Rumah Asniar teman Yusti tak jauh dari traffic light tempatku berada, akupun menyusup di sela-sela kendaraan lain setelah menyalakan sein kanan karena di jalur kiri warna hijau lampu traffic light sudah menyala. Beberapa saat menunggu akhirnya panah hijau menyala dan akupun melajukan motorku ke rumah Asniar teman Yusti.
"Assalamualaikum !?" Ucapku
"Om Dey !!?" Teriak Salsa berlari sembari merentangkan tangannya ingin memelukku.
Aku lalu berjongkok menyambutnya dalam pelukan, dengan gemas ku cium pipinya yang tembem.
"Om Dey, Caca takut... Caca mau puyang cini banyak hantu." Ucap Salsa sambil menutup mata dengan ke dua tangannya.
"Salsa takut sama hantu !?" Tanyaku seraya memegang ke dua lengannya.
"Hu u." Jawabnya sambil memajukan tubuhnya dan melingkarkan ke dua tangannya di leherku.
Yusti dan Asniar yang berdiri berdampingan di depan pintu, melihat interaksi Dey dan Salsa yang begitu akrab layaknya seorang ayah dan anak merasa takjub.
"Kelihatannya Salsa lebih dekat dengan kak Dey di banding ayahnya, ya !?" Tanya Asniar seraya melipat ke dua tangan di dadanya.
"Iya, mungkin karena kami bertetangga sudah cukup lama dengan kak Dey." Ujar Yusti dengan
senyum merekah dari bibirnya yang merah.
"Tadi saat Salsa menangis, dia bukannya merengek mencari ayahnya justru kak Dey lah yang di carinya." Ucap Asniar melihat keakraban Salsa dan Dey.
Yusti lalu melangkah mendekat sambil meraih Salsa dan menggendongnya namun anak itu merontah tak ingin melepaskan pelukannya di leherku.
"Caca tidak mau.. Caxa mau sama om Dey !!?" Ucap Salsa sambil meronta.
"Iya Salsa sama om Dey... om Dey tidak ke mana-mana, yuk kita ke dalam !?" Ucap Yusti melepaskan tangannya dari Salsa.
"Kak ayo kita ke dalam !?" Ajak Yusti sambil memutar tubuhnya lalu berjalan ke dalam rumah.
Aku pun berjalan mengikuti Yusti, dan langsung duduk di sofa ruang tamu bersama Salsa.
"Uhhm... Yus, apa tekad kamu sudah bulat... !?" Ucapku sengaja memotong kalimatku dan sesaat melirik ke arah Asniar.
"hm, iya kak... hal ini juga aku sudah ceritakan pada Asniar, tidak usah ragu untuk mengatakannya." Ucap Yusti menatapku.
"Kak Dey... kalau bersama aku dan Yusti tidak ada rahasia-rahasiaan, sejak kecil kami sudah bersahabat." Celetuk Asniar.
"Jika aku di posisi Yusti sudah pasti aku melakukan hal yang sama, tak perlu bersabar langsung saja aku tinggalkan... untuk apa kita hidup dengan suami yang lebih memperhatikan saudara dan ibunya yang tak ingin hidup kekurangan sementara istri di biarkan hidup dengan keterbatasan ekonomi." Ujar Asniar mencibir.
"Besok aku akan menemani Yusti ke pengadilan agama untuk mengajukan perceraian pada suaminya." Sambung Asniar sambil berdiri dan berjalan meninggalkan kami di ruang tamu.
Sejenak aku dan Yusti terdiam sepeninggal Asniar tiba-tiba Salsa menjerit sambil menutup matanya.
"Aaak hantu... hantu !!?" Ucapnya sambil menunujuk ke luar di halaman.
"Caca takut !!?" Sambungnya seraya melompat kepangkuanku dan membenamkan wajahnya di dadaku.
"Mana ada hantu, nak !?" Tanya Yusti sambil mengusap punggung Salsa.
"Itu !?" Ucapnya singkat sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
Aku yang melihat kondisi Salsa merasakan hal yang sama lalu menyerahkan Salsa pada ibunya dan segera berdiri.
"Salsa sama mama dulu ya, biar om mengusir hantunya !?" Ucapku seraya menenangkan dan mengusap keringat di keningnya.
Betul apa yang di lihat Salsa, saat aku berada di teras nampak sosok perempuan berbaju putih sedang duduk di atas dahan pohon yang tumbuh di luar halaman rumah Asniar.
Rumah Asniar teman Yusti tak jauh dari traffic light tempatku berada, akupun menyusup di sela-sela kendaraan lain setelah menyalakan sein kanan karena di jalur kiri warna hijau lampu traffic light sudah menyala. Beberapa saat menunggu akhirnya panah hijau menyala dan akupun melajukan motorku ke rumah Asniar teman Yusti.
"Assalamualaikum !?" Ucapku
"Om Dey !!?" Teriak Salsa berlari sembari merentangkan tangannya ingin memelukku.
Aku lalu berjongkok menyambutnya dalam pelukan, dengan gemas ku cium pipinya yang tembem.
"Om Dey, Caca takut... Caca mau puyang cini banyak hantu." Ucap Salsa sambil menutup mata dengan ke dua tangannya.
"Salsa takut sama hantu !?" Tanyaku seraya memegang ke dua lengannya.
"Hu u." Jawabnya sambil memajukan tubuhnya dan melingkarkan ke dua tangannya di leherku.
Yusti dan Asniar yang berdiri berdampingan di depan pintu, melihat interaksi Dey dan Salsa yang begitu akrab layaknya seorang ayah dan anak merasa takjub.
"Kelihatannya Salsa lebih dekat dengan kak Dey di banding ayahnya, ya !?" Tanya Asniar seraya melipat ke dua tangan di dadanya.
"Iya, mungkin karena kami bertetangga sudah cukup lama dengan kak Dey." Ujar Yusti dengan
senyum merekah dari bibirnya yang merah.
"Tadi saat Salsa menangis, dia bukannya merengek mencari ayahnya justru kak Dey lah yang di carinya." Ucap Asniar melihat keakraban Salsa dan Dey.
Yusti lalu melangkah mendekat sambil meraih Salsa dan menggendongnya namun anak itu merontah tak ingin melepaskan pelukannya di leherku.
"Caca tidak mau.. Caxa mau sama om Dey !!?" Ucap Salsa sambil meronta.
"Iya Salsa sama om Dey... om Dey tidak ke mana-mana, yuk kita ke dalam !?" Ucap Yusti melepaskan tangannya dari Salsa.
"Kak ayo kita ke dalam !?" Ajak Yusti sambil memutar tubuhnya lalu berjalan ke dalam rumah.
Aku pun berjalan mengikuti Yusti, dan langsung duduk di sofa ruang tamu bersama Salsa.
"Uhhm... Yus, apa tekad kamu sudah bulat... !?" Ucapku sengaja memotong kalimatku dan sesaat melirik ke arah Asniar.
"hm, iya kak... hal ini juga aku sudah ceritakan pada Asniar, tidak usah ragu untuk mengatakannya." Ucap Yusti menatapku.
"Kak Dey... kalau bersama aku dan Yusti tidak ada rahasia-rahasiaan, sejak kecil kami sudah bersahabat." Celetuk Asniar.
"Jika aku di posisi Yusti sudah pasti aku melakukan hal yang sama, tak perlu bersabar langsung saja aku tinggalkan... untuk apa kita hidup dengan suami yang lebih memperhatikan saudara dan ibunya yang tak ingin hidup kekurangan sementara istri di biarkan hidup dengan keterbatasan ekonomi." Ujar Asniar mencibir.
"Besok aku akan menemani Yusti ke pengadilan agama untuk mengajukan perceraian pada suaminya." Sambung Asniar sambil berdiri dan berjalan meninggalkan kami di ruang tamu.
Sejenak aku dan Yusti terdiam sepeninggal Asniar tiba-tiba Salsa menjerit sambil menutup matanya.
"Aaak hantu... hantu !!?" Ucapnya sambil menunujuk ke luar di halaman.
"Caca takut !!?" Sambungnya seraya melompat kepangkuanku dan membenamkan wajahnya di dadaku.
"Mana ada hantu, nak !?" Tanya Yusti sambil mengusap punggung Salsa.
"Itu !?" Ucapnya singkat sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
Aku yang melihat kondisi Salsa merasakan hal yang sama lalu menyerahkan Salsa pada ibunya dan segera berdiri.
"Salsa sama mama dulu ya, biar om mengusir hantunya !?" Ucapku seraya menenangkan dan mengusap keringat di keningnya.
Betul apa yang di lihat Salsa, saat aku berada di teras nampak sosok perempuan berbaju putih sedang duduk di atas dahan pohon yang tumbuh di luar halaman rumah Asniar.