau bercerita dari mana.
Akhirnya ia menceritakan awal mula pertengkaran Alvin dengan Sivia. Yang dipicu olehnya juga Shilla. Mereka yang lebih dulu bertengkar, Cakka yang mengajak Alvin nongkrong lebih dulu di kantin belakang sekolah, lupa jika kekasih mereka akan pulang bersama. Hampir dua jam kedua cewek itu menunggu, hingga akhirnya memilih untuk naik grab. Tak berniat menghubungi, mereka sengaja. Akankah kedua cowok itu peka. Nyatanya tidak, keduanya malah asyik dengan bermain game mengandalkan waifay sekolah.
"Ya gitu deh, mereka berdua marah sampai sekarang. Shilla sih masih ngomel aja dan marah. Tapi lo tahu sendiri 'kan? Sivia meski cerewet tapi kalau marah, jadi pendiem banget."
Alvin masih cemas juga takut, takut jika Sivia akan mengakhiri hubungan mereka lagi seperti dulu, kejadian yang selalu mampir di ingatannya. Membuat Alvin selalu berpikir lebih lagi jika ingin menyakiti Sivia.
Dulu memang kesalahannya, selalu mengabaikan gadis itu. Hingga Sivia lelah berjuang dan meninggalkannya. Mereka pacaran, namun tak ada tindakan tertentu yang Alvin layak lakukan sebagai kejelasan hubungan.
Alvin terlalu cuek, juga kasar. Apalagi ditambah ia yang selalu gampang mendekati wanita lain. Memang layak disebut player sejati.
Ia mulai merubah kebiasaan itu, nyatanya hanya Sivia yang mampu mengendalikannya. Saat gadis itu memutuskan hubungan mereka dan menjaga jarak, Alvin nampak tersiksa.
"Udah gak papa, bujuk lagi siapa tahu Sivia gak marah lagi. Nanti gue bilangin Ify buat bantu lo." Rio menepuk pundak sahabatnya, Alvin kalau lagi cemas tak beda jauh dari dia, emosi tak terkontrol.
"Kak Rio," Wanitanya tiba, keluar dari mobil bagian penumpang milik Gabriel. Diikuti Agni juga abangnya.
"Udah sehat?" Ify mengangguk, badannya lemas perlahan mulai membaik. Mario memang memberikan energi kuat pada tubuhnya. Mungkin Ify sudah terkena virus bucin sang kekasih, tetapi tidak apa, selagi masih Rio yang ia bucinkan, Ify rela.
Kali ini mereka memilih untuk menjalankan aksi solidaritas sebagai sahabat, menemani Sivia untuk menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas. Mereka bertiga tahu, bahwa gadis ini masih tidak mau bertemu dengan Alvin.
Sivia kembali dibuat kecewa. Bukan hanya lupa menjemput, Alvin juga melupakan janjinya untuk jalan yang seminggu lalu ia lupakan. Ini sudah ketiga kalinya acara mereka batal. Sivia merasa jika Alvin telah kembali ke sifatnya yang dulu. Sifat yang tidak ia sukai.
Ia juga belum membuka suara ataupun curhat kepada sahabatnya. Beruntung sekali mereka pengertian, tak bertanya ataupun mencoba membujuknya. Hanya menemani sesekali menggosipkan sesuatu.
Ify masih menikmati hasil masakan mama yang ia jadikan bekal hari ini, meski sedih dengan sang sahabat, ia harus tetap makan dan meminum obatnya. Ify bertekad untuk bisa sembuh, dan hidup lebih lama lagi.
"Enak juga istirahat di kelas," Agni berkomentar. Pacar Gabriel itu berbaring di atas meja miliknya seraya memainkan ponsel. Membalas pesan pacarnya.
"Ag, bilangin abang, minum gue habis."
"Pacar gue mulu, minta pacar sendiri dong," keluhnya hanya bercanda tentu saja.
Ify merengut, "pacar lo itu abang gue loh."
"Pacar gue itu abang Deva, gak usah ngaku-ngaku."
Ify itu tiga bersaudara, ia menjadi anak kedua. Memiliki satu adik yang kapasitas otaknya melebihi kedua kakaknya. Deva, seorang remaja SMP yang memilih untuk bersekolah di Bandung ikut tante mereka. Tante tidak memiliki anak, suaminya meninggal dua tahun lalu. Akhirnya Deva mengalah dan tinggal di sana.
"Eh, gue juga dong, Ag, bilangin Bang Gabriel suruh kak Cakka beliin makanan. Lo juga gak, Vi?"
Sivia menggeleng enggan membuka suara. Sebenarnya ia tidak enak dengan ketiga sahabatnya. Hanya untuk menemani dia, mereka rela tidak pergi ke kantin bertemu pacar masing-masing.
"Yang," Ify menoleh ke arah pintu kelas, begitupun Shilla dan Agni. Sedangkan Sivia memilih menunduk di meja. Enggan membuka mata.
Alvin berdiam di sana. Bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia mendekat mengelus rambut Sivia yang masih menunduk.
"Yang," panggilnya lagi, panggilan itu berhasil membuat Sivia berkutik, kemudian merubah posisi kepalanya enggan menatap Alvin.
"Ikut aku yuk," Sivia masih bergeming.
"Yang maaf ...."
"Yang ...."
"Bebi, honey, sweety,"
"Ck, brisik," Sivia menyentak tangan Alvin yang berada di kepalanya.
Sadar akan posisi, Agni beserta yang lain keluar dari kelas. Memberikan sebuah privasi untuk pasangan tersebut.
"Maafin aku, ya, aku benar-benar lupa, maaf."
Badan Sivia bergetar, ia kembali dibuat lelah dengan suasana ini. Setetes air mata sukses meluncur dan berhasil ia seka. Akhirnya, ia mengangkat kepala. Menatap Alvin yang menampilkan raut wajah penuh rasa bersalah.
"Kakak belum berubah, tiga kali acara kita tertunda. Tiga kali, harusnya Kakak masih ingat, tetapi alasan lupa yang terakhir buat aku berpikir jika acara ini memang tidak terlalu penting buat Kak Alvin. Memang apalah hanya kencan sama aku, mungkin Kakak bosan, aku yang banyak makan, aku yang cerewet, aku buat malu Kakak. Harusnya Kakak bilang kalau Kakak udah bosan."
Cowok di depannya menggeleng, berusaha menggenggam tangan Sivia tetapi, gadis itu menghindar. Tangannya kembali ingin, menghapus air mata itu, tetapi tangan Sivia menyentaknya.
"Kita emang perlu waktu buat sendiri," putus Sivia final. Alvin menggeleng, ia tidak mau. Bayangan jauh dari Sivia membuatnya tidak sanggup.
"Jangan temuin aku dulu. Kita introspeksi diri masing-masing. Memang mungkin aku juga terlalu kekanak-kanakan di sini. Terlalu memaksakan kehendak, banyak maunya."
Gadis itu pergi sebelum Alvin berhasil menahannya.
Brak!
Alvin mendorong kursi milik Ify, kemudian memukul meja. Emosinya tidak terkontrol.
"Sivia!"