Yusti yang berdiri di pintu menggendong Salsa nampak memperhatikan aku duduk dan Asniar berdiri diam.
"Apa yang mereka lakukan di sana, tak terdengar prmbicaraan dari mereka." Gumam Yusti sambil memicingkan matanya.
"Mama, om Dey itu dengan siapa !?" Tanya Salsa terdengar.
"Om Dey sama tante Niar lagi mengusir hantu." Jawab Yusti sambil menekan kepala Salsa di bahunya.
"Itu tante cantik sama om Dey, mama !?" Ucap Salsa sambil memajukan bibirnya menatap Yusti.
"Iya tante Niar memang cantik, nak !?" Ucap Yusti.
"Huu uuu mama bukan, itu tante cantik sama om Dey sama tante Nial." Ucap Salsa sambil menyubit pipi Yusti.
"Iiih apaan nih Salsa jangan ngaco, ah !?" Ucap Yusti sambil menepuk p****t Salsa.
Salsa merontah dan turun dari gendongan Yusti lalu berlari mendekatiku dan Asniar.
"Om Dey... om Dey." Ucap Salsa bergayut di pundakku.
Aku lalu berdiri dan menggendong Salsa dan arwah Khairunnisa juga ikut berdiri lalu aku kembali bertanya padanya.
"Khairunnisa, katakan siapa nama pacarmu dan seperti apa ciri-cirinya !?" Tanyaku lanjut
"Namanya Murad... di tengkuknya ada tattoo bergambar cakar macan berwarna hitam." Ucap Khairunnisa.
"Baik aku tidak berjanji suatu saat bila bertemu dengannya, aku membalaskan dendammu... sekarang tenanglah kamu di alammu." Ucapku pada arwah Khairunnisa.
"Aku minta tolong padamu Dey agar aku bisa tenang... galilah jasadku di bawah tumpukan ban dalam gudang itu dan kuburkanlah dengan layak ke dua temukanlah anakku dan pertemukanlah dengan mantan suamiku... semua keterangan tentang anak dan mantan suamiku ada di dalam lemari kayu di atas lantai tiga rumah ini...hiks hiiks" Ucap arwah itu seraya terisak kemudian perlahan menghilang.
"Tante cantik itu ilang, om Dey !?" Ucap Salsa yang berada dalam gendonganku.
Aku menghela nafas seraya menatap Asniar yang sejak tadi diam memperhatikan aku dan arwah Khairunnisa.
"Niar apa kamu mendengar apa kata arwah gentayangan tadi !?" Tanyaku sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku sama sekali tidak mendengarnya, kak." Jawab Asniar seraya menyusulku ke dalam rumahnya.
Setelah kami berada dalam rumah, Asniar dan Yusti duduk bersebelahan sementara Salsa tak ingin turun dari pangkuanku.
Sesaat kami terdiam saling memandang dan aku pun menceritakan semuanya pada Asniar, sementara Yusti mendengarkan apa yang aku ceritakan sesekali dia bergidik seraya mengelus kedua lengannya.
"Jadi arwah gentayangan itu pemilik rumah ini, tadi kak Dey bilang kalau Jasad Khairunnisa di kubur di dalam gudang !?" Tanya Asniar dengan alis bertaut seraya menopang pipinya.
"Iya arwah Khairunnisa sendiri yang mengatakannya tetang keterangan anak dan mantan suaminya semua ada di lemari kayu yang berada di lantai tiga rumah ini." Ucapku sambil memijat-mijat daguku.
"Kita harus memikirkan bagaimana caranya menggali jasad Khairunnisa yang terkubur di bawah lantai gudang itu." Sambungku sambil mengusap wajah dengan tanganku.
Yusti hanya diam mendengarkan wajahnya terliat pias dan pori-pori di kedua lengannya yang di tumbuhi bulu-bulu halus nampak terbuka. Semenrara Asniar sedang berpikir sesekali dia mengetuk-ngetuk kening dengan jari telunjuknya.
"Bagaimana dong kak jalan keluarnya, kasian arwah pemilik rumah ini bakal gentayangan terus bila kita tidak mengangkat jasadnya dan.menguburkannya dengan layak." Ujar Asniar dengan sorot mata sayu memandangku.
"Hhuuuff... Niar pada siapa kamu membayar biaya kost di rumah ini !?" Tanyaku sambil memicingkan mataku.
"Setiap tahun aku membayar pada ibu Nirmala." Jawab Asniar dengan dahi terlipat.
"Sebaiknya sampaikan padanya jika kita akan menggali jasad yang terkubur di dalam rumahnya, tapi sebelumnya buatlah laporan pada polisi jika perlu." Ujarku.
"Dengarkan... sebelumnya kita harus cari tahu dulu pada bu Nirmala tentang Murad pembunuh Khairunnisa... saya yakin beliau tahu di mana alamat Murad." Ucap Yusti menyela.
"Di sini bukan cuma kamu yang kost tapi masih ada empat orang lagi dan semuanya wanita, kita harus pikirkan juga tentang mereka." Ujar Yusti sambil.menatap Asniar.
Aku, Yusti dan Asniar sejenak saling bertatapan memikirkan cara untuk mengeluarkan jasad yang terkubur dalam garasi rumah kost yang ditinggali Asniar.
Selain rencana penggalian untuk mengangkat jasad Khairunnisa yang terkubur di bawah lantai garasi, Dey bertujuan menunjukkan sebuah rekaman vidio pada Yusti namun hal itu urung di perlihatkan mengingat kondisi Yusti berada dalam tekanan dan ketakutan. Malam semakin larut dan si kecil Salsa telah tertidur dalam buaianku akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakanku.
"Yus, setelah urusan kamu selesai di pengadilan segeralah pulang... ada hal yang ingin ku perlihatkan padamu mengenai keluarga Musdar." Ucapku seraya memegang lengan Yusti.
"Hal apa kiranya yang kak Dey ingin perlihatkan !?" Tanya Yusti sembari memajukan tubuhnya padaku.
"Hm... nantilah di rumah aku perlihatkan, okey !?" Jawabku sambil mendekap tubuhnya dalam pelukanku.
"Cup." Sebuah kecupan ku berikan di keningnya sembari mengangkat anak rambut yang menutupi wajahnya yang cantik.
"Aku pamit sayangku !?" Ucapku seraya memutar tubuhku dan melangkah menghampiri pintu.
Saat berada di teras rumah smartphonku bergetar tanda sebuah pesan masuk, aku lalu merogoh kantong celanaku mengeluarkan benda pipih itu dan membaca pesan yang di kirim bu Dyah.
"Om Dey cepat pulang, aku takut sendirian di rumah." Aku hanya tersenyum membaca pesan itu.
"CK,... Ada-ada saja bu guru ini, masa sendirian kan ada suaminya dan keluarga pak Ramos." Gumamku sambil berjalan ke arah motorku.
Belum jauh aku meninggalkan rumah Asniar, angin bertiup begitu kencang hingga menerbangkan debu-debu jalanan seiring kilat dan suara gemuruh guntur yang menggelegar. Titik hujan mulai turun membasahi ruas jalan yang kulalui aku hanya berhenti sejenak untuk mengamankan smartphonku dari hujan dan kembali memacu laju motorku menembus hujan yang tiba-tiba lebat dan tak ada tempat berteduh di sepanjang jalan yang kulalui alhasil aku basah kuyup hingga ke kontrakanku.
Tak menunggu lama setelah aku menutup dan mengunci gerbang, pintu kontrakan petak pertama terbuka memunculkan sosok bu Dyah yang berjalan menghampiriku.
"Om Dey ini kunci rumahnya !?" Ucapnya seraya menyerahkan anak kunci padaku.
"Oh iya bu, trims !?" Ucapku sambil memasukkan kunci dan membuka pintu rumahku.
Sapuan angin yang begitu kencang menyingkap ujung daster bu Dyah hingga terangkat sebatas pinggang menunjukkan lekuk tubuh bagian bawahnya yang terlihat putih tertutup kain segi tiga.
Aku kalu beranjak masuk ke rumahku di ikuti bu Dyah di belakangku hingga menghentikan langkahku.
"Bu guru kenapa ikut masuk !?" Tanyaku sembari mgernyitkan kedua alisku.
"Aku takut sendirian di rumah, om Dey mana hujan lagi." Ucapnya seraya menyilangkan kedua tangan di atas perutnya hingga menonjolkan ke dua gunung kembar miliknya.
"Lho kan pak guru ada pak Ramos dan istrinya juga ada di sebelah rumah ibu !?" Ucapku seraya berjalan masuk mencari handuk.
"Suamiku ke rumah sakit menemani keluarganya yang dari kampung sedangkan pak Ramos dan isttinya dari tadi tidak pulang, aku takut sendiri om Dey." Ujar bu Dyah semakin mengekang ke dua tangan di atas perutnya.
"Ini sudah larut malam bu, aku merasa tidak enak nanti pak guru tiba-tiba datang dan mendapati ibu sedang ada di sini." Ucapku sembari mengeluarkan smatrphone dari kantong jaketku kemudian melepas pakaianku yang basah tentunya di tempat yang terhalang dari bu Dyah.
"Tidak apa-apa jika aku tidur di sini saja om Dey." Ucap bu Dyah seraya membersihkan sofa usang yang ada di ruang depan.
"Baiklah kalau begitu, tapi bagaimana jika suami ibu tiba-tiba datang dan mendapati sedang tidur di sini !?" Ucapku sambil menjulurkan kepalaku menengok bu Dyah yang sudah mulai membaringkan tubuhnya.
"Tidak usah khawatir om Dey, mungkin menjelang siang baru dia pulang apalagi anak-anak sekolah sedang libur." Ujar bu Dyah mulai memejamkan matanya.
Aku cepat-cepat berganti pakaian lalu segera mengambil bantal dan selimut buat bu Dyah