Bias sinar jingga di atas bayang siluet menyambut datangnya sang dewi malam, di depan teras aku duduk menikmati secangkir kopi dan kretek favoritku sambil memeriksa aplikasi surel di smatphonku.
"hmm, aku standbye lagi... minggu ini kayaknya hanya kebagian dua site saja." Gumamku.
Tanpa aku sadari pak Ismail dan bu Dyah istrinya telah berdiri di sampingku, seperti biasa jika malam mereka hendak menonton acara favoritnya di televisi.
"Assalamualaikum, om Dey !?" Sapanya.
"Waalaikumsalam, eh pak guru dan bu guru." Ucapku seraya melihat ke arah mereka.
"Lagi asyik streaming rupanya sampai nggak tahu kita ada di sampingnya !?" Seloroh pak Ismail.
"Hee heheheee, tidak pak... ini saya lagi melihat emailku kali aja ada surat tugas dari kantor." Ucapku sambil memperlihatkan benda pipih yang ku pegang.
"Kalau begitu saya permisi mau nonton sinetron favoritku dulu, ya om Dey !?" Ucapnya sambil melangkah masuk ke ruang depan di rumahku.
"Silahkan saja pak guru, itu remot televisinya ada di atas meja !?" Ucapku seraya menunjuk benda persegi panjang berwarna hitam di atas meja.
"Om Dey sudah makan, ya !?" Tanya bu Dyah dengan mengedipkan satu matanya padaku sembari tersenyum.
"Belum bu guru, biasanya tengah malam aku baru merasa lapar." Ucapku melirik sesaat pada suaminya yang sedang menekan tombol remot mencari siaran televisi.
"Lho, bisa basi nanti supnya kalau tidak segera di makan atau jangan-jangan om Dey belum menanak nasi kebetulan di rumah masih ada... aku ambilkan, ya !?" Ucap bu Dyah sambil menggigit telunjuknya.
"Tidak usah bu, terima kasih... aku belum lapar koq !?" Ucapku seraya merentangkan tanganku sebagai isyarat melarangnya.
Di layar televisi telah nampak siaran yang di cari oleh pak Ismail, sementara bu Dyah masih berdiri di luar menemaniku
"Om Dey tadi sore itu kenapa, saya lihat saudaranya pak Musdar sedang marah-marah... dan kalau tidak salah dengar dia marah pada Yusti karena pergi, sementara Musdar sedang sakit !?" Ucap bu Dyah seraya menautkan ke dua alisnya.
"Yang aku tahu, tadi pagi sebelum aku keluar mereka memang teribat cekcok dan setelah aku pulang... rumah mereka sudah terkunci." Ucapku seraya mengangkat ke dua bahuku dan membuka ke dua tanganku.
"Ini juga saya berniat ingin ke rumah orang tua Musdar melihat kondisinya !?" Ucapku sambil berdiri dari kursi di teras kontrakanku.
"Pak guru, aku titip kunci rumah ya... aku hendak menjenguk Musdar di rumah orang tuanya !?" Ucapku pada pak Ismail yang sedang asyik menonton televisi.
Hanya berselang kurang dari lima belas menit menempuh perjalanan menggeber motor kesayanganku aku sudah sampai di rumah orang tua Musdar yang sepi dan cahaya di dalam rumahnya nampak remang dengan hanya satu mata lampu pijar menerangi ruang tamunya.
"Tok tok tok... Assalamualaikum !?" Sapaku sambil mengetuk pintu rumah orang tua Musdar.
Sejenak aku menunggu namun tak ada jawaban dari dalam, hingga aku beberapa kali mengetuk dan mengucap salam barulah sosok wanita paruh baya yang ku kenal muncul dari dalam dan membukakan pintu.
"Assalamualaikum, bagaimana keadaan Musdar bu !?" Sapaku pada wanita paruh baya yang berdiri di hadapanku dengan hanya mengenakan sarung sebatas dadanya dan menanyakan tentang Musdar.
"Dia lagi sakit !!?" Ucapnya ketus menatapku tanpa ekspresi senang.
"Bisa saya melihat kondisinya !?" Ucapku seraya mengalihkan pandanganku pada sosok bayangan hitam yang berdiri di lorong depan sebuah kamar.
"Dia di lantai dua." Ucapnya sambil menengok ke belakang.
"Aku ke atas ya, bu... permisi !?" Ucapku melangkah masuk namun pandanganku tetap tertuju pada sosok hitam bertubuh tinggi besar yang perlahan menyusup masuk menembus ke dalam kamar.
"Hm... aku kira manusia, ternyata mahluk halus." Gumamku sambil memicingkan mata.
Aku berpura-pura tidak melihat sosok menyeramkan itu dan tetap menapak anak tangga hingga ke lantai dua yang terdapat dua kamar dan perlahan membuka pintu kamar yang biasa di tempati Musdar.
"Astagfirullah... !!?" Ucapku tersentak melihat pemandangan di depanku.
Musdalifah kakak Musdar tanpa menyadari aku telah membuka pintu kamarnya, sedang berdiri menari meliuk liukkan tubuhnya tanpa sehelai benang menutupinya. Suara desahan nafas terdengar ke luar dari bibirnya yang menghitam, ke dua tangannya menarik narik buah ceri di ujung payudaranya yang juga perlahan menghitam seiring desahannya berubah suara lengkingan.
"KYIAAA KYIAA KYIAAA...
Aku tak ingin berlama-lama berada di dalam kamar Musdalifah lalu segera ke luar tanpa menutup rapat pintu kamarnya dan segera menuju kamar di sebelahnya.
"Tok... tok... cklek." Suara ketukan dan pintu terbuka.
Kembali aku terperangah melihat kondisi Musdar yang terbaring laksana mayat, wajahnya pucat dengan mata terbelalak sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
"Musdar... Musdar... kamu kenapa !?" Tanyaku sambil menepuk-nepuk bibirnya.
"HMM..GRRRRRKH... PERGI KAU GRRRRKH." Ucapnya dengan seringai menggeram.
"Sadarlah Musdar, aku akan menolongmu !?" Ucapku seraya menindis jidatnya.
"PERGI AKU TIDAK APA-APA GRRRRKH !!?" Hardiknya sambil menghempaskan tanganku.
Dengan rasa panik melihat keadaan Musdar, terlintas di pikiranku hanya ibunya yang bisa membantu karena Musdalifah sendiri larut dalam kegilaannya.
"Sebaiknya hal ini kuberitahukan pada ibunya Musdar." Gumamku seraya ke luar dari kamar Musdar.
Namun langkahku terhenti saat sampai di depan pintu kamar Musdalifah yang tak tertutup rapat seperti saat membukanya tadi, suara desahan nafas yang memburu dari Musdslifah dan suara geraman binatang buas terdengar jelas. Aku lalu mengintip dari celah pintu, nampak tubuh Musdalifah tidur mengangkang di tindih sosok tubuh besar di tumbu bulu-bulu hitam yang panjang sedang memaju mundurkan pinggangnya di s**********n Musdalidah.
"Astagfirullah sosok mahluk apa yang bersetubuh dengan Musdalifah !?" Gumamku sambil perlahan mundur lalu turun ke lantai satu.
Sementara di lantai satu pemandangan yang ku dapati tak kalah menyeramkan, niat untuk menolong Musdar menjadi pias saat melihat ibunya dengan binal melayani dua sosok bertubuh hitam besar sekaligus.
"Ouuugh...ummmck."
"grrrrrgh."
Satu sosok bertumpu dengan lututnya di depan ibu Musdar, wajahnya terlihat hitam dengan mata yang merah menyala serta nampak dua gigi taring yang runcing tersembul dari bibirnya yang hitam.
"Sebaiknya aku rekam saja kegilaan ini." Gumamku seraya mengeluarkan smartphonku dan merekam dalam vidio ke tiga mahluk beda alam itu.
Tak ingin mengambil resiko pada diriku, akupun bergegas mundur lalu ke luar dan pergi dari rumah itu.
"Ibu dan anak sama-sama gila, aku harus cepat meninggalkan rumah ini." Gumamku membayangkan apa yang kulihat tadi.
"Mungkin hal ini juga diketahui Yusti, hingga selama ini lebih memilih kost di banding tinggal di rumah mertuanya." Gumamku sambil memacu motorku lebih kencang lagi.
Saat di persimpangan jalan di sebuah traffic light aku menghentikan laju motorku, entah kenapa pikiranku tiba-tiba tertuju pada Yusti dan Salsa hingga aku berinisiatif mendatangi rumah teman di mana ibu dan anak itu sekarang berada.