GODAAN BU DYAH DAN PESAN DARI YUSTI

1058 Kata
Irvan yang mendengar perkataanku merasa terpukul dan syok, bertubu-tubi musibah menipanya di satu sisi istri, ibu dan anak bungsunya tenggelam bersama kapal yang di tumpanginya di sisi lain anak sulungnya tergolek sakit terkena anak panah di pahanya yang membutuhkan pengawasan dan perhatian darinya serta biaya pengobatannya. "Irvan pakai ini untuk biaya pengobatan anakmu itu, dan kamu harus segera ke rumah sakit yang di tetapkan sebagai posko korban kapal tenggelam dan laporlah ke bagian DVI tentang keluargamu yang ikut sebagai penumpang di kapal itu, berikan data antemortem agar lebih memudahkan pihak kepolisian melakukan identifikasi bila jenasah keluargamu di temukan." Ucapku sambil menepuk bahunya. "Dan ingat pesanku tadi tentang anakmu ini !?" Ucapku sambil bersiap-siap pamit pada Irvan. "Dok, jika takdir menghendaki ada dua lagi teman si Madi ini yang akan berobat... satu seusia si Madi ini ke dua tangannya juga patah dan satu lagi mungkin usianya lebih dewasa dari si Madi orangnya tinggi besar potongan rambut seperti tentara... nah kalau itu lebih parah lagi selain kaki, lutut dan tangannya patah, jidatnya juga robek menganga, okey !?" Ucapku tanpa ragu pada dokter itu. Setelah itu akupun pamit pada Irvan dan dokter itu, aku melangkah ke luar dari ruangan itu dan segera menggeber motor RXking ke sayangku di jalan raya yang padat oleh kendaraan dan hanya butuh beberapa menit akupun tiba di kontrakanku. "Hm, rupanya pak guru sudah lebih dulu pulang." Gumamku melihat pintu rumah petak pertama telah terbuka. "Baru pulang ya om Dey !?" Suara sopran wanita terdengar menyapaku dari dalam rumah petak pertama. "Iya, bu guru tumben cepat balik !?" Ucapku bertanya pada wanita berdaster yang sedang berdiri di pintu rumahnya. "Hmm... iya om kalau musim ujian semester biasanya seperti ini, cepat pulang." Jawabnya seraya menyilangkan tangan di dadanya. "Dik Yusti ke mana ya, dari tadi rumahnya tertutup !?" Tanyanya sambil menjulurkan kepalanya melihat ke arah deretan rumah yang di huni Yusti dan Musdar. Aku pura-pura tak mendengar ucapan bu guru dan terus saja membuka kunci pintu rumahku lalu melangkah masuk hingga ke bagian belakang yang menghubungkan rumahku dan rumah Yusti. "Hmm... pintu ini juga terkunci dari dalam, ke mana perginya Yusti dan Salsa." Gumamku sambil mendorong pintu belakang rumah Yusti. "Atau Musdar datang dan membawanya ke rumah orang tuanya." Gumamku kembali sambil membuka baju dan celana panjang menyisakan celana boxer lalu merebahkan tubuhku di atas springbed. Belum lama mataku terpejam, seseorang tengah mengetuk pintu rumahku dan memanggil namaku hingga membuat aku terlonjak terbangun. "Tok Tok... om Dey !?" Ucapnya dengan senyum saat tubuh kami hampir saja bertabrakan di depan kamarku. Wajahnya seketika bersimbuh merah saat sorot matanya tertuju pada bagian tubuhku dari d**a hingga tonjolan di balik celana boxer yang ku kenakan. "Iya bu guru ada apa !?" Tanyaku belum menyadari kondisi tubuhku yang setengah telanjang. "Ini saya bawa sup dan ikan buat om Dey !?" Ucapnya sambil menyodorkan mangkuk padaku, namun pandangannya pada dadaku. "Maaf sudah mengganggu istirahat om Dey !?" Sambungnya seraya melirik ke bagian bawah tubuhku. "Tidak apa bu guru, letakkan saja di atas meja itu." Ucapku seraya berjalan ke ruang belakang di ikuti oleh bu guru. "Terima kasih mangkuknya nanti aku balikin, bu !?" Ucapku dengan tersenyum padanya Saat hendak melangkah kakinya tersandung kesek hingga hampir menabrakku, refleks aku menopang dadanya yang kenyal membusung dan menahan pinggangnya. "Auugh..." "Mmaaf bu, iini saya tidak sengaja !? Ucapku dengan rasa malu seraya menarik tanganku dari d**a dan pinggangnya. "Tidak apa, aku juga nggak masalah... toh aku bersyukur ada om Dey yang menolong." Ucapnya dengan sorot mata yang nakal. "Di topang dua-duanya juga sama om Dey aku nggak masalah, apa lagi yang menopang itu !?" Ucap bu guru menunjuk tonjolan di balik celana boxerku. Seketika aku terperanjat saat baru menyadari keadaanku yang hanya mengenakan celana boxer tanpa di lapisi sempak. "Mmaaf.. Sorry... bu, aku tidak sengaja... jjadi dari tadi ibu lihat !?" Ucapku tergagap sambil menutup tonjolan di balik celana boxer dengan ke dua tanganku. "Tidak usah malu om Dey, kita sudah sama-sama dewasa dan sudah sangat paham hal yang seperti ini." Ucapnya seraya mengelus dadaku dengan jarinya telunjuknya membuat tonjolanku semakin membesar. "Tapi ibu... ibu ada suami... hentikan bu !!?" Ucapku pelan sambil berjalan masuk ke kamarku dan menutup pintunya. Sejenak aku berdiri di balik pintu dengan keringat dingin membasahi keningku, rasa was-was dan takut seketika menyeruak di dadaku. "Hhuh apa jadinya jika aku tak dapat mengendalikan diriku... bisa-bisa ada dua keluarga akan bercerai gara-gara aku melayani kemauan gila istri-istri tetanggaku... cukup Yusti saja, itu juga sudah terlanjur kami berbuat karana dia yang memulai menyerahkannya padaku saat aku tertidur." Bisikku dalam hati sambil mengucak rambutku. Derap langkah kaki bu guru terdengar ke luar dari rumahku dan tak berapa lama suara motor pak guru memasuki halaman kontrakan membuat aku lega dan kembali berbaring di atas springbed hingga menjelang sore. "Tok Tok Tok..." Suara ketukan pintu kembali membangunkan aku. "Assalamualaikum... kak Dey !!?" Ucap salam perempuan dari luar rumah. "Waalaikumsalam... tunggu !!?" Seruku sambil bergegas bangun dan melilitkan handuk di pinggangku. "Iya siapa !?" Tanyaku sambil menyalakan lampu dan membuka pintu rumahku. "Saya Musdalifa, kak !?" Serunya di balik pintu. "Maaf mengganggu kak, Yusti ke mana dari tadi saya ketuk pintu rumahnya tapi tidak ada jawaban, kak !?" Ucap wanita tersebut yang ternyata kakak Musdar. "Saya juga kurang tahu dik, tadi saat saya pulang dia sudah tidak ada... saya pikir dia ke rumah ibu kamu !?" Ucapku dengan alis bertaut. "Begini saja kak, tolong sampaikan pada Yusti jika di pulang suruh ke rumah saya... suaminya sedang sakit !?" Ucap dengan wajah merengut. "Baik dik, ada lagi yang ingin di sampaikan !?" Tanyaku menatap wanita bertubuh gempal di depanku. "Tidak itu saja !?" Ucapnya seraya memutar tubuhnya. "Dasar perempuan tidak tahu diri, tahu suaminya sakit dia mala pergi." Ucapnya menggerutu sambil melangkah pergi. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar ocehannya sambil menatap punggungnya berjalan ke luar dari halaman kontrakan dan aku pun menutup pintu rumahku lalu kembali ke dalam kamar. Mataku tertuju pada selembar kertas yang terletak di atas laptokku, aku lalu meraih dan membaca sebuah pesan dari Yusti. "Kak, aku ke rumah temanku Asniar dan rencananya aku menginap karena rencananya besok aku akan ke pengadilan agama untuk mengurus perceraianku. Jika Musdar kembali jangan beri tahu dia kalau aku di rumah Asniar dan kalau bisa setelah urusanku selesai kak Dey bisa ke sini. Sayang slalu, Yusti." Setelah membaca pesan dari Yusti aku lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diriku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN