"Makan," titah Rio menunjuk nasi bungkus yang masih tersisa satu, milik Ify. Kini kedelapan orang tersebut menikmati makannya di kelas Ify, dengan nasi bungkus yang dibawakan Cakka dan Alvin tadi.
Gadis itu menggeleng. Tak selera makan ketika melirik lauknya. Ayam goreng dengan sambal masakan Mak Rahmah, ibu Dayat.
"Gak ah kenyang," dusta Ify, perutnya mendadak mual melihat lauk ayam. Apalagi tadi ia habis menikmati makanan milik Nova yang lauknya sama, ayam.
Mario mengulurkan suapan kepada Ify, kali ini tak menggunakan sendok, langsung dengan tangan.
Ify menggeleng kuat-kuat menutup mulutnya.
"Kamu harus minum obat, makan!"
Matanya menatap sang abang meminta pertolongan. Hingga Gabriel tersentak seakan mengingat sesuatu. Waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi. Tak peduli dengan nasi bungkusnya, ia memilih meninggalkan ruang kelas adiknya, membuat Ify mencebik merasa dihiraukan.
"Abang," Ify berteriak sebal. Saat mulut itu terbuka, Rio menjadikan kesempatan untuk menyuap Ify.
"Telan!" hardiknya melotot. Susah payah Ify menelan suapan sang kekasih. Menggapai botol air milik Sivia, berusaha menelan tanpa mengunyah.
"Ih," Rio tersenyum penuh kemenangan, saat akan menyuapi Ify lagi, Gabriel kembali dengan kotak nasi di tangannya.
"Abang lupa, ini tadi dibawakan bekal."
Ify dengan senang hati membuka bekal yang disiapkan sang mama, meski sibuk mama selalu memperhatikan keluarga. Membuat Ify ingin seperti itu pula.
Mukanya berganti sumringah kala melihat nasi dengan orek tempe kesukaannya. Ia mengulurkan kotak bekalnya ke arah Rio.
"Suapin ini aja." Rio mengangguk, tak menolak titah Ify, dengan senang hati mengulurkan suapan tangannya untuk sang kekasih.
"Manja banget sih lo!" Shilla mendorong kening Ify pelan. Ify balas mengeluarkan lidah.
"Iri bilang bos!"
***
Keduanya menikmati waktu di teras rumah milik Ify. Sekarang Rio lebih suka menghabiskan waktunya bersama Ify di rumah, ia takut jika mereka jalan-jalan akan membuat Ify lelah dan berdampak pada penyakitnya yang semakin parah.
"Kapan kamu mulai kemo?" Tangan Ify berhenti mengusap rambut Rio yang berada di pangkuannya. Pandangannya menerawang ke depan, entah ada hal menarik apa di sana.
"Aku gak mau kemo."
Rio beranjak mendudukkan tubuhnya, lalu memeluk Ify dari samping.
"Kamu gak mau sembuh?"
"Siapa yang gak mau sembuh sih, Kak, pasti mau lah. Tapi aku gak mau kemo."
"Kalau gak kemo, gimana kamu bisa menjalani semua pengobatan, Fy."
"Papa udah cari pengobatan tradisional kok."
Ify menatap Rio, menangkup kedua pipi kekasihnya. Mata mereka bertemu pandang, saling menguapkan apa yang sedang ada dalam pikiran mereka masing-masing. Ify bisa melihat ketakutan itu, ketakutan Mario ketika menatapnya.
"Jangan takut, aku akan berusaha untuk sembuh."
Rio balik menangkup pipi Ify, menatap dalam manik mata gadisnya.
"Janji sama aku, kamu harus sembuh."
"Aku gak bisa janji, tapi aku akan berusaha. Asal Kakak mau menemani aku."
Mario mengangguk, tanpa meminta ia akan tetap berada di samping kekasihnya, menemani masa tersulit Ify. Ia juga rela jika rasa sakit Ify berpindah padanya.
Dibawanya tubuh ringkih itu dalam pelukan hangat. Entah bagaimana Ify bisa membuat Rio jatuh sedalam ini. Perjuangannya untuk mendapatkan gadis ini tak bisa dikatakan mulus. Apalagi dengan adanya Gabriel, yang selalu menghalangi ia untuk berjuang. Cowok itu masih tak rela jika berbagi Ify dengan orang lain.
"Gue cukup minta restu om Fahri, gak perlu minta restu elu," ucap Mario kala Gabriel dengan tegas menolak kedatangannya di rumah dalam rangka meminta restu.
Pria itu mendorongnya, kemudian menemui papa dan mama yang asyik berduaan di ruang keluarga. Menyalami mereka, dan tanpa basa-basi mengutarakan maksudnya.
"Saya mau menjalin hubungan sama anak gadis Om, boleh 'kan?" Seketika pelukan mama dan papa terlepas, ada anak kelas tiga SMP dengan tegasnya datang ke rumah meminta restu untuk pacaran sudah seperti melamar.
"Telpon ayahmu, Om mau bicara." Dengan takut Rio mengeluarkan ponselnya, mendial nomor sang ayah. Bersiap dengan kemungkinan terburuk. Telponnya langsung diangkat oleh Hamka, dengan gesit ayah Ify langsung memulai pembicaraan yang membuatnya menganga tak percaya.
"Halo, Besan, ini anak kamu minta jadi pacar anak saya? Bagaimana?"
Sampai akhirnya pembicaraan mereka berakhir, papa menatap Rio dalam.
"Oke, Om restui kamu, tetapi keputusan tetap di tangan Ify."
Rio tertawa pelan mengingat saat-saat tersebut. Tak menyangka mereka telah melewati tiga tahun ini sebagai sepasang kekasih.
Ify menatap heran Rio, memiringkan tubuhnya untuk lebih jelas membingkai wajah pacarnya. Senyum-senyum sendiri, membuat Ify merinding.
"Heh, Kakak gak gila 'kan?"
Rio terkesiap, kembali memeluk Ify. Mencium puncak gadis itu bertubi-tubi.
"Love you, sayang kamu banget." Rio bucinnya keluar.