Sepertinya hari ini Ify harus memberikan hadiah kepada Rio. Berkat kekasihnya itu, ia tidak mengikuti teman-temannya untuk remedial fisika. Mempunyai pacar pintar, memang harus dimanfaatkan. Semalam, Rio rela datang ke rumahnya hanya untuk membantunya belajar. Tak hanya belajar tentu saja, ia juga ingin memastikan sang kekasih dalam keadaan baik-baik saja.
"Kak Dayat." Ify memanggil kakak kelasnya yang baru keluar dari ruang kelas. Ia menutup mulutnya dan terkikik geli, kala cowok yang ia panggil itu mengisyaratkan untuk diam.
"Kak Rio mana?" Ify bertanya seraya menatap pintu kelas pacarnya bersama Alvin dan Gabriel tertutup rapat.
"Remedial?" Mata Ify membulat tidak percaya. Rio remedial? Ify tak pernah mendengar itu sebelumnya. Kalau yang ia dengar Gabriel remedial? Ify tak akan heran. Tetapi, ini Mario loh, kekasihnya.
"Ulangan apa?"
"Matematika. Dan lo tahu? Mario sama sekali gak belajar. Bukannya bawa buku matematika dia malah bawa buku kimia. Padahal kimia masih besok. Sinting emang otaknya, gak lihat jadwal kali, ya."
"Heh, orang yang Kakak hujat tuh, pacarnya ada di depan Kakak loh," Dayat tertawa, menangkupkan tangan di depan d**a seraya membungkuk. Isyarat meminta maaf pada Ify.
"Lo cocok masuk SLB, Kak, dari tadi bahasa isyarat mulu," celetuk Ify, keduanya kembali tertawa. Hingga guru yang berjaga keluar dan menegur mereka. Hal itu digunakan Ify untuk berkesempatan melirik kekasihnya, memberi semangat dengan kepalan tangan. Rio yang melihat tersenyum seraya menggelengkan kepala, kembali mengerjakan tugasnya.
"Ke kantin aja, Fy, Alvin ada di sana," usul Dayat yang diangguki Ify. Mau kemana lagi emang? Sahabatnya masih pada ulangan.
Keduanya berpisah karena Dayat harus membantu ibunya yang jualan di salah satu stand kantin. Ify sangat kagum dengan kakak kelasnya yang satu itu, mereka dipertemukan saat Gabriel mengajak Ify ke rumah Dayat untuk kerja kelompok. Saat itu ia melihat Dayat membantu ibunya menjaga warung. Dayat sangat rajin dan pintar, ia sering rebutan untuk menjadi juara kelas dengan pacarnya.
"Fy," Ify melihat lambaian tangan Cakka. Belum sempat melangkahkan kaki, ia terpelanting ke depan dan hampir saja jatuh terjerembab ke lantai. Beruntung Ify bisa menguasai diri, menatap tajam biang yang mengucapkan sori dengan kata kemenangan.
"Lo," Ify menunjuk tajam Zevana yang menatap angkuh ke arahnya.
"Gue gak sengaja sori."
Ify meraih salah satu es teh milik siswa di atas meja. Dengan sengaja ia mengguyurkan air manis itu ke arah seragam Zevana.
"Ups maaf, Kak, gak sengaja." Ify menatap Zevana penuh sesal yang dibuat-buat.
Zevana meradang, ia hendak melayangkan tamparan pada wajah adik kelasnya. Namun, belum sempat tamparan itu mendarat, sebuah tangan lebih dulu menghempasnya.
"Lo, jangan pernah sentuh cewek gue." Tatapan Rio begitu tajam menusuk. Zevana menelan ludah susah payah.
"Kak ...." Ify menyadarkan Rio dengan memegang lengannya. Ia takut kekasihnya itu kalap dan balik mengamuk Zevana.
"Aku lapar dan harus minum obat. Ayok." Bagai tersadar dengan ucapan Ify segera membawa gadis itu mendekat pada kedua sahabatnya. Setelah sebelumnya memperingati Zevana.
"Lo! Berani macam-macam sama Ify. Habis di tangan gue."
"Kak Cakka gak remedi emang?" tanya Ify kala mereka sudah duduk berhadapan dengan Alvin dan Cakka. Belum ada makanan di depan mereka, kedua orang itu belum memesan. Masih menunggu pacar yang belum juga datang.
"Gue gak ada ulangan, Fy," Cakka memang tak sekelas dengan ketiga temannya. Cowok itu memilih jurusan IPS, yang katanya lebih santai. Padahal otak Cakka termasuk pintar masalah biologi ataupun fisika loh, dia bisa mengambil jurusan IPA seperti Alvin dan Rio. Jika dibandingkan Gabriel, Cakka masih di atasnya. Pacar Shilla ini, juga sering ditunjuk guru untuk mengikuti olimpiade geografi.
Alvin mengisyaratkan agar mereka mengatakan apa yang ingin dimakan.
"Bubur aja, Vin," Rio menjawab yang dibalas delikan Ify.
"Aku mau seblak."
"Gak ada, kamu masih sakit harus minum obat. Bubur aja."
"Seblak, Kak Rio. Ify mau seblak." Ify masih enggan menurut. Menatap Rio dengan iba. Bubur bukan makanan yang tepat untuk lidahnya.
Rio menghembuskan napasnya.
"Masih mau seblak?" Ify mengangguk keras. Senang kala Rio menuruti ucapannya.
"Silahkan." Rio beranjak, malas dengan tingkah Ify yang tidak bisa diperhatikan. Niatnya baik, tetapi Ify menolak. Dia bisa apa.
"Lo bangunin macan tidur, Fy," celetuk Cakka. Ify gelisah memilih untuk menyusul Rio yang berjalan meninggalkan kantin.
"Cewek emang ribet." Alvin menyenggol bahu Cakka.
"Gue bilangin Shilla loh."
"Eh jangan dong," Cakka panik, bisa habis dia di tangan sang kekasih.
"Udah sana lo pesen. Nasi ayam aja di warungnya Dayat, delapan bungkus. Kita makan di kelas."
"Lo gih," Cakka enggan beranjak. Namun, kemudian berdiri juga seraya mengumpat kala Alvin mengancamnya.
"Kak Rio," Ify memasuki ruang kelas XII IPA 4, bibirnya mengerucut kala melihat Rio mengobrol dengan gadis berjilbab yang begitu anggun, Nova. Gadis cantik yang selalu membuat Ify cemburu buta. Apalagi kakak kelasnya yang satu ini sering satu kelompok dengan Mario. Dibanding Dea, Nova lebih bisa disebut sebagai saingan yang sebenarnya.
Ify masih menatap seraya mendengar percakapan dua orang tersebut.
"Nov, kamu suka seblak?" tanya Rio iseng, tak peduli dengan muka Ify yang memerah menahan marah dan cemburu.
"Gak, Yo, pedas. Lagian seblak juga gak sehat."
"Wahh bener banget, sayang tubuh banget kamu, Nov, idaman." Nova menunduk malu, tidak pernah berada di situasi seperti ini. Gadis itu sepertinya juga tak menyadari kedatangan Ify di kelasnya.
"Ke kantin aja yuk. Kita makan di sana."
"Gak usah, Yo, aku bawa bekal kok. Kamu mau?" Ia mengeluarkan kotak makan dari lorong meja, dan membukanya. Nasi dengan sepotong paha ayam bumbu kecap tersaji di depan mata keduanya.
Ify menggerutu, hanya ayam Ify juga bisa masak begitu. Hanya memasak tentu saja, karena Ify tak begitu menyukai daging ayam.
Ia lebih memilih makan mie daripada ayam yang dimasak sang mama, mungkin itulah yang menyebabnya menderita sakit seperti saat ini. Dan Ify menyesal. Apalagi saat meminta seblak pada Rio tadi.
Ify berbalik badan kala ada yang menepuk bahunya, mendapati sang abang yang menatap penuh tanya. Ify mengerucutkan bibir.
"Kak Rio jahat, Abang." Ify menunjuk Rio yang menikmati makanan Nova. Perutnya mengoar minta diisi, kasihan sekali gadis itu, bekalnya akan dihabiskan oleh temannya. Meski makan, Rio masih mendengar ucapan kekasihnya.
"Gak ada asap, kalo gak ada api," celetuknya masih menikmati makanan Nova. Tak menawari sang pemilik, Rio memang tidak ada akhlak.
Saat mendengar suara Ify, saat itulah Nova tahu jika ada pacar Mario di sana. Dengan sungkan ia menjauh, terlalu takut dengan Ify yang suka menerjang siapapun yang mencari masalah dengannya, tak peduli kakak kelas atau bukan.
"Maaf, Fy, permisi."
"Dasar jahat." Ify masih memukuli Rio, namun tak menolak kala sang kekasih menyuapinya makanan hasil menjerat Nova. Pasangan yang tidak punya hati.
Melihat itu Gabriel menghembuskan napas lelah, lelah otak juga lelah perasaan melihat kelakuan adik dan sahabatnya. Ia butuh nutrisi.
Meski di balik itu semua, Gabriel menyimpan senyum. Berharap hal-hal seperti itu mampu menumbuhkan rasa saling menguatkan antara Ify dan Rio.